https://vinosdeabona.com/slot-gacor/ https://www.tpcd.org.tr/slot-deposit-pulsa/ https://healthcare.skho.moph.go.th/labor-care/uploads/slot-deposit-pulsa/ https://seoscaning.com/slot-deposit-dana/ http://www.info-secur.ru/old/slot-deposit-pulsa-tanpa-potongan/ http://academia.uniminuto.edu/becassp/notas/jasabola/

Nasional

Dubes Djumala: Mahasiswa Harus Waspadai Pengaruh Ideologi Transnasional

Oleh : luska - Jum'at, 16/09/2022 11:54 WIB

Jakarta, INDONEWS.ID - Di tengah dunia yang semakin terbuka akibat kemajuan teknologi informasi, nilai baru lebih mudah menyebar dari satu negara ke negara lain. Nilai baru tsb. masuk ke negara lain melalui propaganda ideologi transnasional yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Hal itu disampaikan oleh Dr. Darmansjah Djumala, MA, Dewan Pakar BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, dalam acara Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB), Unversitas Prabumulih, 13 September 2022.  

Dalam paparannya yang bertajuk “Pancasila di Tengah Dinamika Politik  Dunia: Implikasi terhadap Kebangsaaan di Perguruan Tinggi”, Dubes Djumala, yang pernah bertugas sebagai Duta Besar RI untuk Polandia di Warsawa, dan Austria dan PBB di Wina, menegaskan bahwa politik dunia sekarang diwarnai oleh rivalitas 3 ideologi transnasional, yaitu liberal-capitalist, socialist-state capitalism dan theocratic-Islamist.

Ketiga ideologi dunia itu bersaing berebut pengaruh di negara ketiga. Perebutan pengaruh inilah yang pada gilirannya memantik perang saudara dan perpecahan sesama anak bangsa. Oleh karena itulah mahasiswa diminta untuk memahami dan mewaspadai pengaruh ketiga ideologi dunia itu. Sebab, negara-negara yang berkepentingan dengan tiga ideologi transnasional selalu berusaha dengan segala cara untuk mempengaruhi cara pikir (mind-set) generasi muda, termasuk mahasiswa. 

Dubes Djumala, yang sebelumnya pernah menjabat Sekretaris Presiden/Kepala Sekretarit Presiden pada periode pertama Presiden Joko Widodo, menyatakan keyakinannya mahasiswa - dengan daya nalar yang tinggi dan pemahaman yang baik terhadap fenomena sosial-politik - mampu untuk memilah, menilai dan memilih  elemen apa dari ideologi dunia yang cocok dan relevan dengan nilai-nilai Pancasila. Pada bagian lain paparannya Dubes Djumala mengungkapkan bahwa Pancasila sendiri sudah teruji dengan dinamika politik global.

Manakala dunia dilanda perubahan lansekap politik yang drastis - seperti berakhirnya Perang Dingin, runtuhnya Tembok Berlin, Tragedi 11 September dan gerakan demokratisasi Arab Spring yang berakibat kehancuran negara dan perpecahan bangsa akibat perang saudara, Indonesia tetap utuh berdiri sebagai negara bangsa dalam bingkai negara kesatuan. Itu tidak lain karena Indonesia tetap  berpegang teguh pada ideologi Pancasila.  

Dihadapan mahasiswa baru dan para dosen Unpra, Dubes Djumala menghimbau pihak civitas akademika Unpra untuk terus menyemaikan dan mengembangkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kampus. Hal itu tidak sulit dilakukan karena sejatinya nilai Pancasila sudah embeded dan built-in di dalam hati sanubari insan Indonesia.

Ketika terjadi pandemi, misalnya, karena tergerak oleh hati nurani kemanusiaan banyak kelompok masyarakat bergerak secara mandiri memberi bantuan makanan, obat-obatan dan sembako bagi masyarakat yang tidak mampu. Itulah sebenarnya nilai Pancasila: gotong royong.

Disarankan oleh Dubes Djumala, untuk menyemai nilai Pancasila di kalangan mahasiswa perlu kiranya dibuatkan kegiatan yang lebih partisipatif dan program-oriented bagi mahasiswa. Program KKN-Pancasila, yang melibatkan mahasiswa dalam program kuliah kerja nyata dengan fokus membantu masyarakat kelas bawah  meningkatkan ekonomi ekonomi desa, bisa dijadikan salah satu cara untuk menyemaikan dan mengembangkan nilai Pancasila di kalangan mahasiswa.  (Lka)
 

Loading...
TAGS : Dubes Djumala

Artikel Terkait