Opini

Antara Kembali Ke Jalan Lama Atau Tampil Dengan Wajah Baru

Oleh : luska - Rabu, 18/08/2021 15:05 WIB


Taliban Jilid 2

Penulis : Renhard R. Tawas

Setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengumumkan penarikan total pasukan AS dari Afghanistan dengan "deadline" September 2021, kembalinya Taliban ke Kabul dengan cepat sudah pasti. Aneh saja jika intelijen AS memprediksi Tentara Afghanistan bisa bertahan beberapa bulan sampai pengungsian warga AS dan koalisi internasional serta teman-teman warga Afghanistan tuntas.

Biden akan dikenang sebagai orang yang mengabaikan dan membuang teman. Teman di sini adalah  adalah orang-orang Afghanistan yang bekerja di fasilitas-fasilitas AS dan asing lainnya, wartawan, pekerja sosial, relawan-relawan NGO, aktivis perempuan dan banyak lagi yang dikuatirkan akan menjadi target eksekusi Taliban.  Orang-orang Amerika yang karena pekerjaannya berinteraksi dengan mereka mengaku malu menjadi orang Amerika karena negaranya meninggalkan teman mereka begitu saja ke tangan rejim yang di masa lalu bertindak brutal terhadap sesama orang Afghanistan.

Testimoninya jelas kapan. Taliban Jilid 1,1996-2001. Tragedi kemanusiaan akan segera berlangsung dengan proporsi "epic". Itu yang ditakutkan manusia dengan rasa kemanusiaan. Malahan sudah, 16 Juni lalu 22 anggota  pasukan komando  Afghanistan yang bertempur di kota Dawlat Abad, Provinsi Faryab akhirnya menyerah karena kehabisan peluru. Selanjutnya apa yang terjadi tak perlu ditulis di sini. Ini skenario "doomsday"nya. 

Keterlibatan Amerika Serikat di Afghanistan sebenarnya sudah dimulai setelah Uni Sovyet menginvasi Afghanistan tahun 1979. AS membantu Mujahidin dalam perjuangan mereka mengusir Uni Sovyet dengan persenjataan dan dana bersama Pakistan dan Arab Saudi.

Salah satu senjata yang membuat Pasukan Uni Sovyet kewalahan adalah Peluncur Roket FIM 92 Stinger yang menjadi populer karena sering tampil dalam berita Perang Afghanistan di seluruh dunia. Perang Afghanistan ini adalah "Perang Vietnam"nya Ui Sovyet yang membawa ratap-tangis pilu di ribuan rumah-rumah keluarga Uni Sovyet yang kehilangan anak-anaknya di medan-medan tempur Afghanistan.

Uni Sovyet merasakan apa yang dirasakan Amerika Serikat di Vietnam. Dan AS memastikan itu terjadi dengan membantu persenjataan Mujahidiin, seperti dulu Uni Sovyet membantu Vietnam Utara dan Vietcong. Di perang inilah AS secara tidak langsung bersekutu dengan Osama Bin Laden yang juga membantu Mujahidin. 

Masih tersisa secercah harapan bahwa Taliban Jilid 2 adalah Taliban abad 21 yang beda dengan Taliban abad lalu. Benar pemimpin-pemimpin Taliban sekarang sebagian besar masih sama. Tapi 20 tahun adalah waktu yang cukup bagi manusia untuk berubah cara pandangnya. Itu lah mengapa ada perjanjian perdamain di Qatar antara Taliban dengan Pemerintahan Afghanistan di bawah Presiden Ashraf Ghani, yang "like it or not" diinisiasi Donald Trump.

Faksi moderat dalam Taliban menginginkan perundingan menuju perdamaian. Tapi faksi ekstrim tidak mendukung dengan tindakannya di medan tempur. Akibatnya setiap genjatan senjata diumumkan, yang menjadi berita dari  medan tempur adalah tembak-menembak. Perundingan di Qatar diinisiasi oleh dua dari tiga deputi pemimpin tertinggi Taliban Mawlawi Hibatullah Akhundzada yaitu Mullah Abdul Ghani Baradar dan Mullah Mohammad Yaqoob, putra mediang pendiri dan pemimpin Taliban Mullah Mohammad Omar yang meninggal karena sakit tahun 2013 tapi baru diumumkan dua tahun kemudian. Tidak kurang dari Mullah Abdul Ghani Baradar sendiri yang memimpin delegesi Taliban di Perundingan Damai Qatar. Ia adalah co-founder Taliban bersama Mullah Mohammad Omar. Deputi yang satu lagi adalah Sirajuddin Haqqani, kepala faksi Haqqqani yang dikenal ekstrim. 

Dalam struktur organisasi Taliban orang nomor 1 Mawlawi Hibatullah Akhunzada membawahi urusan Agama, Politik dan Militer. Mullah Abdul Ghani Baradar membawahi urusan Politik dan perwakilan di Doha. Mullah Mohammad Yaqoob Kepala Staf operasi militer di provinsi-provinsi Selatan dan dikabarkan akan mengambil tanggung jawab urusan perekonomian (bisnis) Taliban. Sirajuddin Haqqani memimpin provinsi-provinsi Timur. Dari struktur ini terihat wajah moderat Taliban.

Dengan kembalinya Taliban ke Kabul, mereka akan memulai pemerintahan yang baru. Ada kabar baik telah terbentuk dewan koordinasi  untuk menjaga agar tidak terjadi kekacauan dan mengatur transisi yang damai. Dewan koordinasi ini beranggotakan bekas Presiden Hamid Karzai, Ketua Dewan Tinggi Rekonsiliasi Nasional Abudllah Abdullah dan bekas Perdana Menteri Gulbuddin Hekmatyar yang juga pemimpin Hezb-e-Islami Afghanistan. 

Setelah Taliban berkuasa, dunia berharap mereka berpikir dua kali sebelum melakukan hal yang sama seperti di Jilid 1. Tentu mereka tidak lupa, jika mau, AS bersama koalisi internasional  dengan "firepower" yang luar biasa bisa kembali kapan saja dan menghalau mereka kembali ke gunung-gunung dalam waktu yang singkat seperti 20 tahun lalu. Ini satu alasan untuk skenario lawannya "doomsday" yang disebut di atas tadi. Yang penulis prediksi akan terjadi adalah Taliban dengan wajah baru.  Lagipula titik pijak ekonomi  kebanyakan pemimpin Taliban sekarang sudah berberbeda dengan dulu. 20 tahun meguasai "turnover" bisnis  yang sekarang mencapai USD 1,6 milyar (kebanyakan dari ladang opium dan pertambangan ilegal) per tahun membuat banyak di antara mereka menjadi kaya.

Dilaporkan oleh rferl.org (Radio Free Europe/Radio Liberty) yang banyak mememberitakan liku-liku kegiatan Taliban, banyak di antara mereka punya usaha dan properti di Pakistan. Selain itu juga sebagian besar di antara para Taliban yang bertempur di medan perang adalah milenial yang mengharapkan masa depan yang lebih baik. Mereka punya gadget sama seperti milenial lain di seluruh dunia. Mereka tak terhindari dan terekspos ke berita internasional, media sosial dan berbagai aksesnya yang berpontensi mengubah cara pandang mereka.

Taliban yang sekarang siap hidup berdampingan dengan tatakrama internasional. Faks-faksi moderat di Taliban akan memastikan itu terjadi. 
*****

 

TAGS : Taliban

Artikel Lainnya