Opini

Pilkada Mabar yang Bermartabat dan Harapan Masyarakat Mencari Pemimpin Ideal

Pilkada Mabar 2020 dan Upaya Mencari Pemimpin Ideal sesuai Harapan Masyarakat

Oleh : Rikard Djegadut - Rabu, 04/11/2020 19:30 WIB


Konsi Kender S.H Advokat (Foto: Ist)

Oleh: Konstantinus Kender, S.H. (Advokat, Asal Manggarai Barat)

Opini, INDONEWS.ID - Gong demokrasi telah tabuh. Proses mencari pemimpin Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) melalui Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) telah dimulai.

Hal itu ditandai ketika Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Mabar menetapkan para pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati (Cabup dan Cawabup) pada tanggal 23 September yang lalu.

Gemanya pun membahana ke sudut-sudut pelosok Manggarai Barat hingga ke daerah lainnya, baik di media-media sosial maupun di warung-warung kopi. Tak terkecuali tua, muda, perempuan, laki-laki--semuanya dalam setiap kesempatan selalu memperbincangkannya.

Fenomena ini tentu saja membuktikan bahwa animo masyarakat Mabar terhadap peristiwa politik, apalagi yang berkaitan dengan Pilkada memang lumayan besar.

Ada Ekspektasi yang tinggi dari masyarakat Mabar terhadap Pilkada 2020. Masyarakat berharap agar pemimpin yang terpilih nanti dapat membawa perubahan bagi kesejahteraan dan kebahagiaannya. Harapan itu tentu tertumpu pada mereka yang sudah ditetapkan oleh KPUD Mabar sebagai pasangan calon bupati dan wakil bupati.

Untuk diketahui dan menjadi perhatian publik adalah pasangan calon yang sudah ditetapkan ada 4 pasangan calon bupati dan wakil bupati (Paslon Cabub-cawabup) Pilkada Mabar 2020.

Mereka antara lain pasangan nomor urut 1, Pantas Ferdinandus yang berpasangan dengan Andi Rizki Nur Cahya. Pasangan yang membaptis dirinya dengan sebutan Pantas-Rizki ini didukung 3 partai yakni Partai Demokrat, PKS dan PPP.

Pantas Ferdinandus adalah seorang birokrat yang lama berkarier di Kabupaten Manggarai, dan sudah dua kali maju sebagai calon Bupati Mabar. Walaupun dua kali gagal, Pak Ferdi panggilan akrab untuk Pantas Ferdinandus ini tidak patah arang. Pria kelahiran Coal, Ndoso ini kembali maju untuk ketiga kalinya.

Kali ini berpasangan dengan Andi Rizki, seorang anggota DPRD Mabar periode 2019-2024. Tagline dari pasangan ini adalah MASMUR (Maju, Aman, Sejahtera, Makmur, Unggul, Responsif) tentu dengan segala visi dan misi dan program kerjanya bisa dibaca di berbagai media sosial lainnya.

Kedua, pasangan nomor urut 2, Maria Geong yang berpasangan dengan Silverius Sukur. Paslon ini diusung 4 partai yakni PDIP, PKB, GERINDRA dan PERINDO. Pasangan ini membaptiskan dirinya dengan sebutan MISI.

Kehadiran Maria Geong hendak mematahkan stigma yang selama ini berlaku dalam budaya patrilineal Bumi Nucalale bahwa perempuan harus selalu di dapur. Budaya patrilineal Manggarai yang sangat kuat, yang menganggap perempuan itu harus di dapur, dan ‘ata lonto one lutur’ (yang bicara, menentukan, memutuskan, memimpin) adalah laki-laki.

Sehingga, dengan terpilihnya Ibu Mia, sebutan akrab untuk Maria Geong sebagai wakil bupati Mabar 2015 mendampingi Bupati Gusti Dula, adalah bukti bahwa Perempuan Manggarai tidak harus selalu di dapur.

