Nasional

Kyai NU Khittah Keluhkan Rencana Pajak Sembako dan Pendidikan, Rizal Ramli: Saya Jadi Teringat Pesan Gus Dur

Oleh : very - Kamis, 24/06/2021 14:05 WIB

Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli bersama para Kyai NU Khittah beberapa waktu lalu, sebelum pandemi, di kediaman Rizal Ramli. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Sejak silaturahmi yang dilakukan beberapa waktu yang lalu, tali silaturahmi antara kyai-kyai NU Khittah dengan Menko Perkonomian Gus Dur, Rizal Ramli, makin terjalin erat. Menurut para kyai, Gus Dur memang tidak salah memilih Rizal Ramli untuk masuk dalam kabinetnya yang menghadapi tantangan untuk bisa bangkit paska krisis 1998 tersebut.

Meskipun usia pemerintahan Gus Dur hanya berlangsung kurang dari 2 tahun, berbagai kebijakannya, terutama soal ekonomi masih banyak diingat oleh rakyat. Sebut saja tentang kebijakan kenaikan gaji PNS dan TNI/POLRI.

Setelah memperkenalkan satu per satu para kiai yang hadir, inisiator Komite Khittah NU 1926 (KKNU 26, KH Agus Solachul Aam Wahib Wahab, yang akrab dipanggil Gus Aam, cucu Kiai Wahab pendiri NU bersama Kiai Wahid, menyampaikan maksud kedatangan mereka yaitu untuk menanyakan persoalan terkini, terutama terkait kabar tentang rencana pengenaan pajak sembako dan pendidikan yang akan diambil oleh pemerintahan Jokowi.

"Apa yang membedakan cara Gus Dur dalam mempimpin sehingga berhasil dikenang kebijakannya bikin rakyat senang? Apalagi saat ini mulai ramai kabar rencana pengenaan pajak sembako dan pendidikan. Mohon Pak Rizal bisa bantu menjelaskan," ujar KH. Ghozi Wahib Wahab yang merupakan salah satu cucu pendiri NU (KH Wahab Chasbullah) beberapa waktu lalu.

Menjawab permintaan tersebut, Rizal Ramli langsung teringat akan pesan yang diberikan oleh Gus Dur padanya saat ditugaskan menjadi Kepala Badan Urusan Logistik.

"Kalau ingat Gus Dur, saya jadi ingat ketika pertama mendapat tugas dari Gus Dur di Bulog. Yaitu `bikin rakyat senang`. Itu pesan Gus Dur, " ujar Rizal Ramli.

Mendengar jawaban dari ekonom senior tersebut spontan saja KH. Ghozi Wahib Wahab menyambutnya dengan kata-kata khas dari Gus Dur "Gitu aja kok repot". Para Kyai yang ikut hadir dalam silaturahmi dengan Dr. Rizal Ramli tersebut langung tertawa bersama.

Menurut Rizal Ramli, persoalan utama yang kita hadapi saat ini adalah tentang kewajiban untuk bayar cicilan pokok dan bunga utang. "Bunga utang kita tahun ini (2021) saja sudah mencapai Rp 373 triliun. Itu belum termasuk cicilan pokok utangnya," ungkap tokoh yang pernah duduk sebagai Tim Panel Ahli Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa bersama peraih Nobel Ekonomi dan ekonom-ekonom dari berbagai dunia.

"Akibat beban untuk bayar cicilan pokok dan bunga utang tersebut, cara gampang pejabat sekarang adalah dengan menaikkan pajak ini dan itu," ujar mantan Menko Kemaritiman tersebut.

Berbeda ketika pemerintahan Gus Dur yang berhasil mengurangi beban utang melalui strategi tukar utang bunga mahal dengan utang bunga murah dan tukar utang dengan konservasi hutan.

"Hari ini memang situasi yang kita hadapi makin `pabaliut` bahasa Sunda-nya. Makin ruwet. Karena antara visi, kata-kata dan perbuatan pejabat tidak sinkron. Pandemi yang kita hadapi saat ini, kalau sejak awal tegas untuk lockdown, situasinya tidak akan begini. Kami sudah sarankan sejak awal pandemi agar fokus dan alokasikan anggaran hanya untuk penanganan Covid19, kebutuhan pangan rakyat dan tingkatkan produksi pamgan. Tapi masih aja lanjutkan proyek ini itu, ibukota baru, dan lain-lain, " jelas Rizal Ramli.

Namun demikian tokoh perubahan ini mengatakan bahwa perubahan akan segera menemukan jalannya.

"Rakyat sekarang makin terbuka pandangannya terhadap berbagai fakta kegagalan pemerintah dalam menangani krisis ini. Pak Kyai, krisis ini benar-benar menjadi ujian bagi seorang pemimpin. Akan dikenang sebagai pemimpin hebat atau memble," ujar pria yang oleh kalangan santri NU dipanggil Gus Romli ini.

Silaturahmi yang terasa akrab dan menemukan benang merah historis ini, juga menyinggung soal makin jauhnya rakyat menemukan sosok panutan.

Jubir Presiden Gus Dur, Adhie Massardi, yang turut mendampingi Rizal Ramli menerima para Kyai, mengatakan bahwa Gus Dur bisa dikenang karena Gus Dur dan orang-orang dekatnya mampu menjaga integritas. "Integritas ini yang makin sulit ditemukan pada pejabat publik sekarang. Bahkan kadang kita pun menjadi heran kenapa ada tokoh NU sekarang menjadi bahan bercandaan di sosmed karena integritasnya dipertanyakan," ujar Adhie Massardi.

"Mohon maaf, tidak sedikit yang mengatakan bahwa tokoh-tokoh NU sekarang seperti menjadi tameng pemerintah. NU, sepeti sering disampaikan oleh mas Rizal Ramli, yang seharusnya menjadi `kendaraan plat hitam` bagi warganya, seperti telah berubah menjadi `plat merah`. Ini yang perlu diluruskan kembali oleh NU Khittah," lanjut Adhie Massardi

Mendengar pandangan itu, para Kyai yang hadir mengangguk senyum.

Di tengah silaturahmi tersebut, KH. Abdullah Munif dari Pasuruan menyampaikan salam dari Rois Aam Komite Khittah Nahdlatul Ulama (KKNU) 1926 KH. Suyuti Toha, untuk Rizal Ramli karena tidak bisa ikut hadir. Di akhir silaturahmi, para Kyai melanjutkan dengan doa bersama agar Dr. Rizal Ramli dapat memimpin bangsa ini keluar dari krisis pandemi dan krisis ekonomi saat ini. (Very)

Loading...

Artikel Terkait