by : Noryamin Aini
(Dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)
“Aku adalah wujud refleksi dari persepsiku”.
Kalimat bijak ini adalah deduksi dari pesan sebuah hadits qudsi.
Persepsi adalah cetak biru (blue print); bingkai ucapan dan perilaku. Dalam kerangka cetak biru, obyek putih akan terlihat hitam dengan tatapan kacamata berlensa gelap. Persepsi buruk (dzonn) seperti mata lalat. Ia hanya akan menatap dan mencari keburukan, lalu membusukannya. Sebaliknya, persepsi baik menjadi jendela dan entitas yang putih dan positif.
Sahabat!
Begini ilustrasinya. Kita pasti memiliki sosok idola yang dikagumi. Tentu juga bagi figur pasangan setengah baya yang cacat moral dan biasa berpenampilan modesta religius di ruang publik. Mereka hanya tinggal berdua di rumah yang cukup mewah, yang pada suatu malam, tanpa didampingi asisten rumah tangga.
Suatu saat dalam momentum silaturahim terbatas yang beraura religi, pasangan tersebut mengundang seorang ustadz yang bersahaja, untuk acara makan malam keluarga yang diawali dengan mengaji dan konsultasi agama. Selesai mengaji dan konsultasi, pasangan tersebut bergegas ke dapur menyiapkan hidangan santap malam, dan meninggalkan sang ustadz dan al-Quran yang tergelatak terbuka di dekatnya.
Suasana perjamuan dalam silaturahim malam itu sungguh menyenangkan, dan tentu layak diingat lama. Konsultasi agama malam itu terasa sangat syahdu, rêsêp, adem menyejukkan gersang suasana hati pasangan sahibul hajat. Mereka semakin kagum dengan keistimewaan pesan mumpuni yang disampaikan ustadz. Penampilan ustadz malam itu menuai applause tuan rumah. Menu dan suasana makan malam menambahkan nilai istimewa acara silaturahim keagamaan itu.
Sahabat!
Selesai makan malam, sang ustadz pamit pulang, tanpa honor dan “besek berkat”. Setelah kepulangan ustadz, alangkah kagetnya, sang istri mengetahui amplov gaji untuk asistensi rumah tangganya yang telah disiapkan tiba-tiba raib. Pikiran sang istri tiba-tiba liar, hatinya jengkel, dan lalu menuduh ustadz mencuri amplov dimaksud. Kasus raibnya amplov menjadi tema obrolan liar dan viral di antara pasangan di malam itu, dan membekas buruk dalam hati pasangan.
Emosi yang meninggi dan dengan bahasa istri yang provokatif, membuat suami ikut menuduh ustadz mencuri amplov. Oleh pasangan, tuduhan dinilai cukup beralasan, karena mereka hanya tinggal berdua saat kedatangan ustadz di rumah. Gegara amplov, pasangan ini kehilangan rasa hormat pada sang ustadz, bahkan sampai apriori terhadapnya.
Kondisi psikologis raibnya amplov membuat pasangan setengah baya ini menjaga jarak, dan selalu menghindar untuk berjumpa ustadz idola. Setelah berbulan-bulan, pada satu momen yang tidak dapat dihindari, mereka dipertemukan dengan ustadz, tanpa rekayasa. Dengan wajah yang kecut dan hipokrit, istri masih mau menyapa ustadz. Namun, suaminya, dengan gejolak emosi menuduh, mencoba mengorfimasi kebenaran tuduhan bahwa “ustadz adalah pelaku tunggu pencurian amplov yang raib”.
Ustadz bersikap tenang menyikapi pertanyaan konfirmatoris tersebut. “Pa, maaf sekali, saat bapak dan ibu ke dapur untuk menyiapkan hidangan, saya menemukan amplov tergelatak di samping al-Quran yang kalian tinggalkan. Karena khawatir hilang, amplov itu saya sisipkan ke dalam lembaran al-Quran yang masih terbuka”, kata ustadz, yang kemudian berlalu meninggalkan pasangan yang masih belum yakin dengan klarifikasi ustadz.
Usai perjumpaan tersebut, pasangan tersebut bergegas pulang. Subhanallah, pas di rumah, mereka kaget dan malu bak disengat setrum listrik, saat mendapatkan amplov yang mereka cari sesuai penjelasan ustadz, yaitu tersisip rapih di antara lembaran al-Quran. Ternyata, selama berbulan-bulan, al-Quran tersebut tidak pernah dibuka oleh pasangan itu, lalu gagal mencari amplov yang raib.
Ya Allah! Al-Quran yang disisipkan amplov uang tersebut hanya terpajang rapi dan manis sebagai aksesoris di rak lemari ruang tamu, sampai-sampai al-Quran tersebut berdebu tebal. Keadaan ini menandakan al-Quran tersebut tidak tersentuh untuk dibaca. Menyedihkan!
Sahabat!
Kebenaran sering dinodai oleh persepsi buruk yang menuduh, tanpa bukti. Lebih buruk lagi, kebenarannya diyakini secara apriori, sepihak, tanpa tabayun. Ironis, sebaik apapun suatu kebaikan, ia mudah membusuk dalam persepsi dan qalbu orang yang dikotori oleh prasangka negatif. Pikiran dan qalbu kotor mudah menuduh dan menghujat orang lain. Sungguh banyak orang tidak sejahat, atau citranya tidak seburuk yang dihadirkan dalam pikiran dan qalbu yang kotor.
Maaf! Banyak orang disalahkan, namun faktanya, mereka tidak bersalah. Fakta lain bahwa orang yang sering dicela, ternyata, fakta kehidupannya tidak seburuk gambaran yang dihadirkan oleh qalbu, pikiran dan “mata lalat yang jorok” dan memang suka menyasar kebusukan-keburukan.
Sahabat!
Kebusukan-keburukan adalah kelaziman buah dari cara pandangan yang suka memonopoli kebenaran secara apriori. Kesalahan-keburukan-kebusukan orang lain tidak jarang adalah buah dari kekotoran qalbu dan mata batin yang dipenuhi prasangka dan menghujat. Ia sering sebagai refleksi keangkuhan yang qalbu merasa paling benar, paling baik, paling alim. Ini adalah petaka yang memalukan.
Mari kita rajut bingkai positif di qalbu dan pikiran, agar segala fenomena kehidupan menjadi terasa indah-positif, agar kita tidak mudah berburuk sangka pada Allah dan sesama manusia. Tidak ada perlunya kita menghujat dan menghina orang lain, walaupun dia berlumuran dosa. Ingatlah bahwa ekspresi menghujat sejatinya lahir dari qalbu yang sarat prasangka. Allah telah mengingatkan bahwa sebagian dari prasangka buruk (dzonn) adalah dosa (QS. 49:12), dan ia menjadi bahan baku kehinaan; dan merupakan narasi yang paling sulit untuk dipercaya (HR. Bukhari-Muslim).
Sahabat!
Jagalah hati, jangan engkau nodai; jagalah hati, jangan engkau kotori, karena hati adalah jendela, pelita, dan bingkai kebaikan dan kemuliaan hidup kita.
#Kurindu-kebeningan-qalbu

Pelaihari, 7 Maret 2022