Opini

Krisis Ekologi

Oleh : Marsi Edon - Rabu, 03/11/2021 14:14 WIB

Warga Labuan Bajo, Manggarai Barat, Sil Joni.(Foto:Istimewa)

Oleh: Sil Joni*

INDONEWS.ID - Manusia adalah makhluk paling tamak dan egois di bumi ini. Kita tidak lagi peduli dengan `hak makhluk lain dan entitas abiotik` untuk ada bersama dalam komunitas bumi. Seolah-olah manusia adalah `raja` yang bisa buat apa saja untuk melayani keinginannya sendiri.

Krisis ekologi yang melanda di hampir semua belahan dunia ini, tidak terlepas dari perilaku manusia yang rakus dan egois itu. Aktor utama dari kerusakan lingkungan adalah manusia. Karena itu, kita mesti `mengadili` perilaku manusia untuk menemukan solusi bagaimana mengurangi laju kerusakan ekologi itu.

Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah kerusakan lingkungan hidup ditekan seminimal mungkin. Ketika pembangunan itu tetap memperhatikan aspek keutuhan ciptaan, maka kita layak berbangga sebab pembangunan bisa meningkatkan kemaslahatan manusia dan alam.

Tetapi, secara empiris, praksis pembangunan kita selama ini, justru mendestruksi alam dengan variasi ekosistemnya. Kebijakan pembangunan yang didesain dan dieksekusi oleh para pemimpin politik, cenderung mengabaikan sisi kebaikan dan keindahan alam itu sendiri.

Demi dan atas nama pembangunan, para penguasa berkonspirasi dengan para pemilik modal untuk `mengeruk isi perut bumi` secara brutal. Pemenuhan libido ekonomis menjadi barometer untuk mengeksekusi sebuah kebijakan publik.

Kawasan hutan produksi, hutan sosial, hutan lindung dan sebagainya harus dibabat demi melayani pemenuhan syahwat ekonomi para kapitalis tersebut.

Kawasan hutan produksi Bowosie-Nggorang seluas 400 hektar misalnya, bakal disulap menjadi kawasan bukan hutan agar nafsu berbisnis dalam bidang pariwisata bisa terlaksana.

Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menjadi `aktor lapangan` yang dengan cerdik `memanifestasikan` setiap skenario bisnis yang dirancang dari Pusat (Jakarta).

BPOLBF dan para pengambil kebijakan umumnya, pura-pura tidak tahu atau lupa bahwa wilayah 400 hektar itu punya nilai dan fungsi ekologi yang sangat vital bagi warga Labuan Bajo dan sekitarnya.

Kawasan Bowosie menjadi `satu-satunya` kawasan hutan penopang keutuhan lingkungan dan stok biodiversitas yang mengagumkan.

Cuaca Labuan Bajo yang cenderung ekstrem beberapa tahun terakhir, tak dijadikan pertimbangan untuk `membatalkan` kebijakan alih fungsi lahan itu. Temperatur udara di kota ini meningkat dari hari ke hari. Keluhan soal semakin `panas atau gerahnya` Labuan Bajo seolah tak ada kaitannya dengan aksi penggundulan hutan selama ini.

Padahal, meminjam istilah Barbara Ward "bumi hanya satu". Sementara, laju pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup semakin tak terbendung. Tetapi anehnya, aksi `eksploitasi dan pencemaran terhadap wajah Ibu Bumi oleh manusia kian massif.

Para ilmuwan alam memprediksi bahwa 50 tahun lagi, planet bumi ini sudah tidak layak huni. Ramalan dari lapangan santifik ini seakan mendekati kebenarannya jika kita konfrontir dengan kondisi ekologi di kekinian. Suhu bumi terus meningkat dari tahun ke tahun. Isu global warning bukan isapan jempol semata.

Unsur penopang `keberadaan bumi" kian tergerus oleh ulah manusia sendiri. Jangan salahkan alam/bumi jika saat ini kita merasakan "krisis/bencana ekologi" yang mengerikan.

Kemarau atau kekeringan berkepanjangan, temperatur yang tak bersahabat, perubahan iklim yang sulit diprediksi, banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi/tsunami dan sederetan prahara ekologi yang mematikan sudah sangat akrab dengan kehidupan manusia modern saat ini.

Berhadapan dengan fakta kerapuhan ini, apa yang bisa kita buat? Bersuara dari "padang gurun kenabian" saja tidak cukup. Kampanye menyelamatkan ibu bumi mesti menjadi sebuah gerakan bersama dan menjadi sebuah "kultur yang hidup" di semua belahan dunia.

Kita mesti "bangkit" untuk melawan dan mengikis semua bentuk perilaku destruktif yang membahayakan kelangsungan eksistensi bumi ini seraya mengabil langkah aksi yang signifikan guna "menahan" laju kerusakan ekologi".

Kendati demikian, kita tetap mengapresiasi suara `kegelisahan profetis` dari para nabi ekologi terkait dengan keringkihan alam dan kejahilan manusia dalam `memperkosa` keindahan alam. Suara kenabian seperti ini, kendati kerap ditanggapi secara sinis, kian urgen dan relevan saat ini.

Poin kita adalah manusia dan alam tetap "menjalin relasi simbiosis mutalisme". Kita bersatu dalam spirit persaudaraan yang universal. Manusia dan alam berada dalam posisi setara sebagai anggota komunitas kehidupan (biosentrisme).

*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas

Loading...

Artikel Terkait