Bisnis

Rizal Ramli: Grafik Ekonomi Indonesia Seperti Huruf "W", Anjloknya Bisa Lama

Oleh : very - Sabtu, 24/10/2020 10:43 WIB

Ekonom Senior Rizal Ramli dalam acara diskusi ILC yang digelar oleh TVONE, pada Selasa (20/10). (Foto: ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Kondisi ekonomi di masa pandemi Covid-19 berdampak hampir pada semua sektor ekonomi di Indonesia. Bahkan kini Indonesia telah memasuki masa resesi.

Pakar ekonom senior Rizal Ramli mengatakan bahwa ekonomi Indonesia di tengah situasi pandemi ini tidak lebih baik dari kondisi krisis pada tahun 1998. Pasalnya, ada 44 perusahaan asuransi sekuritas yang saat ini gagal bayar yang akhirnya berdampak pada ekonomi secara signifikan.

"Ini ibarat petinju kena pukulan langsung goyang. Jadi ini akan lebih sulit, karena pemerintah tidak efektif. Dan ini grafiknya seperti huruf `W` anjloknya bisa lama," ujar Rizal Ramli dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) bertajuk “Setahun Pemerintahan Jokow-Maruf: Dari Pandemi ke Demonstrasi” yang ditayangkan Selasa (20/10) malam.

Karena itu, Rizal menyarankan agar pemerintah menghentikan sejumlah proyek infrastruktur seperti jalan tol. Dengan demikian, pemerintah mempunyai cukup uang untuk mendanai penanganan Covid-19.

Rizal juga melihat, dari sejumlah realokasi yang dilakukan kementerian dan lembaga, ada beberapa bagian yang tidak tepat pemanfaatannya.

"Jadi kita tidak profit dan malah negatif. Karena tidak ada menteri di kabinet Jokowi yang punya pengalaman, yang ada tuh skandal-skandal. Ditambah bunga hutang kita yang besar," ujar mantan Menko Perekonomian di era Presiden Gus Dur itu.

Dia menilai, semestinya di saat-saat pandemi, pemerintah memprioritaskan tiga hal. Pertama, penanganan Covid-19 dari sisi kesehatan. Ia menyebut penanganan ini setidaknya membutuhkan anggaran Rp300 triliun.

"Jadi hajar habis-habisan. Agar ekonomi kita bisa pulih," ujarnya.

Kedua, pemberian bantuan kepada masyarakat yang berada di kelas ekonomi bawah. Setidaknya, menurut dia, pemerintah membutuhkan anggaran Rp300 triliun untuk menghidupi rakyat selama enam bulan ke depan.

Ketiga, pemerintah harus serius meningkatkan produksi pangan. Rizal mengatakan program ini membutuhkan anggaran Rp200 triliun atau lebih kecil dari fokus lainnya. "Jadi ini bisa efektif," ujarnya.

Untuk itu, mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman ini menyatakan, pandemi Covid-19 bukan menjadi faktor penyebab perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Adanya kondisi negatif ekonomi negara lebih disebabkan karena tata kelola yang kurang tepat dari tim ekonomi pemerintah.

"Karena infrastruktur itu tidak langsung terkait dengan kegiatan rakyat, misalnya di Papua dan Kalimantan. Sudah gitu bayarnya pakai hutang malah jadi beban. Jadi pemerintah harus membedakan cara memperbaiki ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," pungkasnya. (Very)

 

 

Loading...

Artikel Terkait