https://vinosdeabona.com/slot-gacor/ https://www.tpcd.org.tr/slot-deposit-pulsa/ https://healthcare.skho.moph.go.th/labor-care/uploads/slot-deposit-pulsa/ https://seoscaning.com/slot-deposit-dana/ http://www.info-secur.ru/old/slot-deposit-pulsa-tanpa-potongan/ http://academia.uniminuto.edu/becassp/notas/jasabola/

Nasional

Ngaji Kebangsaan, Upaya Vaksinasi Ideologi untuk Moderasi Beragama

Oleh : very - Kamis, 22/09/2022 16:25 WIB

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM, saat menjadi narasumber pada acara Ngaji Kebangsaan. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - Sebagai upaya untuk mengoptimalisasikan Islam Wasathiyah, ulama, umaroh, dan umat harus saling bersinergi dan mendekatkan dalam memperkuat ukhuwah dan menjaga persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena ulama juga berperan penting dalam membangun masyarakat yang moderat, baik dalam beragama dan bernegara, guna mencegah penyebaran paham radikal-terorisme dan ekstremisme di Indonesia.  

Untuk itulah perlunya rembuk atau duduk bersama melalui wadah “Ngaji Kebangsaan” dalam upaya menyebarkan moderasi beragama dalam upaya untuk mencegah paham radikal terorisme di masyarakat.

Hal tersebut dikatakan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM, saat menjadi narasumber pada acara Ngaji Kebangsaan dengan mengambil tema Optimalisasi Islam Washatiyah dalam Mencegah Ekstrimisme dan Terorisme. Acara yang digalar oleh Badan Penanggulangan Ekstrimisme dan Terorisme, Majelis Ulama Indonesia (BPET MUI) ini digelar di Pondok Pesantren Motivasi Indonesia, Burangkeng, Setu, Kabupaten Bekasi, Rabu (21/9/2022).

“Ngaji Kebangsaan ini adalah bagian daripada program pentahelix yang merupakan kebijakan dari BNPT, yaitu melibatkan pemerintah, masyarakat, media, civitas akademika, maupun pengusaha. Dalam konteks melibatkan ulama ini adalah ormas keagamaan yaitu masyarakat. Karena ormas keagamaan terutama pesantren ini adalah potensial untuk menjadi vaksinasi ideologi, untuk menyebarluaskan moderasi beragama atau wasathiyah tadi,” ujar Brigjen Pol R. Ahmad Nurwakhid seperti dikutip dari siaran pers Pusat Media Damai (PMD) BNPT.

Lebih lanjut Brigjen Ahmad Nurwakhid menjelaskan bahwa sejatinya memang radikal terorisme ini merupakan cermin dari krisis ritualitas. Dimana mereka lebih menonjolkan ritualitas, kemudian menonjolkan identitas formal serta simbol-simbol formal keagamaan,  namun lemah di bidang spiritual atau maqom ikhsan, akhlak, perilaku dan budi pekerti.

“Mereka ini bersikap radikal karena tidak wasathon atau tidak moderat, tidak di tengah-tengah. Sehingga tidak menjadi rahmatan lil alamin, tapi rahmatan lil kelompoknya. Inilah tugas para ulama, para kyai, para masyayikh, para pondok pesantren untuk menggelorakan Islam wasathiyah atau bisa dikatakan Islam nusantara atau rahmatan lil alamin,” ujar mantan Kabagbanops Detasemen Khusus (Densus) 88/Anti Teror Polri ini.

Dijelaskan alumni Akpol tahun 1989 ini, penyebaran paham radikal terorisme sendiri bukanlah hal baru di Indonesia. Karena itu, setiap orang berpotensi terpapar paham radikal-terorisme yang pada akhirnya menjadi pelaku kejahatan terorisme. Potensi ini dapat dilihat dari tersebarnya narasi-narasi radikalisme yang mengitari masyarakat.

“Kalau ini tidak ditanggulangi segera, narasi tersebut dapat mengarah dan mengajak pada tindakan terorisme. Dapat berupa narasi mengenai intoleransi terkait sentimen keagamaan, narasi umat yang diperlakukan tidak adil, narasi keterancaman, dan sebagainya,” ujar mantan Kapolres Gianyar dan Kapolres Jembrana ini.

Untuk itu dalam kesempatan tersebut dirinya menekankan kepada para tokoh agama yang merupakan para Ketua ataupun Pengurus MUI di tingkat Kecamatan se-Kota dan Kabupaten Bekasi  yang hadir dalam Ngaji Kebangsaan tersebut agar selalu menjaga dirinya dan memvaksin dirinya supaya imun terhadap segala macam paparan paham radikal terorisme yang disebarkan oleh kelompok tersebut.

“Caranya bagaimana? Caranya yaitu belajar mengaji kebangsaan terhadap ulama-ulama yang moderat dalam konteks ini ulama-ulama yang tergabung di dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) yang didalamnya ada NU,  Muhammadiyah, Al~Irsyad Al Islamiyah, Al~Washliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), Mathla’ul Anwar, Al-Ittihadiyah, Nahdatul Wathan dan sebagainya,” ujar mantan Kadensus 88/Anti Teror Polda DIY.

