Opini

Wahai Laron-laron di Langit Keranga

Oleh : Rikard Djegadut - Sabtu, 16/01/2021 10:15 WIB

Keranga di suatu senja (Foto: Yos Nggarang)

Oleh: Gerard N Bibang

Di atas telapak dua jari
aku tulis sebuah puisi
tentang dosa asal
yang bermula dari lupa

dulu berjuta-juta simpati mengalir
engkau pun jadi orang nomor satu di tempat berbunga warna warni ini
khasiat puisi dua jari

kini aku tulis lagi puisi:

"jangan percaya kepada orang-orang yang katanya dari ibukota pusat kekuasaan dan kecerdasan, yang menganggap diri paling tahu dan suci; mereka-mereka hanyalah laron-laron yang beterbangan, yang menyebut diri ahli yang bikin orang lain mati; ataukah engkau sudah mulai lupa saking enaknya berjoget ria dan termakan oleh diplomasi meja makan?"

wahai laron-laron di langit Keranga
aku tulis lagi puisi ini bukan di telapak dua jari
tapi di rahim nusa bunga darimu berasal
tentang dosa Adam yang berawal dari nafsu menjadi tuhan hanya dalam hitungan detik
tentang dosa warisan yang berawal dari lupa sejarah
hitu wa`p ga, lihatlah sudah, dua jarimu dikerangkeng rantai
sanubarimu menjelma bui mengkrangkeng jiwa
hitu wa`p ga, kebenaran itu, kini, menyapamu
kalau engkau tidak bisa bikin apa-apa buat rahim ibumu
kenapa harus mencuri lagi apa yang dipunyai ibumu
kenapa harus menguras air susunya, satu-satunya yang ia punya yang telah membuatmu gagah dan tambun?

hitu wa`p ga, wahai laron-laron di angkasa Keranga
ini zaman gila yang sarat dengan kebodohan
ialah tahu mana yang benar tapi lebih mempercayai kebohongan dan kepalsuan
aku yakin engkau tahu itu
atau jangan-jangan engkau tidak tahu bahwa engkau tidak tahu

***
* hitu wa`p ga (frase bhs Manggarai-Flores Barat)= itu sudah...
*****
(gnb:tmn aries:jkt:sabtu:16.1.2021:ketika menonton video para sahabat yang diborgol karena jadi tersangka korupsi tanah di Keranga, Labuan Bajo, senilai tiga triliun rupiah;

Loading...

Artikel Terkait