Bisnis

Holding BUMN Perkebunan Targetkan Swasemba Gula dengan SugarCo

Oleh : Mancik - Senin, 20/09/2021 20:34 WIB


Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Muhammad Abdul Ghani.(Foto:ANTARA)

Jakarta, INDONEWS.ID - Direktur Utama Holding BUMN Perkebunan, PTPN III Mohammad Abdul Ghani, mengatakan, pihaknya tengah manergetkan swasemba produksi gula kristal putih (GKP) konsumsi di Indonesia. Adapun rencana tersebut dilakukan dengan meningkatkan kerja sama dengan petani.

Saat ini, holding pabrik gula telah terbentuk sebagai langkah tindak lanjut untuk mencapai swasemba gula tersebut. Holding pabrik gula ini berada di bawah naungan PT Sinergi Gula Nusantara atau SugarCo.

"Kalau petani tidak disentuh, sia-sia upaya menaikkan produksi nasional karena makin banyak yang beralih ke tanaman lain yang lebih menguntungkan. Dalam lima tahun terakhir areal petani turun terus karena memang pendapatannya tidak menarik," kata Mohammad Abdul Ghani saat rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, seperti dikutip media ini dari bisnis.com, Jakarta, Senin (20/9/2021)

Mohammad Abdul Ghani lebih lanjut menjelaskan, pihaknya telah menargetkan peningkat produksi dengan mitra petani sampai pada tahun 2024. Adapun target SHU dengan mitra petani yakni Rp21,2 juta per ha per tahun.

"Selama perkebunan PTPN tidak bisa menaikkan pendapatan petani di atas Rp11 juta [SHU pertanian padi], jangan harap petani mau menanam tebu, jadi patokan kami harus di atas Rp11 juta," ungkapnya.

Abdul Ghani kembali menegaskan, pencapaian target rencana kerja Holding perkebunan harus bekerja sama dengan petani. Kerja sama dilakukan dengan langkah menyediakan bibit unggul untuk petani kepada petani tebu.

Dengan langkah menyediakan bibit unggul kepada petani tebu, Holding BUMN Perkebunan menargetkan produksi gula sekitar 800.000 ton pada 2020 menjadi 2,6 juta ton pada 2030.

Abdul Ghani berharap, peningkatan produksi tebu ini mampu mengatasi kesenjangan harga gula di pasar. Selain itu, perbaikan produksi tebu juga akan meningkatkan kesejahteraan petani tebu dalam negeri.

"Artinya inefisiensi PTPN dan inefisiensi di petani ditimpakan ke konsumen, ini tidak adil. Target kami ke depan petani sejahtera sehingga harga bisa turun, harga di konsumen turun," tutupnya.*

Artikel Lainnya