Bisnis

Klaim Ekonomi Seringkali Tak Terwujud, Rizal Ramli Sebut Sri Mulyani Sudah Jadi Politisi

Oleh : very - Rabu, 02/12/2020 20:50 WIB

Ekonom Senior Rizal Ramli. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Ekonom senior Dr. Rizal Ramli menyatakan optimisme Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati terhadap pertumbuhan ekonomi hingga 5 persen di tahun 2021 diyakini akan jauh dari kenyataan.

Pasalnya, klaim Sri Mulyani terkait ekonomi di tanah air acapkali meleset, bahkan tak terwujud.

"Bluffing lagi, track record angka-angka SMI selalu meleset sejak 2 tahun yang lalu," kata Rizal Ramli melalui akun Twitternya, RamliRizal, Selasa (1/12).

Melihat gaya kepemimpinan menteri “terbalik” – karena analisisnya selalu saja salah – itu, mantan Menko Perekonomian ini menilai sosok mantan direktur bank dunia itu sudah tak lagi sebagai profesional. Mantan Menko Kemaritiman itu menyebutkan Sri Mulyani tak ubahnya seperti politisi.

"Sudah jadi politisi. Bohong, kalau ketahuan bisa bohong lagi. Kalau profesional boleh salah, tapi tidak boleng bohong," tandasnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) meyakini perekonomian Indonesia tahun 2021 akan tumbuh 4,5-5,5%. Keyakinan ini disampaikannya dalam berbagai kesempatan.

Peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP) mengatakan, secara mendasar, pertumbuhan ekonomi sangat dipengaruhi oleh konsumsi masyarakat (C), konsumsi pemerintah (G), investasi (I), ekspor (X) dan impor (M).

“Konsumsi masyarakat menyumbang bobot tebesar (57%) dari pertumbuhan ekonomi. Sayangnya konsumsi rumah tangga saat ini masih mengalami kontraksi (-4,04%). Apakah mungkin kondisi ini akan membaik ke depan? Sementara akses ke kredit masih sangat sulit, pertumbuhan kredit perbankan masih sangat rendah (3%),” ujar Gede di Jakarta, Selasa (1/12/2020) seperti dikutip law-justice.co.

Konsumsi pemerintah memang mengalami pertumbuhan. Namun, Gede mempertanyakan apakah masih dapat melanjutkan tren pertumbuan konsumsi itu di tahun depan. Hal itu mengingat penerimaan negara saat ini yang turun anjlok (-18,8%) bila dibandingkan tahun sebelumnya.

“Bisakah kekurangan penerimaan ini dikompensasi dari berutang? Defisit keseimbangan primer sudah sangat besar (-Rp 700 triliun), membuat ruang untuk berutang sudah sangat sempit. Atau jangan-jangan jatah utang tahun depan sudah dipakai untuk menjutupi kesulitan cash flow Negara hari ini?,” ujarnya. (Very)

Loading...

Artikel Terkait