Ada saatnya dia harus ‘lonto one lutur’ untuk menentukan, memutuskan segala sesuatunya. Sesuai dengan namanya Geong, beliau adalah perempuan pertama kelahiran NTT yang menduduki posisi politik paling tinggi sebagai wakil bupati.

Wanita kelahiran Ranggu ini adalah sorang dokter hewan dan sudah mendapat gelar doctoral. Pintar, humble seperti ibu lainnya, orator, itu adalah Ibu Mia.

Jabatan yang diembannya saat ini sebagai wakil bupati adalah modal politik yang besar baginya untuk loncat menjadi bupati. Sedangkan wakilnya, Silverius Sukur adalah politisi PDIP yang sudah tiga periode menjadi anggota DPRD Mabar.

Tagline dari pasangan ini adalah “Mabar 10 Bebas" (kemiskinan, kebodohan, penyakit, sampah, dan seterusnya), dengan segala visi dan misi serta program kerjanya yang bisa dibaca di berbagai media sosial lainnya.

Berikutnya adalah pasangan nomor urut 3, Edistasius Endi berpasangan dengan Yulianus Weng. Paslon ini diusung oleh Partai NASDEM, GOLKAR, PKPI dan PBB.

Pasangan Nomor urut 3 ini membaptiskan dirinya dengan sebutan EDI-WENG. Edi Endi sebutan akrab untuk Editasius Endi adalah termasuk
salah satu politisi kawakan Manggarai Barat yang malang melintang di beberapa partai politik.

Sebut saja partai pertama yang dilabuhinya adalah Partai PELOPOR dan terpilih sebagai anggota DPRD Mabar dari partai tersebut untuk periode 2009-2014.

Kemudian pada pemilu 2014, Edi Endi pindah ke Partai Golkar dan terpilih sebagai anggota DPRD Mabar dari Partai Golkar dengan perolehan suara pribadi terbanyak dari daerah pemilihan tiga (Lembor Raya) yaitu sebanyak 3600 suara.

Berkat suaranya ini, Ia sukses membawa Partai Golkar memenangi pemilu DPRD Mabar Tahun 2014 dengan jumlah lima kursi, dan dari dapil tiga ada dua kursi untuk GOlKAR.

Pada pemilu 2019, Edi Endi pindah ke partai NASDEM dan ditunjuk langsung oleh DPP NASDEM menjadi ketua Partai Nasdem Manggarai Barat. Edi Endi pun terpilih sebagai anggota DPRD Mabar dengan perolehan suara pribadi tertinggi dari setiap calon anggota DPRD Manggarai Barat.

Nasdem menjadi partai pemenang pemilu 2019 di Mabar dengan perolehan suara lima kursi di DPRD. Sesuai dengan Undang-Undang MD3, bahwa partai pemenang pemilu berhak untuk menjadi ketua DPRD, dan Edi Endi pun terpilih sebagai Ketua DPRD Mabar.

Pria kelahiran Kakor Lembor yang sangat humanis dan selalu turun ke bawah ini sepertinya ingin mengabdi lebih tinggi lagi yaitu menjadi Bupati.

Bermodalkan lima kursi DPRD dan tinggal mencari satu kursi lagi untuk memenuhi syarat electoral 20 persen kursi DPRD sebagai syarat
pencalonan bupati tidak terlalu sulit bagi pria yang selalu bergerak cepat ini untuk mendapatkannya. GOLKAR, PKPI dan PBB pun merapat kepadanya.

Edi Endi pun bersanding dengan Yulianus Weng, seorang dokter yang berkarir sebagai pegawai negeri sipil. “Mabar Bangkit," itulah tagline yang selalu disampaikan dalam setiap kampanye dari pasangan ini. Tentu dengan segala visi, misi dan program kerja yang bisa dibaca diberbagai media online.

Terakhir adalah pasangan nomor urut 4, Andreanus Garu berpasangan dengan Anggalinus Gapul yang diusung oleh Partai HANURA dan PAN. Pasangan ini membaptiskan dirinya dengan sebutan AG.

