Nasional

Tiga Sosok Ini Sukses Gelar Acara "The Untold Story Diplomat Alumni FISIP UI"

Oleh : Rikard Djegadut - Jum'at, 05/08/2022 18:30 WIB

Ketiga sosok itu adalah Senior Analyst dari The London School of Public Relation (LSPR) Ahmed Kurnia, dan Chief Editor Indonews.id Asri Hadi serta Otho Hadi selaku Chief Editor TekoPagi.com. Mereka masing-masing berbagi peran dimana Ahmed dan Asri Hadi berperan sebagai pembahasa dan Otho sebagai pemandu acara.

Jakarta, INDONEWS.ID - Tiga sosok alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) sukses menggelar acara bertema "Diplomacy - The Untold Story: Jika Diplomat (Alumni FISIP UI) berbicara" pada Jum`at (5/8/22) sore.

Ketiga sosok itu adalah Senior Analyst dari The London School of Public Relation (LSPR) Ahmed Kurnia, dan Chief Editor Indonews.id Asri Hadi serta Otho Hadi selaku Chief Editor TekoPagi.com. Mereka masing-masing berbagi peran dimana Ahmed dan Asri Hadi berperan sebagai pembahasa dan Otho sebagai pemandu acara.

Acara yang digelar secara hybrid dari kantor TekoPagi.com, Jalan KS Tubun Nomor 25, Jakarta itu juga dapati diikuti secara online via aplikasi meeting zoom. Acara berlangsung selama kurang lebih 3 jam sejak pukul 14.00 sd 17.00 WIB.

Acara hasil kolaborasi Indonews.id an TekoPagi ini menghadirkan sembilan (9) diplomat, yang merupakan para Duta Besar di berbagai negara. Kesembilan diplomat ini merupakan alumni FISIP UI.

Mereka antara lain Diplomat Ahli Utama pada Direktorat Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan (KSIA) Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri, Prayono Atiyanto. Juga hadir Dr. Yusron Ihza Mahendra, LL.M., Foster Gultom, Ikrar Nusa Bhakti, Sukaryono Nanang Pahlawanto, Hengki Anggiro, Sunu Mahadi Soemarno, dan Ade P.

Para diplomat ini pernah bertugas di berbagai negara di dunia antara lain di Inggris, Amerika serikat, Jepang, Afrika, Korea Selatan, Tunisia, Itali, Australia, Hongaria, Philipina dan lain-lain.

Acara ini menarik. Sebab selama era pemerintahan Jokowi, keberadaan para diplomat ini mendapat tempat yang istimewa. Mereka diberi kuasa penuh dalam menjalin kerjasama dengan negara-negera sahabat, tempat mereka ditugaskan.

Tentu saja, dengan perlakuan negara seperti ini, para diplomat ini secara bebas terukur bersemangat memberikan kontribusi pemikirannya di kancah internasional, baik dalam rangka menciptakan iklim politik yang baik bagi dunia juga bagi bangsa Indonesia sendiri.

Dengan peran mereka yang besar sebagaimana diamanatkan oleh negara, mereka bekerja keras membangun diplomasi dengan negara sahabat agar mau dalam meningkatkan trade ekpor impor serta meningkatkan jumlah investasi ke dalam negeri. Hal ini dalam rangka meningkatkan ekonomi masyarakat dalam negeri.

Dalam acara yang digagas AAO -- trio alumnis FISIP UI, para diplomat berbagi cerita dan pengalaman mereka selama menjadi duta besar, suka duka, sumbangsih pemikiran juga cerita-cerita yang selama ini tidak diungkapkan ke publik oleh para diplomat tersebut.

Dalam kegiatan ini, Dubes Yusron tampil menjadi pencerita pertama. Ia bercerita soal bagaimana dirinya mendapat dua penghargaan tertinggi dari pemerintah Jepang. Menurutnya, bintang jasa yang diterima tidak terlepas dari kontribusinya bagi kepentingan kedua negara.

Diplomat selanjutnya yang bercerita adalah Foster Gultom. Dalam kesempatan itu, ia bercerita seputar awal mula ia melamar dan berkarir sebagai diplomat. Penempatan pertamanya sebagai diplomat adalah Washington DC.

