Opini

Sekolah Pamong

Oleh : luska - Senin, 25/05/2020 12:30 WIB


Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri periode 2010-2014 Djohermansyah Djohan

Oleh: Prof. Dr. Drs H. Djohermansyah Djohan, MA (Guru Besar IPDN, Dirjen Otda Kemendagri 2010-2015)

Jakarta, INDONEWS.ID - Hari ini tanggal 25 Mei, hari bersejarah bagi sekolah pamong.

Dulu, selalu diperingati sebagai hari dies natalies  IIP yang bersamaan dengan hari jadi Lemhannas RI. Orasi ilmiah guru besar membedah persoalan pelik pemerintahan diperdengarkan untuk menunjukkan eksistensi sekolah. Menteri Dalam Negeri kerap sekali hadir dan menyimak orasi dengan teliti.

IIP pengembangan dari sekolah pamong Osvia, Mosvia, KDC, dan APDN. Tujuannya untuk mencetak praktisi pemerintahan yang sarjana, berilmu. STPDN dan IPDN, dan entah apa lagi namanya nanti adalah kelanjutan dari IIP.

Roh dari sekolah pamong yang dibiayai dari uang rakyat itu adalah, kader-kadernya dicetak untuk mengayomi rakyat: melindungi, menyelamatkan, menenteramkan memudahkan dan mensejahterahkan rakyat.

Karna itu, materi ajarnya sarat dengan soal melayani, mengurus, dan memajukan rakyat dan tunjuk ajarnya penuh dengan perilaku good man, bukan bad man, layaknya seorang kesatria.

Pengembangan kekuatan pikir praja lebih ditonjolkan dari pada kekuatan fisik. Pengembangan perilaku moral tinggi bagi praja suatu _conditio sine qua non._
 
Buku-buku Budi dan Kekuasaan menjadi bacaan wajib, sebab kekuasaan tanpa budi luhur akan hancur!

Ke depan seiring dengan era _new normal_, pendidikan sekolah pamong kita mesti ditata ulang, tidak hanya kurikulum dan pola pengasuhannya sesuai model _school for the ruler,_ tetapi juga rekruitmen praja dan pengelola sekolahnya harus dari putra-putra terbaik bangsa.

Saya bermimpi di suatu hari nanti, alumni sekolah pamong akan *menjadi orang nomor satu di negeri ini*. 

Dia berpengetahuan mendalam tentang kepemerintahan, pengabdi rakyat yang setia, berbudi luhur, dan bermental serta berfisik kuat. 

Semoga...

 

Artikel Lainnya