Bisnis

Usaha Batok Kelapa Bali Bapak Made Herman, Kontribusi untuk Menjaga Bumi

Oleh : Rikard Djegadut - Jum'at, 10/09/2021 18:43 WIB


Kelapa Batok (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - Situasi sulit yang dihadapi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) karena pandemi Covid-19, ternyata tidak menyurutkan komitmen melakukan praktik bisnis ramah lingkungan.

Dengan bermodalkan limbah tempurung yang dimodifikasi dengan tali pandan dan pelepah pisang, Bapak I Made Herman Saputra, salah satu nasabah PNM ULaMM, menjadikan produk batok kelapa itu bernilai seni dan semakin banyak diminati anak-anak muda asing maupun dalam negeri yang berkunjung ke Bali.

Selama 6 tahun menggeluti usaha kerajinan batok kelapa itu, ia mengaku sangat terpacu. Kini omset nasabah ULaMM Cabang Denpasar ini mencapai 10 juta per bulan.

Namun baginya, ada hal yang lebih berarti daripada sekedar mengejar keuntungan yakni berkelanjutan untuk kehidupan bumi karena produknya ramah lingkungan.

Menurut Herman, ia tidak perlu ragu memulai bisnis berkelanjutan karena bisnis yang menerapkan sustainability memiliki prospek yang sangat baik ke depan.

“Saya sangat terpacu dengan berbisnis kerajinan seperti batok kelapa atau sedotan bambu, karena dengan adanya produk-produk ramah lingkungan yang saya buat, saya berkontribusi akan keberlanjutan kehidupan bumi, dan juga berdampak pada terjaganya kualitas udara dan sanitasi lingkungan,” jelas Herman.

"Isu lingkungan dan kesehatan menjadi permasalahan serius yang sedang dihadapi Bali. Banyaknya tumpukan sampah di area wisata dan kualitas udara yang buruk akibat polusi kendaraan, pembakaran sampah, dan asap rokok menjadi perhatian utama yang harus segera diselesaikan,” lanjutnya.

Herman pun percaya, konsumen sekarang ini lebih memilih brand yang sadar akan pentingnya kelestarian, mulai dari melakukan proses produksi yang ramah lingkungan hingga jenis produk yang dijual.*

Artikel Lainnya