Nasional

Rizal Ramli, Mutiara Tak Ternilai yang Sayang Bila Tidak Dimanfaatkan Jokowi

Oleh : very - Senin, 10/08/2020 16:01 WIB

Ekonom Senior Rizal Ramli. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID --- Kalangan pengusaha nasional baik dari pribumi maupun pengusaha Tionghoa, mengharapkan pemerintah agar bisa merekrut figur yang tepat untuk mengatasi krisis ekonomi saat ini. Salah satu tokoh tersebut yakni ekonom senior Rizal Ramli agar duduk dalam kabinet Presiden Jokowi.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) Jose Rizal mengatakan, sosok Rizal Ramli sangat tepat menjadi salah satu pembantu Presiden Jokowi.

Figur tersebut kata dia adalah sosok yang memiliki kredibilitas dan track record yang diakui baik di level nasional, regional maupun internasional.

“Bangsa ini membutuhkan sosok yang punya pengalaman dalam penyelamatan ekonomi. Bukan figur yang tiba-tiba muncul,” ujar Jose Rizal, Minggu (8/8).

Menurutnya, sosok Rizal Ramli memiliki kompetensi yang tidak diragukan lagi. “Beliau ekonom senior, dengan kompetensi yang tidak diragukan. Semua yang punya itikad baik untuk membantu pemerintah mengatasi masalah ekonomi, harus kita dukung apalagi tokoh sekaliber Rizal Ramli,” ujarnya seperti dikutip Konforontasi. com.

Untuk itu Ketua Umum Asprindo tersebut berharap agar Presiden Jokowi kembali melibatkan Rizal Ramli dalam tim penyelamatan ekonomi nasional.

Jose Rizal mengatakan bahwa dalam menyikapi situasi negara di ambang resesi akibat pandemi Covid-19, semua komponen bangsa harus bersatu dan bahu-membahu menggerakkan usaha agar roda perekonomian tetap berjalan.

“Lupakan perbedaan pandangan politik atau perbedaan-perbedaan lainnya. Yang dibutuhkan negara kita saat ini adalah kontribusi nyata,” ujarnya.

Lebih lanjut Jose Rizal menyebutkan bahwa saat ini yang paling terdampak akibat anjloknya pertumbuhan ekonomi adalah pengusaha di level UMKM.

“Pengusaha besar punya berbagai cara untuk mengatasi resesi tetapi tidak demikian dengan UMKM. Mereka membutuhkan keberpihakan pemerintah. Tanpa itu, usaha mereka mati. Karena itu, kami sangat berharap pemerintah memprioritaskan UMKM dalam hal pengucuran stimulus ekonomi. Jangan sampai salah sasaran,” ujarnya.

Senada dengan itu, akademisi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menilai sosok ekonom senior Rizal Ramli merupakan yang paling kompeten untuk mengatasi krisis ekonomi yang terjadi di tengah hantaman pandemik Covid-19 seperti saat ini.

“Rizal Ramli sangat mumpuni atasi krisis ekonomi karena kredibilitas dan pengalamanya,” kata analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun seperti dikutip Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (7/8).

Ia mengaku cukup memahami argumentasi yang kerap disampaikan mantan Menteri Koordinator bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri tersebut bahwa cara pemerintahan Jokowi dalam mengatasi krisis ekonomi kerap keliru.

“Hal itu terlihat dari pembengkakan hampir 100 persen dari rencana anggaran penanggulangan ekonomi saat ini akibat Covid-19. Yang tadinya sekitar 600 triliun sekarang kurang lebih hampir 1000 triliun, tetapi angka pertumbuhan ekonomi justru minus 5 persen lebih,” ujar Ubedilah.

Karena itu, Ubedilah meyakini gagasan yang dimiliki Rizal Ramli bisa membantu pemerintah dalam menyelesaikan persoalan ekonomi.

“Gagasannya sangat pro rakyat bawah, pilar utama ekonomi Indonesia, tidak memanjakan, menyuntik BUMN dan swasta oligarki,” jelas Ubedilah.

