Oleh : JIMMY H SIAHAAN
Awal Tahun 2025 hingga 2045 artinya perjalanan dua dekade. Seratus Tahun Merdeka.
Optimisme itu ada didalam generasi baru. Dalam konteks ini, lahirlah sebuah generasi dengan gagasan khusus serta bergaul dan mengendalikan, berbasis big data, artificial intelligence, blockchain, cyber security, dan lainnya. Ada juga bonus demographi. Sebuah tenaga besar ditengah kendala income middle trap.
Tenaga besar dengan jumlah manusia produktif dua ratus juta adalah sesuatu yang dasyat. Lahir sebuah piramida manusia yang luarbiasa. Namun adanya kendala di middle income trap dapat mengganggu kehidupan jalannya demokrasi. Demikian juga di dunia pendidikan. Hal ini perlu dijaga dengan baik agar parameter Membaca, Matematika & Ilmu Pengetahuan tetap positip.
Saat itu kita sudah masuk di rangking negara kaya. Karena dengan pertumbuhan rata 5% selama dua dekade sudah dapat kita menjelaskan secaea gamblang posisi masa depan negara kita di dunia.
Optimisme lain adalah selain SDM ada sumber daya alam. Dengan potensi sumber alam besar seperti batubara, nikel, emas, minyak sawit, dan komiditi. Dilain pihak adanya kendala pembangunan industri serta hilirisasi sangat lamban.
Potensi sumber alam yang besar tidak menjadi nyaman akibat kelambanan produktifitas, membuat daya saing dan harga jual menjadi lemah, investasi harus digalakkan.
Dengan perkataan lain perlunya sebuah design ekonomi makro ( Empat Repelita) sebagai sebuah master plan untuk menggapai target.
Disamping perlu model ekonomi hijau dipastikan berjalan secara sungguh dan fokus pada target yg berjalan. Dan sebagai modal alami kesatuan yang tidak mengabaikan aset.
Belum lama Sri Paus Fransiskus kembali mengkritik negara2 kaya mempunyai "utang ekologis" terhadap negara berkembang. Ia menyebutkan hubungan ekonomi ini adalah hubungan dengan "struktur yang sesat" dan menolak pertumbuhan ekonomi bisa memecahkan masalah kelaparan dan kemiskinan. Menurutnya pola pikir itu sebagai sebuah " konsep pasar yang ajaib".
Isu Lingkungan hidup ini penting diangkat ke permukaan, dan saat kunjungan Bapa Suci Paus Fransiskus, mengingatkan Indonesia sedang dalam situasi darurat tata kelola lingkungan hidup. Dilain pihak beliau memuji Bhineka Tunggal Ika. Harta paling berharga adalah kerukunan. Perang adalah kekalahan.
*Alih-alih menyambut 'Indonesia Emas 2045' atau justru akan membawa kita pada ' Indonesia Cemas 2045'.*