Bisnis

Ini Dua Prediksi Rizal Ramli yang Terbukti Benar

Oleh : very - Minggu, 05/07/2020 18:01 WIB

Ekonom Senior Rizal Ramli (istimewa)

Jakarta, INDONEWS.ID --- Ekonom senior pernah memprediksi dua hal, yang kemudian terbukti benar. Pertama yaitu tentang utang Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang membengkak akibat proyek listrik 35 ribu megawatt (MW). Kedua terkait nilai tukar rupiah yang anjlok. Dua hal ini kemudian terbukti benar.

Kita urai hal tersebut satu demi satu.

Pertama, masalah membengkaknya utang yang dialami PT PLN. Hal itu ternyata sudah pernah diprediksi oleh Rizal Ramli saat masih menjabat sebagai Menko Maritim dan Investasi di Kabinet Jokowi periode pertama.

Waktu itu, mantan mantan Menko Perekonomian itu melancarkan kritik keras pada proyek kelistrikan 35 ribu megawatt (MW).

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini waktu itu, mengakui bahwa utang PT PLN (Persero) semakin membesar dalam lima tahun terakhir hingga mencapai Rp 500 triliun karena digunakan untuk pembangunan infrastruktur kelistrikan. Salah satunya adalah pengerjaan proyek 35.000 MW. 

Zulkifli mengatakan, PT PLN melakukan utang karena tidak memiliki pendapatan yang cukup, sehingga utangnya membengkak setiap tahun.

"Lima tahun terakhir ini PLN membiayai investasinya itu dengan utang. Sehingga lima tahun yang lalu utang PLN secara minimal nggak sampai Rp 50 triliun. Tapi karena utang tiap tahun Rp 100 triliun Rp 100 triliun, ya maka utang PLN di 2019 kemarin mendekati Rp 500 triliun," kata Zulkifli dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Komisi VI DPR RI, Kamis, (25/06/2020).

Saat utang PT PLN belum mencapai Rp 50 triliun pada 2014, Rizal Ramli sebenarnya sudah mewanti-wanti pemerintah untuk tidak melanjutkan mega proyek listrik 35 ribu megawatt (MW) tersebut. Namun, Rizal Ramli malah mendapat serangan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Menteri ESDM Sudirman Said. 

Mereka mengatakan bahwa Rizal Ramli tidak tahu apa-apa dan bukan tupoksinya. 

"Media mainstream TV, Koran dan media online ikut ‘menyerang’ RR sebagai Menteri tukang heboh. Lucunya Presiden Jokowi yang ‘membujuk` RR menjadi Menko, malah tidak berani membela RR dari serangan tersebut,” ujar Rizal Ramli seperti dikutip KATTA.ID. 

Kini, apa yang terjad? Negara terlilit utang yang sedemikian besar, hampir seperempat APBN. Potensi gagal bayar bisa merontokkan negeri ini.

"Lalu siapa yang diminta pertanggungjawaban? Padahal sudah diingatkan oleh RR sewaktu menjabat Menko,” ujar Rizal Ramli.

Kedua, prediksi Rizal Ramli pada utang. Pendiri lembaga think thank Econit itu sempat memberikan analisa terkait kondisi perekonomian Indonesia. Salah satunya yaitu soal penguatan nilai tukar rupiah di tengah tekanan ekonomi dalam negeri.

Rizal mengatakan salah satu faktornya adalah karena Amerika Serikat (AS) sedang mencetak banyak uang karena memberikan stimulus ekonomi nasional hingga US$ 2 triliun.

Menurut mantan Menko Kemaritiman itu, hal tersebut membuat mata uang negara lain seperti Indonesia mengalami penguatan yang semu. 

"Semua indikator makro ekonomi ini negatif, tapi kok rupiah stabil? Menurut saya ini terjadi karena dua hal, satu di Amerika sana mereka sedang nyetak uang besar sekali. Stimulus terakhir di sana US$ 2 triliun, akibatnya mata uang dollar anjlok, mata uang lain jadi kuat. Ini stabilitas semu," ujar Rizal dalam diskusi publik The Magnificent Seven yang disiarkan di YouTube, Senin (29/6/2020).

Teryata hal itu juga benar. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) jatuh, pada Jum’at (3/7/2020). Waktu itu mata uang rupiah ditutup melemah 145 poin atau 1,01 persen menjadi Rp 14.523 per dolar AS dari sebelumnya Rp 14.378 per dolar AS. (Very)

 

Loading...

Artikel Terkait