Sebelum maju sebagai calon bupati Mabar, Andre Garu adalah senator, mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Propinsi NTT periode 2014- 2019.

Pria asal Lentang, Kabupaten Manggarai ini sangat dekat dengan banyak kalangan di Mabar. Modal kedekatan tersebut walaupun berasal dari Kabupaten Manggarai, Andre Garu maju berpasangan dengan Anggalinus Gapul, seorang mantan Kepala Dinas Pertanian Mabar asal daerah Kolang Kuwus.

Tagline yang selalu mereka dengungkan adalah ‘Ase Kae daku taung,’ saudara saya semua, dengan segala visi dan misi dan program kerjanya yang bisa dilihat di berbagai media sosial.

Potensi Mabar dan Ciri Pemimpin Ideal

Pemimpin seperti apa yang dicari, tentu harus diketahui terlebih dahulu apa persoalan yang mendasar di Mabar. Kemudian apa kebutuhan masyarakat Mabar serta apa potensi Mabar yang dapat dikembangkan untuk menjawab persoalan dan kebutuhan yang mendasar tersebut.

Sebagai masyarakat Mabar, tentu sangat bersyukur kepada Tuhan yang maha pencipta atas anugerah alam yang sangat indah untuk bumi Nusa Lale bagian barat ini.

Tanah Watu Manggar ini dipenuhi oleh gugusan pulau-pulai kecil yang sangat indah. Alam bagian barat Pulau Flores ini juga dipenuhi dengan tempat-tempat yang sangat menawan dan sangat subur.

Belum lagi ada buaya darat (Veranus komodoensis) salah satu binatang langka yang tidak ada di tempat lain di dunia ini, selain hanya ada di Mabar dan telah didaulat oleh UNISCO sebagai warisan dunia yang harus dijaga kelestariannya (New Seven Wonders of The World).

Kekaguman akan keindahannya itu sehingga tidak sedikit masyarakat mengkontemplatifkannya, bahwa Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakan Tana Mbate ini.

Masyarakat dunia penasaran dan terhipnotis untuk merasakan keindahannya. Sejak diakuinya buaya komodo sebagai salah satu tujuh keajaiban baru dunia, angka kunjungan wisatawan baik wisatawan manca negara maupun domestik ke Mabar setiap tahunnya terus meningkat.

Data berbagai sumber menunjukan bahwa, kunjungan wisatawan tahun 2016 sebesar 83.712 wisatawan, dan angka ini terus meningkat rata-rata di atas 35 persen setiap tahunnya. Pada tahun 2019 wisatawan ke Labuan Bajo meningkat sebesar 184.206 wisatawan.

Kenaikan angka ini tentu menjadi suatu kebanggaan bagi masyarakat Mabar. Tetapi apakah angka-angka ini merupakan angka target atau angka kepuasan bagi Manggarai Barat? Pernahkah dilakukan suatu kuisioner tentang kepuasan wisatawan? Adakah data yang menyebutkan
wisatawan yang pernah datang lalu kembali datang? Atau jangan-jangan promosi wisata Mabar selalu mencari “korban”?

Seorang musisi asal Mabar yang selalu mendendangkan musik dan lagu-lagu etnik NTT khususnya Etnik Manggarai sebagai salah satu upayanya mempromosikan wisata Mabar pernah mengatakan, bahwa ia pernah berbincang dengan beberapa wisatawan asing, bahwa pada dasarnya mereka tidak ingin untuk datang kembali ke Labuan Bajo.

Tidak ada suatu hal yang membuat mereka rindu untuk kembali. Testimony seorang musisi itu tentu harus menjadi perhatian bagi pemerintah Mabar yang akan datang bagaimana membangun sarana dan prasarana di tempat-tempat pariwisata, jangan sampai wisatawan kesulitan tempat hanya untuk “buang air kecil apa lagi" buang air besar”.

