Opini

Manusia Merdeka

Oleh : luska - Rabu, 09/10/2024 14:54 WIB


Penulis : Jimmy H Siahaan

Sebuah buku berjudul *Menuju Manusia Merdeka*, dikarang oleh Ki Hadjar Dewantara ( Suwardi Suryaningrat) 

Bapak Pendidikan,  yang memiliki semboyan. Ing Ngarsa sung tulada ( Panutan ), Ing Madya mangun karsa ( Semangat), Tut wuri handayani ( Dorongan).

Seorang Pelajar yang pertama menggunakan nama Indonesia untuk kantor beritanya di Belanda dinamakan, *Indonesisch Pers Bureau*, pada tahun 1913. Selanjut mendirikan tahun 1922, Sekolah Taman Siswa di Jawa.

Baca juga : Jakarta Satu

Taman siswa menurunkan mutu pengajaran dan membawa kita kembali sepuluh tahun ke belakang! Memang kita harus kembali beberapa puluh tahun, kita amat mengingini untuk menemukan 'titik tolak' agar kita dapat berorientasi kembali: kita telah salah jalan. 

Ki Hajar Dewantara berkata bahwa Pendidikan; Bukan hanya semboyan.

Beliau tidak berjuang sendiri. Lebih Terkenal dengan sebutan sebutan  Tiga Serangkai, Ki Hadjar Dewantara, Dr Douwes Dekker, dr Tjipto Mangunkusumo. 

Beberapa tokoh wanita mendirikan sekolah khusus perempuan, Kartini school, tahun 1912, terinspirasi dari surat yang dibuat oleh Kartini. Didirikan oleh Conrad van Deventer dan Elisabeth Maas.

Ada juga Sakola Istri, yang lalu berganti Sakola Kaoetamaan Isteri oleh Dewi Sartika di Tanah Sunda, demi mencerdaskan bangsa.

Sekarang ini dalam lima tahun belakang ada program *Merdeka Belajar*.  Mulai dari kurikulum, pelatihan, paradigma guru, transformasi anggaran dan berbagai perubahan lainnya. "Lima tahun terakhir kita telah melihat perubahan besar struktural yang paling mendasar dari kurikulum, pelatihan, paradigma guru, transformasi anggaran dan berbagai perubahan lainnya," kata Nadiem dikutip dari akun Nadiem menjelaskan, perubahan itu juga sangat progresif meski pada beberapa hal perubahan tersebut sulit untuk diterapkan di Indonesia.
 
Setelah  Kemendikbudristek meluncurkan ada 24 paket kebijakan sejak tahun 2019 hingga 2023, atmosfir pendidikan lebih kondusif, jarang menimbulkan kegaduhan yang berarti. Namun untuk pendidikan di rangking 57. Rata2 IQ 92.64  diperingkat 95. 

Di Indonesia, tingkat literasi masyarakat masih rendah, urutan kedua dari bawaj, menurut data Unesco sangat memperihatinkan, hanya 0.001%. Dilain pihak bahwa penggunaan ponsel pintar atau smartphone mencapai 167 juta dengan percentase 89% dari total penduduk.

Habibie mengatakan, Manusia perlu kuasai Pendidikan dan Kebudayaan. Kenapa kita harus merdeka ? Karena kita ingin meningkatkan *Produktivitas*. 

Kita kutip dari Sutan Takdir Alisyabana, bahwa kita harus mengadopsi nilai-nilai dari Barat yang bercirikan Intelektuil, Induvidualisme dan Materialisme. 

Dari semua ilmu pengetahuan, orang bijak dan baik lebih banyak mencari pengetahuan tentang diri mereka. Takdir berawal dari Renaisances, sebagai gerak humanisme yakni Manusia Merdeka.

TAGS : Jimmy siahaan

Artikel Lainnya