Selanjutnya diikuti oleh Ikrar Nusa Bhakti dan Prayono Atiyanto serta Sukaryono Nanang Pahlawanto dan terakhir Hengki Anggiro.

Menariknya, beberapa peserta yang mengikuti acara secara luring juga menyampaikan pertanyaan. Contohnya Direktur Pusat Kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia Suzie Sudarman.

Sebelum diberikan kesempatan kepada para perserta untuk menyampaikan tanggapan, Ahmed Kurnia meringkas profil dan kontribusi masing-masing diplomat.

Untuk diketahui, sejak dilantik pada Oktober 2014, Presiden Jokowi memiliki perhatian besar terhadap para diplomat RI yang bekerja di berbagai negara. Jokowi memberi tugas baru kepada para diplomat dan duta besar tersebut.

Usai meresmikan rapat kerja di Gedung Pancasila, Kemenlu, Jakarta, Senin (2/2/2015), Presiden Jokowi meminta para duta besar (Dubes) agar mempromosikan produk-produk Indonesia di pasar internasional.

"Ya tadi saya menyampaikan kepada seluruh diplomat kita, dubes, dan kepala perwakilan, agar diplomasinya fokus di ekonomi. Karena posisi neraca perdagangan kita yang defisit itu bisa di balik menjadi neraca perdagangan yang surplus kalau dubes-dubesnya bisa mempromosikan produk-produk kita," ujar Jokowi kala itu.

Presiden Jokowi mengingikan produk Indonesia bisa bersaing dengan produk lain di luar negeri. Sebab, dia yakin produk Indonesia memiliki kualitas yang bagus dan dapat bersaing. Karena itu, Presiden Jokowi mengharapkan pada Dubes menjadi “yang terdepan” dalam memasarkan Indonesia dalam fora internasional.

Karena itu, diplomat dan duta besar pun tampil menjadi posisi terhormat. Dia tidak lagi dipandang hanya sebelah mata dibandingkan dengan posisi lain, sekelas menteri misalnya.

Simak saja, berita tentang para Duta Besar Indonesia dan aktivitasnya, yang menghiasi pemberitaan hampir setiap hari, baik di media online maupun media cetak dan televisi. Tentu masih ada sejumlah hal penting yang belum diberitakan, yang belum mereka katakan.*

Sebagai tambahan informasi, Ahmed Kurnia saat ini bekerja sebagai jurnalis, dosen, konsultan komunikasi, dan penulis. Sehari-hari ia menjadi Pemimpin Redaksi portal berita http://www.infopublik.org.

Ia juga dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-The London School of Public Relations, Jakarta, serta mengajar di Sekolah Jurnalistik Indonesia-Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat.

Berbagai jabatan di dunia pers pernah dijabatnya. Sampai saat ini Ahmed Kurnia masih menjadi pengurus di PWI Pusat.

Adapun Asri Hadi adalah lulusan FISIP UI 1984. Asri Hadi memilih berkarir menjadi Dosen di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Kementrian Dalam Negeri.

Pada 1992, Asri Hadi mengikuti pendidikan S2 di Monash University, Australia dan mendapat gelar Master Of Arts pada 1994. Selanjutnya, Ia menempuh kursus bahasa Inggris di Giles College, England.

Selain sebagai dosen IPDN, Asri Hadi juga tercatat sebagai Dosen Tamu di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut atau yang disingkat SESKO AL.

Asri Hadi juga aktif di Media Berita Online INDONESIA NEWS atau INDONEWS.ID sebagai Pemimpin Redaksi. Ia juga sempat aktif sebagai relawan dalam penanggulangan bahaya narkotika di Forum Organisasi Masyarakat Anti Narkoba (FOKAN) mitra kerja Badan Narkotika Nasional (BNN).

Asri Hadi menjadi Ketua Umum Forum Intelektual Studi Untuk Indonesia (FIS UI) yang seluruh anggotanya adalah alumni FISIP UI pada 2015.

Sementera Otho Hadi, juga memilih mengabdi sebagai dosen di Kampus FISIP Universitas Indonesia selepas dari FISIP UI.

Otho banyak menulis karya dan artikel. Jika Asri Hadi melanjutkan pendidikan S2 nya ke Monash university, Australia. Sedangkan Otho Hadi melanjutkan pendidikan S2 ke Inggris.*

Loading...

Artikel Terkait