Kota Labuan Bajo harus dibangun sebersih dan seasri mungkin, sehingga tidak memberikan kesan kota yang gersang dan kotor. Kotanya dibuat senyaman mungkin agar wisatawannya mau berlama-lama di Mabar, dan akan selalu rindu untuk kembali.

Jangan sampai berlama-lamanya di Bali, tetapi ke Tanah Mabarnya hanya ‘detak’ (sebentar) dan rindu kembalinya pun bukan ke Labuan
Bajo tetapi ke Bali. Kota Labuan Bajo jangan alergi dengan kota yang berkemajuan yang menyediakan fasilitas-fasilitas untuk orang berbelanja.

Pemerintah pusat sudah sangat memperhatikan Mabar dengan ditetapkannya Labuan Bajo sebagai salah satu dari destinasi wisata Lima Bali Baru bersama empat daerah lainnya yaitu, Danau Toba, Borobudur, Mandailika, dan Manado. Dan Labuan Bajo ditetapkan sebagai wisata premium.

Selaras dengan itu, pemerintah pusat pun telah membentuk badan khusus untuk mempercepat pembangunan Pariwisata Labuan Bajo yaitu Badan Otoritas Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF).

Melalui badan ini, pemerintah pusat bersinergi dengan pemerintah daerah dalam meningkatkan akselerasi pembangunan pariwisata Mabar. Pemerintah daerah diharapkan dapat bersinergi dalam tujuan tersebut.

Selain keindahan alam pesisir dan pulaunya yang sangat indah, Tanah Mabar ini juga adalah tanah yang subur. Ditanami apa saja pasti hidup.

Dengan perkembangan pariwisata yang begitu pesat, pertumbuhan hotel yang begitu banyak seharusnya diikuti daya support dari sub sistem sebagai supply chain bagi kebutuhan hotel, seperti sayur-sayuran, buah-buahan, cabai, bawang, bunga, dan lain sebagainya.

Sampai saat ini, pemasuk kebutuhan hotel dan pasar Labuan Bajo masih terbesar dipasok dari luar Mabar. Masyarakat Mabar belum melihat ini sebagai peluang.

Kalau masyarakat belum menganggap ini sebagai peluang, maka di sinilah semestinya peran pemerintah daerah untuk membangun kesadaran masyarakat ‘kengko’ (membangun kesadaran) melalui keperpihakan kebijakan anggaran, dengan melakukan penyuluhan-penyuluhan dan pelatihan-pelatihan serta bantuan dana.

Kalau BPOLBF berkonsentrasi pada pembangunan infrastruktur sekitar Kota Labuan Bajo dan pulau-pulau destinasi wisata, semestinya pemerintah daerah melalui APBD berkonsentrasi pada pembangunan pertanian dan infrastruktur lainnya di pedesaan.

Dinas pertanian dan dinas pariwisata bisa berkolaborasi, pariwisata berbasis pertanian atau pertanian berbasis pariwisata. Kebijakan pertanian tidak semata pada tanaman keras, seperti kopi, cengkeh, kemiri, panili, coklat dan lain sebagainya, tapi diarahkan juga pada kebutuhan pariwisata. Petakan potensi- potensi wilayah.

Ada kearifan lokal masyarakat Manggarai yang membagi lahan dengan sistem lingko. Bercocok tanam pada lahan yang sistem lingko akan menarik wisatawan untuk menikmati keindahannya.

Sama seperti orang yang menikmati keindahan kebun teh begitu pun di Mabar bisa menikmati keindahan kebun lingko apalagi kalau cara bertanamanya masih dalam sistem tradisional.

Masalah Kemiskinan yang Menyelubungi

Akibat dari kemiskinan adalah kebodohan, gisi buruk, dan stunting. Pertanyaan kritis dari pertumbuhan angka kunjungan wisatawan yang meroket ke Mabar adalah, adakah korelasinya dengan peningkatan kesejahteraan masayarakat Mabar? Jangan-jangan masyarakat Mabar
hanyalah sebagai penonton ‘lelo kanang’ dari keseluruhan hingar bingarnya perkembangan pariwisata Mabar.