Menurutnya banyak sekali ulama-ulama yang moderat, cinta terhadap NKRI dan ulama-ulama yang mengajarkan rahmatan lil alamin.  “Dimana para ulama-ulama disitu selalu mendawuhkan atau mendakwahkan cinta terhadap persatuan, perdamaian, hubbul wathon minal iman, tidak segregatif, tidak intoleran dan tidak anti-pemerintah,” kata Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid.

 

Beri Pemahaman Bagi MUI di Level Bawah

Sementara itu Ketua BPET MUI, Muhamad Syauqillah, M.Si, Ph.D, dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa tujuan diadakannya Ngaji Kebangsaan ini adalah upaya untuk lebih memberikan semangat kepada jajaran MUI di level daerah atau kecamatan untuk lebih peduli terhadap fenomena penyebaran paham radikal terorisme yang masih terjadi di Indonesia.

“Karena kalau dari sisi pengetahuan, dari sisi pemahaman terhadap Islam wasathiyah, MUI di level daerah ini tidak perlu diragukan. Jadi kali lebih menggugah kepada mereka untuk memahami masalah di lapangan. Itu yang penting untuk kita ingatkan, karena MUI di level bawalah yang berhadapan secara langsung dengan masyarakat,” ujar M. Syauqillah.

Oleh karena itu menurutnya, BPET MUI meminta urun rembuk dengan para kyai, ustad ustadzah  di level kecamatan yang ada di Kota dan Kabupaten Bekasi ini agar problem yang terjadi di lapangan bisa diatasi dengan bergerak bersama-sama di level bawah.

“Kami nilai ini sebagai sebuah strategi yang bisa sangat efektif untuk mencegah munculnya ekstrimisme dan terorisme di masyarakat,” ujar Kepala Program Studi Kajian Terorisme Sekolah Kajian Stratejik dan Global SKSG Universitas Indonesia (SKSG UI) ini.

Untuk itu dengan menggandeng BNPT dirinya akan terus menyelenggarakan kegiatan seperti ini yang selanjutnya akan digelar di wilayah Tangerang, setelah sebelumnya kegiatan serupa juga telah digelar di wilayah DKI Jakarta dan juga Bogor.

“Seperti kita ketahui bahwasanya buffer zone DKI adalah wilayah-wilayah yang mensupport beberapa pelakun aksi terror yang berasal dari Tangerang, Bekasi, Bogor dan Depok. Yang mana itu merupakan daerah-daerah yang perlu kita ingatkan agar MUI nya aware  dengan situasi yang ada di lapangan,” ujarnya mengakhiri.

 

Dalam kesempatan tersebut Pimpinan yang juga pengasuh Pondok Pesantrean Motivasi Indonesia, KH Ahmad Nurul Huda Haem mengatakan bahwa pentingnya acara seperti ini di lingkungan pesantren    karena pesantren itu sejak awal berdiri bukan hanya untuk santri di dalam pondoknya saja, tapi juga untuk lingkungan masayarakat penyangga yang ada di sekitar pesantren. Karena salah satu yang dibiasakan pesantren adalah pengajian umum, pengajian terbuka di mana pengikutnya bukan hanya santri dan orang tua santri, tetapi juga masyarakat luar.

“Seperti yang sudah disampaikan Direktur Pencegahan BNPT tadi  itu luar biasa. Kita lihat sendiri antusiasme para ulama di Kabupaten dan Kota Bekasi yang menghadiri acara ini penjelasan yang sangat luar biasa harus terus-menerus dilakukan,” ujar kyai yang biasa disapa dengan sebutan Ayah Enha ini. 

Pria yang juga anggota Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI ini berharap acara Ngaji Kebangsaan ini bukanlah yang pertama dan yang terakhir digelar di lingkungan pesantren. Hal sepeerti ini harus segera ditindaklanjuti baik oleh Densus 88, BNPT maupun BPET MUI untuk terus bekerja sama dengan Pesantren.

“Karena begitu bekerjasama dengan pesantren, maka masyarakat penyangga pesantren yang sangat dekat dengan Pesantren juga akan mendapatkan imbas pengetahuan, imbas pencerahan yang luar biasa utamanya dalam hal pengetahuan pencegahan paham radikal terorisme di masyarakat. Saya rasa ini adalah kerja yang harus dilakukan terus-menerus,” ujar kyai Enha mengakhiri.

Seperti diketahui, acara Ngaji Kebangsaan yang dihadiri tidak kurang lebih dari 150 orang ini dikemas dengan materi diskusi. Selain mendengarkan paparan dari Direktur Pencegahan BNPT, tampak hadir pula narasumber lain yakni Peneliti Terorisme UI, Sholahudin, anggota BPET MUI Ade Mistawijaya, SH,  Sekjen Yayasan Dekat Bintang dan Langit (Debintal) Hendro Fernando yang merupakan yayasan yang menampung mantan napi terorisme, Turut mendampingi Direktur Pencegahan BNPT yakni Kasubdit Kontra Propaganda, Kolonel Pas. Drs Sujatmiko. ***

Loading...

Artikel Terkait