https://vinosdeabona.com/slot-gacor/ https://www.tpcd.org.tr/slot-deposit-pulsa/ https://healthcare.skho.moph.go.th/labor-care/uploads/slot-deposit-pulsa/ https://seoscaning.com/slot-deposit-dana/ http://www.info-secur.ru/old/slot-deposit-pulsa-tanpa-potongan/ http://academia.uniminuto.edu/becassp/notas/jasabola/

Bisnis

DPD Soal Bunga Utang Naik, Rizal Ramli: Menkeu Rugikan Rakyat dan Negara Karena Bunga Utang yang Tinggi

Oleh : very - Jum'at, 10/06/2022 16:08 WIB

Rizal Ramli adalah mantan Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia (2000-2001) dan mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (2015-2016). (Foto: ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Dewan Perwakilan Daerah (DPD) menyentil Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati terkait pembayaran bunga utang yang terus mengalami kenaikan. DPD menyoroti rasio pembayaran bunga utang terhadap total belanja pemerintah pusat di APBN 2022 yang mencapai 20,87 persen atau sebesar Rp 405,86 triliun.

"Meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding 2015 yang sebesar Rp 156 triliun atau 13,8 persen dari total belanja pemerintah pusat," ujar Ketua Komisi IV DPD Sukiryanto dalam rapat bersama di Jakarta, Senin, 24 Januari 2022 lalu.

Sukiryanto mengatakan, pembayaran bunga utang Rp 405,86 triliun ini terdiri dari dua kelompok. Pertama, Rp 393,6 triliun untuk bunga utang dalam negeri atau setara 97 persen dan Rp 12,17 triliun untuk luar negeri atau setara 3 persen.

Dalam acara tersebut, Sri Mulyani meminta DPD agar tak melihat dari satu sisi saja bahwa utang dan pembayaran bunga utang naik. Karena itu, ia meminta DPD untuk melihat bahwa manfaat dari APBN yang ditopang pembiayaan utang ini.

Menteri Keuangan itu mencontohkan bahwa pendapatan negara dan penerimaan pajak anjlok 16 persen dan 19 persen tahun 2020, tapi APBN berusaha menyerap tekanan itu. Sehingga, belanja negara tetap naik 12,4 persen. "Saya harap DPD tidak hanya melihat hanya kepada biaya utangnya naik, tapi nggak melihat manfaatnya banyak. Kalau pakai bahasa Islam kufur nikmat," pungkasnya.

Menyikapi tingginya utang tersebut, ekonom senior Dr Rizal Ramli mengatakan bahwa nyaris semua Menteri Keuangan berani mengatakan “Tidak” kepada Presiden.

“Nyaris semua Menteri Keuangan berani bilang ‘Tidak’ kepada Presiden, sejak Ali Whardana, Radius Prawiro dll sampai RR (Rizal Ramli, red.), tentu dengan cara-cara halus. Hanya Sri Mulyani yang selalu bilang ‘Ya’ kepada kemauan Presiden, termasuk kasus Century dan kpd Jokowi,” ujarnya di Jakarta, Jumat (10/6).

Mantan Menko Perekonomian itu mengatakan, Sri Mulyani itu pintar, tapi jor-joran dengan melakukan proyek yang ngasal. “Pintar tapi APBN jor-joran, projek-proyek ngasal dan IKN ibu kota baru,” katanya.

Karena itu, kata mantan Menko Kemaritiman ini semua proyek diamini oleh Menteri Sri Mulyani sehingga terpaksa ngutang sana-sini. Akhirnya rakyat yang sengsara membayar kenaikan pajak.

“Semua proyek di OK-kan, sehingga terpaksa ngutang-ngutang jor-joran, akhirnya rakyat yang harus bayar lewat kenaikan pajak dan tarif. Pintar tapi keblinger karena rugikan rakyat dan negara karena bunga utang yang tinggi,” katanya. ***

Loading...

Artikel Terkait