Persentasi angka kemiskinan Indonesia penyumbang terbesar salah satunya adalah propinsi NTT. Dari 9,8 persen angka kemiskinan Indonesia, NTT menyumbang 20 persen dan merupakan propinsi termiskin urutan ketiga setelah Papua dan Papua Barat.

Mabar merupakan kabupaten miskin urutan ke 15 dari 22 propinsi di NTT. Urutan ini tidak jelek-jelek amat dan tidak bagubagus amat juga. Tetapi menjadi ironis, karena Mabar merupakan kabupaten yang berperedikat sebagai kabupaten pariwisata.

Kota Labuan Bajo pun tumbuh begitu banyak hotel dan lokasilokasi wisata baru tetapi belum maksimal dampaknya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pendapatan asli daerah (PAD) Mabar termasuk tertinggi di NTT bersama Kota Kupang, tetapi justru Mabar merupakan kabupaten urutan kedelapan dalam tingkat kesejahteraannya.

Adakah yang salah terhadap pengelolaan APD yang sebagiannya juga berasal dari PAD yang ada, sehingga belum menyentuh dan bisa mengangkat derajad kesejahteraan masyarakat? Atau jangan-jangan hanya dinikmati oleh orang-orang tertentu saja sehingga angka stunting dan gisi buruk pun di Mabar masih cukup tinggi.

Ketersediaan Air Bersih

Sulit dibayangkan, pariwisatanya premium tetapi ketersediaan air bersihnya tidak premium, baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara yang sebesar-besarnya dimanfaatkan untuk kemakmuran dan
kesejahteraan masih belum terwujud di Mabar. Mungkin terwujud tetapi hanya dinikmati oleh pihak-pihak tertentu saja.

Berbicara tentang Kota Labuan Bajo saja, air bersih sepertinya masih sebagai barang langka. Masyarakat masih membeli air dari tanki-tanki yang harganya lumayan mahal. Perumahan-perumahan yang sudah dilewati jalur pipa PAM, itu pun airnya masih terjadwal.

Tempat-tempat publik seperti pelabuhan dan bandara ketersediaan airnya tidak maksimal. Tempat-tempat pariwisata seputar Labuan Bajo juga belum ada WC umum. Meteran PAM yang sudah terpasang, sistem pembayarannya masih sistem tembak.

Pemerintah daerah sepertinya belum menganggap pengelolaan air bersih oleh pemerintah daerah sebagai sumber devisa bagi pendapatan asli daerah. Padahal kalau seandainya pemerintah daerah punya kemauan, belajarlah cara pengelolaan air bersih seperti di daerah Jawa
yang sudah bagus sistemnya.

Atau pada kawasan Kota Mandiri seperti, Lippo Group, Citra Group, Sinar Mas Group, dan kota mandiri lain yang tingkat keteraturannya sangat bagus dan meraup keuntungan yang sangat besar dari hasil pengelolaan air bersih.

Belum lagi berbicara tentang ketersediaan air di desa. Topografi serta filosofi masyarakat Manggarai yang cendrung rumah berada di atas bukit sementara sumber-sumber air berada di lereng-lereng sehingga kesulitan masyarakat untuk mendapatkan air bersih.

Pemerintah belum menyentuh persoalan air di desa. Ada proyek pengambilan air dari gunung yang jauh dari desa tersebut tetapi tidak diperhitungkan secara matang tentang kendalanya.

Proyek-proyek yang hanya ingin meraup keuntungan dari pihak yang memainkan proyek tersebut, seperti kualitas pipa yang jelek dan tidak ditanam, sehingga gampang bocor dan rusak atau dirusaki.

