Nasional

Peringati 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, KOPRI PMII KOMFAKDA Gelar Pendidikan Kesetaraan Gender dan Bakti Sosial

Oleh : very - Minggu, 10/12/2023 19:21 WIB


Peringatan hari Antikekerasan terhadap perempuan. (Foto:ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - Memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP), KOPRI KOMFAKDA yang berkolaborasi dengan pondok pesantren Al-Barkah Al-Islamiyah menggelar Pendidikan Kesetaraan Gender dan Bakti sosial untuk mewujudkan lingkungan pendidikan   maslahat, dan ramah perempuan, yang dilaksanakan di Aula Pondok Pesantren Al- Barkah Al-Islamiyah, Pondok aren -Tanggerang Selatan, Sabtu (09/12/2023).

Isu kesetaraan gender dan emansipasi wanita dalam dekade terakhir ini menjadi 
perbincangan yang selalu menarik di berbagai kalangan, mulai dari kalangan akademisi, Ulama, hingga masyarakat umum. 

Kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak perempuan yang mendapatkan perlakuan diskriminatif, steorotipe, dan tersubordinasi dalam berbagai aspek kehidupan.

Perempuan belum mempunyai kebebasan yang sama dengan laki-laki dalam mengambil peran publik terutama dalam bidang pendidikan.

Ka Anis Fazirotul Mumtar, salah satu pemateri menyampaikan bahwa dskriminasi terkait pendidikan dalam keilmuan di pondok terkadang membatasi kaum perempuan untuk lebih aktif dalam bersosialisasi, padahal sejatinya baik perempuan dan laki laki memiliki derajat yang sama di mata tuhan, dan semua berhak mendapatkan hak yang sama.

Menurutnya adanya benturan dan permasalahan kesenjangan gender itu karena adanya budaya masyarakat. Adanya label kepada masing-masing gender, perbedaan peran antara
 laki-laki dan perempuan.

“Label laki-laki harus mencari nafkah dan perempuan harus mengurus rumah tangga,” ujarnya.

Oleh sebab itu pendidikan kesetaraan gender ini menjadi sangat penting, apa lagi pada usia usia remaja, yang notabennya yang akan menjadi penerus bangsa ke depannya. 

Dalam bentuk kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP) 
KOPRI KOMFAKDA juga mengadakan simulasi aksi dan musikalisasi puisi.

Dalam karyanya, Nadya chaerunnisa, dan fidelya hannan menuturkan:

"Satu musim di penghujung yang panjang 
ranting di dahan patah berlipat ganda
pucuk bunganya telah lama henti mekar
di robek rasa percaya pada dunia

Bajingan!
dasar kau tuan
kau bilang kami telah merdeka
nyatanya apa?!
patriarki merajalela

sudah saatnya kita ambil posisi
menyatakan tidak pada dunia yang membungkam yg terbentuk oleh konstruksi
Dibatasi geraknya oleh dominasi patriarki

16 hari tanpa kekerasan 
hidup di dapur bukan hanya ttg perempuan
perempuan bukan bahan perbudakan
karena zaman telah mengalami perubahan

Mari sama-sama memperjuangkan kesetaraan
mari sama sama kita hapus hantu-hantu patriarki
melangkah beriringan dalam spektrum pemerataan
menuju kesetaraan demi bakti yg memberdayakan"

Marilah kita wujudkan lingkungan pendidikan tanpa diskriminasi, dan indonesia damai anti kekerasan.***( Fidelya Hannan, Mahasiswa komunikasi dan penyiaran islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

TAGS :

Artikel Lainnya