Gaya Hidup

Virtual Fashion Show ISEF 2020, Berikut Beberapa Gambaran Koleksi dari Designer

Oleh : Marsi Edon - Kamis, 29/10/2020 17:55 WIB

Mode Fashion karya desainer Ade Cahya.(Foto:Istimewa)

Jakarta, INDONEWS.ID - Pelaksanaan Virtual Fashion Show Modest Fashion ISEF 2020 tengah berlangsungg mulai hari ini 28 sampai 31 Oktober mendatang. Adapun tema kegiatan yang diusung kali ini yakni "Sustainable Fashion Sustainable Lifestyle.

Sebelum menampilkan beberapa jenis mode fashion, para desainer menjelaskan beberapa konsep tentang hasil karya mereka. Para desainer memaparkan tentang gambaran koleksi hasil karyanya secara virtual. Jakarta, Kamis,(29/10/2020)

Berikut adalah beberapa koleksi dan gambaran karya desainer yang ada dalam rangkaian kegiatan ISEF 2020.

VIVIZUBEDI akan menampilkan koleksi eksklusif bertema Archipelago series “HUMBANUA” yang menggabungkan kain dari dua daerah, yaitu kain sasirangan khas Borneo dengan motif sarat makna filosofis dan tenun Sumba yang menggambarkan kekuatan dan keramahan masyarakat Sumba. Potongan busana dibuat mengikuti tren padu-padan masa kini.

Wignyo akan menampilkan koleksi bertema “Monochrome” dengan menggunakan material tenun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) motif Houndstooth yang dibuat oleh para perempuan perajin tenun di Sukabumi, Jawa Barat. Motif tenun ini identik dengan warna monokrom yang menciptakan kesan modern sekaligus dinamis sesuai selera pasar global.

Agung Bali Collection akan menampilkan koleksi bertema “Weaving Heritage” dengan menuangkan kain tradisional Bali yaitu “Endek Seseh” dan “Endek Ikat” dengan meng-highlight motif heritage dan warna natural hasil pewarna alam yang sesuai dengan pasar Eropa.

Adhy Alie akan menampilkan koleksi bertema “Terpikat Ikat” yang menyatukan ragam tenun ikat yang kaya akan warna dan motif yang menarik dengan teknik patchwork. Diwujudkan dalam rancangan modern berupa medium dan long coat.

Roemah Kebaya Vielga akan menampilkan koleksi bertema “Dramatic Blossom” dengan mengangkat tradisi busana wanita Indonesia, yaitu modifikasi kebaya. Keunggulannya ornamen bordir bunga yang dikerjakan dengan mesin manual oleh para perempuan pengrajin bordir di Payakumbuh, Sumatera Barat.

Thiffa Qaisty akan menampilkan koleksi bertema “DARA” terinspirasi dari kebaya Melayu, Riau, yang dimodifikasi dengan sentuhan modern. Menggunakan tenun Siak dan batik Riau berbahan viscose yang disempurnakan dengan detail beads dan Swarovski serta sulaman tangan.

Designer memadukan tenun dan viscose untuk menggabungkan potensi daerah yang ada di Riau. Viscose merupakan salah satu serat ramah lingkungan dan Riau merupakan produsen viscose terbesar di dunia. Dengan mengambil trend forecasting 2020/2021 yaitu SPIRITUALITY dan konsep mix and match menghasilkan look yang berkarakter urban dan futuristic.

IR & IR akan menampilkan koleksi bertema “Matari” yang mengeksplorasi kain tradisional songket Deli dalam busana hasil adaptasi kultur Melayu Deli dengan sentuhan modern dan simplicity.

Ina Priyono akan menampilkan koleksi bertema “Portionate” dengan menggunakan batik tulis Lasem yang setiap motifnya merupakan hasil akulturasi dari budaya Cina dan Jawa serta sentuhan bordir yang diaplikasikan dalam desain yang simple dan elegan.

Defika Hanum akan menampilkan koleksi bertema “Adventurous” dengan proses pengolahan bahan secara tradisional yang dituangkan dalam busana berkarakter urban, aktif, dan modern. Keunggulannya inovasi batik tulis motif abstrak dengan menggunakan goresan kuas yang dibuat oleh pembatik di Kulon Progo dan Magelang, Jawa Tengah.

Anggia akan menampilkan koleksi bertema “Equilibrium” dengan konsep daur ulang. Denim garmen yang reject, cacat, dan over stock dari industri lokal dikombinasi tekstil yang ramah lingkungan seperti katun bambu dan tenun tradisional dengan detail berupa symmetric-asymmetric, teknik manipulasi unfinished, patchwork fabric, dan denim washing technique.

rorokenes akan menampilkan koleksi artisan leather bags dengan tema “Urban Weaving” yang menggunakan material kulit pada motif anyaman gedek (anyaman bambu yang biasa ditemui di pedesaan di Jawa Tengah, digunakan sebagai dinding rumah hingga keranjang). Bahan baku kulit yang digunakan berasal dari pabrik yang telah memiliki sertifikasi ISO resmi dari pemerintah. Sampah atau sisa bahan diupayakan kurang dari 3%, dan sisa bahan yang dapat didaur ulang disumbangkan kepada sesama pengrajin.

Beadstown akan menampilkan koleksi aksesoris kalung dan anting yang terinspirasi dari canting (alat untuk membatik). Konsep desainnya adalah bentuk canting, lembaran kain, goresan tinta dari canting, seperti lengkung, titik dan garis dengan style etnik kontemporer, simple, dan dinamis. Bahan yang digunakan adalah kuningan dan tembaga, dengan eksplorasi material dari alat elektronik yang sudah tidak berfungsi lagi, seperti pipa mesin penyejuk ruangan. Semoga langkah kecil ini bisa menjadi bagian dari sustainable fashion.

Bahalap Handicraft akan menampilkan koleksi kalung dan gelang etnik Dayak yang terbuat dari bahan manik cornelin batu alam. Dulu aksesoris Dayak dipakai oleh kalangan bangsawan Dayak untuk acara tertentu. Setelah berkembangnya jaman telah dipakai oleh seluruh kalangan hingga mancanegara. Aksesoris Bahalap dibuat dengan melibatkan ibu-ibu rumah tangga untuk menambah perekonomian keluarga.

PALA Nusantara akan menampilkan koleksi aksesori berupa jam tangan yang mengeksplorasi inspirasi dari keragaman budaya Nusantara seperti warna, motif, dan simbol kultural yang dikembangkan dalam balutan desain modern, minimalis, sekaligus fungsional.*

 

 

Loading...

Artikel Terkait