Infrastruktur yang Buruk

Indonesia yang sudah merdeka tiga perempat abad ini, sungguh belum dirasakan nikmatnya oleh Masyarakat Mabar. Banyak sekali dijumpai jalan-jalan yang sudah rusak parah atau jalan yang belum lama telah diaspal tetapi rusak lagi atau jalan-jalan yang belum pernah diaspal sama sekali dan hanya disusun batu.

Akibatnya, lalu lintas orang dan perdagangan juga terhambat. Memaksakan kendaraan masuk dalam jalan-jalan yang rusak parah hanya akan mempercepat rusaknya kendaraan.

Kalau diperhatikan jalan-jalan yang ada di Mabar, jalan negara yang merupakan tangung jawab perawatannya oleh pemerintah pusat pasti bagus. Rusak sedikit pasti langsung diperbaiki.

Jalan propinsi yang merupakan tanggung jawab pemerintah propinsi, kualitasnya lumayan bagus dan kalau rusak pasti diperaiki tetapi lumayan lama. Jalan kabupaten yang merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten kualitasnya kurang bagus, dan kalau rusak pasti lama baru diperbaiki ‘toko ntaung’ (bertahun-tahun). Kalau jalan desa malahan lebih bagus dari pada jalan kabupaten.

Arah kebijakan presiden Jokowi yang mengutamakan infrastruktur jalan sebagai landasan ekonomi sepertinya belum sepenuhnya sampai ke Mabar. Memang diakui APBD Mabar tidak seberapa besarnya apalagi topografi Mabar yang lumayan berat, tetapi itu bukan menjadi alasan
pemaaf hadirnya pemerintah daerah.

Makanya, ada harapan bagi pemerintah Mabar yang akan datang agar bagaimana memperbaiki hal ini. Termasuk listrik yang belum menjangkaui semua.

Pilkada 2020 adalah moment bagi masyarakat Mabar untuk mencari pemimpinnya melalui pemilu yang bermartabat. Pemilu yang benar-benar jujur, adil dan transparan. Tidak dilakukan dengan kecurangan-kecurangan dan politik pembagian uang. Politik janji-janji manis yang sebenarnya janji itu susah dilaksanakan, ‘joak kanang’.

Pemimipin itu bukan hanya to lead (yang mengatur dan memerintah, mengarah) tetapi juga lead to (memimpin/membawa kepada). Seperti Musa dalam cerita kitab suci membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir menuju tanah terjanji yang penuh dengan kebahagiaan, kiranya juga pemimpin Mabar yang akan datang dapat membawa masyarakat Mabar keluar dari kesengsaraan, seperti kesengsaraan infrastruktur jalan, kemiskinan, kesengsaraan air bersih, penerangan dan kesengsaraan lainnya, dan membawa masyarakat Mabar kepada kesejahteraan
dan kebahagiaan hidup.

Dari keempat pasangan calon bupati dan wakil bupati yang telah ditetapkan oleh KPUD, kirakira yang mana menurut anda percaya bisa mengatasi persoalan tersebut di atas dan mampu memanfaatkan potens yang ada bagi kesejahteraan masayarakat Mabar? Masa depan Mabar ada di tangan anda. Tentukan pilihan anda di tanggal 9 Desember nanti di bilik suara.

Teringat cerita pada masanya Ben Mboi sebagai Gubernur NTT, terkenal dengan program Operasi Nusa Hijau (ONH)nya, dimana selalu turun langsung ke masyarakat mengecek, apakah programnya berjalan atau tidak.

Ia Tidak segan memarahi bawahan bahkan masyarakat yang tidak menjalankan programnya. Walaupun tanpa stimulus dana tetapi turun mendoktrinasi masyarakat untuk keluar dari kemiskinan. Menyuruh masarakat bekerja dan menanam.

Sampai ada yang menanam satu batang pisang lalu dibagi dua untuk memenuhi jumlah yang ditargetkan oleh sang gubernur karena sang gubernur pasti mengecek langsung jumlahnya dari masingmasing orang.*

Artikel Lainnya