Jakarta, INDONEWS.ID - Untuk pertama kalinya kita merayakan Hari Kebaya Nasional, presiden Joko Widodo bersama ibu Iriana hadir diantara 9 ribu wanita berkebaya di Istora Gelora Bung Karno. Pencetus Hari Kebaya Nasional, ingin mendaki Himalaya puncak tertinggi dunia dengan kebaya.
Kehadiran orang nomer satu Indonesia di Perayaan Hari Kebaya Nasional membuat Istora bergemuruh, apalagi Iriana mengenakan kebaya saat berjalan memasuki ruangan. Dari riuhnya ribuan wanita berkebaya, tampak hadir pemred indonews.id, Asri Hadi yang turut menyaksikan Hari Kebaya Nasional.
Usai Iriana menerima penghargaan dari acara tersebut, dan menikmati beberapa kesenian nasional rombongan Presiden meninggalkan Istora. Namun perayaan hari Kebaya Nasional masih terus berlangsung.
Rahmi Hidayati penggagas Hari Kebaya Nasional mengatakan, hari kita semua bahagia, karena dahulu kita bergerak hanya berpikiran semoga makin banyak orang yang mengenakan kebaya, mudah-mudahan anak muda tidak ribet pakai kebaya. Dahulu itu yang bergerak hanya beberapa orang, karena kita wartawan jadi bila bikin acara berkebaya diliput media, maka gerakan berkebaya makin banyak dikenal masyarakat.
"Gaung itu kemana-mana, karena infonya nyebar makanya banyak yang ikut bikin organisasi yang ada kata kebaya-nya. Sebelumnya tidak ada, dan akhirnya mereka bergrak selalu mengenakan kebaya maka gaungnya makin membesar", ujarnya.
Gaung berkebaya terus digelorakan brmacam organisasi, bahkan istana pun mengikuti langkah itu dengan menggelar 'Istana Berkebaya'. Dari situ kita tidak berhenti terus mengadakan acara seperti 1000 perempuan berkebaya, di situlah kita usulkan ada Hari Berkebaya Nasional. Jadi yang pertama kali mengusulkan adalah 'Perempuan Berkebaya', organisasi Rahmi Hidayati.
Rahmi sendiri sehari-hari selalu mengenakan kebaya, bahkan saat bersepeda 'ontel' dimana ada besi panjang yang melintang penghubung stang kemudi dengan jok kursi, ia tetap mengenakan kebaya. Rahmi dikenal sebagai perempuan pendaki gunung, saat mendaki pun ia berkebaya.
Menurutnya, saat ini pedagang di pasar tradisional di Yogya dan Solo hanya seglintir yang mengenakan kebaya tak seperti tahun 80-an hampir rata-rata mengenakan kebaya. Hal itu ia alami sendiri, saat melancong ke Yogya dan Solo, mampir ke pasar tradisional yang menggunakan kebaya tak lebih dari 5 orang, itupun usianya diatas 70 tahun.
Rahmi juga berupaya menjadikan kebaya sebagai warisan dunia tak benda, perkumpulannya sudah mengajukan ke Unesco, namun ada beberapa negara Asia yang juga melakukan hal yang sama. Aturannya memang bukan asal kebaya tapi pelestari, negara yang sudah 20 tahun melestarikan itu bisa mengusulkan. Akhirnya disepakati, memgajukan kebaya secara bersama-sama.
Impian Rahmi lainnya selaku pendaki gunung, ia ingin mendaki puncak tertinggi dunia sambil berkebaya. Beberapa gunung di Indonesia pernah menjadi saksi bisu aksi Rahmi kala mendaki puncak gunung dengan kebaya. Semoga impian dan keinginan Rahmi segera terwujud.