Nasional

21 Juta Pengguna Ponsel Hilang, China Diduga Bohong soal Angka Kematian Akibat Corona

Oleh : Rikardo - Rabu, 01/04/2020 14:30 WIB

Foto memperlihatkan sejumlah orang berbaring di lapangan kota Frankurt, Jerman dalam aksi Demonstrasi mengenang 528 korban pembantaian di konsentrasi Nazi "Katzbach" di Jerman. Foto ini kemudian heboh dipakai sejumlah media ketika pertama kali wabah corona muncul di Wuhan China.

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Sebuah kabar mengejutkan datang dari China. Dikabarkan, sebanyak 21 juta pengguna ponsel di negara Tirai Bambu tersebut hilang tanpa jejak selama beberapa bulan terakhir.

Harian The Epoch Times melaporkan ada 21 juta pengguna ponsel di China tiba-tiba lenyap atau tidak aktif dalam beberapa bulan terakhir. Hal itu memicu dugaan korban meninggal karena pandemi corona di China jauh lebih tinggi dari angka yang dilaporkan pemerintah selama ini.

Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China pada 19 Maret lalu merilis data statistik terbaru pengguna ponsel di setiap provinsi di Negeri Tirai Bambu itu pada Februari 2020.

Dibandingkan data pada pengumuman statistik sebelumnya yang dirilis 18 Desember 2019 untuk periode November 2019, angka pengguna ponsel anjlok sangat besar yakni dari 1.601 miliar menjadi 1,51 miliar, turun 21 juta.

Pengamat China di Amerika Serikat, Tang Jingyuan kepada The Epoch Times 21 Maret lalu mengatakan rezim china mewajibkan semua warga memakai ponsel mereka untuk mendapatkan kode kesehatan.

"Rezim China mewajibkan semua warga memakai ponsel mereka untuk mendapatkan kode kesehatan. Hanya mereka yang memiliki kode kesehatan hijau dibolehkan bepergian di dalam negeri saat ini. Mustahil bagi seseorang untuk menghapus akun ponselnya," kata Tang Jingyuan, seperti dilansir laman Al Arabiya, Selasa (31/3).

Kode Kesehatan

Menurut Epoch Times, pemerintah China meluncurkan kode kesehatan berbasis ponsel mulai 10 Maret lalu. Semua warga diminta memasang aplikasi di ponselnya dan mendaftarkan informasi kesehatan mereka. Kode kesehatan itu bertujuan mencegah penyebaran virus corona.

Lalu aplikasi itu akan memberikan kode QR yang muncul dalam tiga warna menandakan level kesehatan si pengguna ponsel. Merah berarti dia terpapar penyakit menular, kuning berarti orang itu ada peluang terjangkit penyakit menular, dan hijau berarti dia tidak terjangkit penyakit menular.

"Pertanyaan besarnya adalah apakah turun drastisnya angka pengguna ponsel menandakan akun-akun ponsel itu sudah ditutup karena pemiliknya meninggal?" kata laporan Epoch Times.

"Saat ini kita tidak tahu seperti apa rincian datanya. Jika hanya 10 persen saja akun ponsel yang ditutup karena si pengguna meninggal lantaran virus, maka angka kematian akan mencapai 2 juta," ujar Tang kepada Epoch Times.

Pekan lalu, Direktur Administrasi Informasi dan Komunikasi Kementerian Industri dan Teknologi Informasi, Han Xia, mengatakan penurunan angka akun ponsel itu disebabkan berbagai sektor bisnis yang ditutup pada Februari karena mengikuti aturan karantina dari pemerintah.

Penurunan Sektor Bisnis?

Namun Epoch Times menuturkan angka kematian di China, misalnya bisa dibandingkan dengan di Italia "angka kematian di China tidak sesuai dengan situasi sebaliknya yang ada di sana."

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), angka kematian di Italia mencapai 10.781 dari 97.689 kasus dan di China 3.310 kematian dari total 82.447 kasus positif Covid-19.

Angka itu menunjukkan tingkat kematian di Italia mencapai 11,03 persen dan di China 4,01 persen, meski China memiliki jumlah populasi yang lebih banyak.

Epoch Times juga menyebut "ada tujuh rumah pemakaman di Wuhan yang dilaporkan mengkremasi mayat 24 jam sehari, tujuh hari sepekan, pada akhir Januari lalu" dan "Provinsi Hubei sudah mengerahkan 40 fasilitas krematorium yang masing-masing mampu membakar lima ton sampah medis dan mayat per hari, sejak 16 Februari,"

Selanjutnya Epoch Times mengatakan, "minimnya data menjadi misteri angka kematian sebenarnya di China. Terhapusnya 21 juta pengguna ponsel bisa menjadi dugaan angka kematian sebenarnya jauh lebih tinggi dari angka yang dilaporkan selama ini."*(Rikardo)

Loading...

Artikel Terkait