Bisnis

Covid-19, Rizal Ramli: Pertanian Jadi Kekuatan untuk Hadapi Krisis Global

Oleh : very - Kamis, 19/03/2020 10:01 WIB

Ekonom Senior Rizal Ramli (istimewa)

 

Jakarta, INDONEWS.ID – Ekonom senior Dr. Rizal Ramli mengatakan, sektor pertanian mempunyai nilai ekonomi yang dapat membuat Indonesia bertahan dari ancaman krisis global, termasuk krisis yang ditimbulkan oleh pandemi virus corona (Covid-19) saat ini.

Hal itu karena sektor pertanian selalu menjadi kebutuhan sehari-hari, dan pengerjaannya juga tidak terlalu sulit. Rizal mengatakan, kita hanya membutuhkan waktu 3 bulan sebelum memanennya.

“Gunakan momen ini untuk menggenjot produksi pertanian seperti buah dan sayur-sayuran agar kita tidak melakukan impor,” kata Rizal dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) di sebuah televisi swasta, di Jakarta, Selasa (17/3/2020).

Meski begitu Rizal mengatakan, tidak semua daerah cocok untuk bertani. Bawang putih, misalnya, hanya cocok ditanam di Brebes dan Pati. “Kita bisa minta tolong Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk studi kecocokan tanah. Yang cocok bisa kami bantu kredit, bibit, dan pupuk, supaya produksi meningkat,” ujar mantan Menko Perekonomian era Gus Dur itu.

Di samping itu, saat ini Kementerian Pertanian (Kementan) juga telah membuka layanan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 50 triliun untuk peningkatan produksi pertanian. Program itu dilengkapi pula dengan layanan pembagian benih, bibit, subsidi pupuk, dan peningkatan akselerasi ekspor pertanian.

Mantan Menko Kemaritiman itu, mengatakan, jika produksi pertanian mampu meningkat tajam selama 3 kuartal, maka bukan tidak mungkin Indonesia menjadi negara pengekspor bahan pangan terbesar. “Kalau kita berhasil melewati krisis ini selama 3 kuartal, kita akan jadi eksportir,” ujarnya.

Rizal juga mengatakan, ekonomi Indonesia memang sudah terus anjlok, walau tidak terjadi pandemi Virus Corona. Hal itu, katanya, karena salah kelola, mabok utang dan pengetatan makro. Karena itu, ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 4% tahun 2020.

Kalau tindakan terhadap Corona itu efektif, maka ekonomi kita hanya akan anjlok minum 1%. Tapi jika tidak effektif, maka ekonomi akan anjlok -2% lagi.

Karena itu, untuk mengurangi dampak Corona terhadap ekonomi, kata Rizal, inilah saatnya untuk menggeser secara radikal dengan melakukan realokasi APBN 2020. “Stop (moratorium) proyek-proyek infrastruktur besar 2020. Harus berani, jangan gengsi. Alokasikan hanya untuk sektor kesehatan, makanan dan daya beli rakyat miskin,” ujarnya.

Indonesia, kata Rizal, bukan negara kaya, sehingga tidak boleh melakukan ‘macro pumping’ atau melakukan ‘buyback’ saham-saham BUMN lain. “Amerika saja yang negara kaya, melakukan pumping macro ratusan milyar dollar lewat FED ternyata tidak effektif, hanya kurang 2 jam index naik, habis itu anjlok,” ujar Rizal mengingatkan.

Karena itu, Rizal mengatakan, agar Indonesia belajar dari negara Korea Selatan yang dinilainya sukses dan efektif dalam menangani pandemi Corona. Negara itu telah belajar dari kasus SARS yang terjadi sebelumnya, dengan melakukan evaluasi terhadap langkah yang efektif dan menyiapkan SOP (Standard Operation Procedures). Karena itu, ketika serangan Corona datang, mereka tinggal menggunakan SOP yang ada tanpa perlu banyak rapat dan koordinasi. (Very)

 

Loading...

Artikel Terkait