Salah satu kekeliruan besar Jokowi, katanya, adalah tidak mengangkat Rizal Ramli menjadi menteri ekonominya pada periode kedua. “Itu pun syaratnya Jokowi harus ikuti gagasan Rizal Ramli, jangan ikuti para oligarki dan pengkhianat bangsa. Itu syarat utamanya,” ujar Ubedilah.

 

Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi

Sementara itu Henrykus Sihalohov dalam surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo, yang disampaikannya melalui Twitternya, juga meminta Presiden Jokowi untuk mengangkat Rizal Ramli dalam jajaran kabinet Jokowi.

“Dua puluh thn lalu (23-8-2000) Pres Abdurahman Wahid melantik @RamliRizal jadi Menko Ekuin. Lima thn  lalu (12-8-2015) Pres @jokowi mengangkat RR jadi Menko Maritim. Demi Tuhan & rakyat yg berkehendak baik, meski hrs bersimpuh di kaki Bpk, sy mohon Bpk di bulan ini berbuat sama lg,” tuit Hendrykus.

Dia mengatakan, pada lima tahun yang lalu (12 Agustus 2015), ketika Presien Jokowi melantik Rizal Ramli  menjadi Menko Kemaritiman dan Sumber Daya, mereka merasakan kebahagiaan.

“Tidak hanya di depan teman-teman sekerja, kami juga menceritakan kebahagiaan kami yang luar biasa itu kepada sejumlah keluarga.  Kami juga menyampaikan kebahagiaan kami itu di akun Facebook.  Sayang sekali, usia kebahagiaan itu berumur pendek,” ujarnya.

Dia mengatakan kali ini, pihaknya kembali meminta Presiden Jokowi agar kembali mengangkat Rizal Ramli duduk dalam jajaran kabinet Indonesa Maju. Dikatakannya bahwa Rizal Ramli mempuyai kemampuan luar biasa.

“Kami semakin terkagum-kagum manakala mengetahui kritik beliau mengenai proyek ambisius listrik 35.000 MW, inefisiensi pembelian pesawat jumbo oleh Garuda Indonesia, dan mega korupsi di Pelindo II menemukan kebenarannya. Faktanya, tahun 2018 Garuda Indonesia merugi Rp2,45 trilyun dan audit BPK menyebut empat proyek Pelindo II menyebabkan kerugian Rp6 trilyun,” ujarnya.

Dia mengatakan, Rizal Ramli tidak aneh-aneh. Akademisi dan ekonom sekelas Profesor Anwar Nasution yang lulusan Universitas Harvard, mantan Deputi Gubernur Senior BI, dan mantan Ketua BPK pun mendengarkan beliau. Buah manisnya, Bank BII selamat tanpa kucuran dana talangan.

Selain itu, ada sejumlah sepak terjang Rizal Ramli saat membenahi Bulog hingga untung Rp5 trilyun. Dia ikut pula menyelamatkan PLN dari kebangkrutan dengan revaluasi aset, membuat PT Semen Gresik meraih laba dari Rp1,3 trilyun menjadi Rp1,8 trilyun, dan lain-lain.

“Kami sampai pada kesimpulan bahwa beliau adalah praktisi dan ekonom dengan segudang akal yang tidak pernah kering. Kami sangat menyayangkan bila ‘mutiara’ yang tidak ternilai ini Bapak sia-siakan,” ujarnya dalam surat kepada Presiden Jokowi itu.

Dia menyadari memang tidak mudah memasukkan Rizal Ramli dalam tim kabinet dengan orang-orang berbeda. “Namun menurut kami itulah tantangan bagi seorang pemimpin lantaran sebagai pemimpin ia bukan hanya menjalankan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) manajer yang sifatnya ‘do things right’, tetapi juga tupoksi pemimpin yang ‘do the right things’,” ujarnya. (Very)

Loading...

Artikel Terkait