Jakarta, INDONEWS.ID - Salah satu butin Asta Cita Presiden terpilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka adalah mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
Agar Indonesia memiliki kemandirian pangan, pemerintah akan mencetak lumbung-lumbung pangan (food estate) terutama untuk padi, jagung, dan singkong. Prabowo-Gibran menargetkan menambah luas lahan panen hingga 4 hektare sampai akhir masa jabatan mereka pada 2029.
Program swasembada pangan tersebut ditargetkan tercapai dalam empat tahun. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh anggota Kabinet Merah Putih, terutama bagi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang dipercaya untuk ketiga kalinya sebagai Menteri Pertanian.
Menteri Amran Sulaiman mengaku optimistis swasembada pangan tersebut akan tercapai. "Kami akan berupaya keras mencapai target itu empat tahun. Bila perlu sebelum empat tahun," kata Amran di kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Rabu (23/10).
Dia mengatakan, ada beberapa strategi yang sudah disiapkan. Kementan juga telah menyiapkan blueprint untuk periode 2025-2029.
Di sektor perkebunan, katanya, semua komoditas unggulan harus borientasi ekspor sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Di sektor peternakan, Kementan akan mendorong investasi dari pihak swasta, khususnya sapi perah dan sapi potong.
Dia menambahkan, ada dua strategi utama untuk mencapai swasembada pangan tersebut yaitu dengan melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi, yang didukung dengan pertanian modern, sumber daya manusia, serta kolaborasi.
“Kita ada dua pendekatan. Pertama, intensifikasi atau peningkatan indeks tanam untuk lahan di Pulau Jawa. Kedua, kita lakukan ekstensifikasi 3 juta hektare. Target kita di 2025 cetak sawah 1 juta hektare,” ujar Amran.
Dia mengatakan, modernisasi pertanian menjadi salah satu kunci keberhasilan cetak sawah untuk meningkatkan produktivitas padi nasional.
“Dengan pertanian modern, produktivitas bisa dua kali lipat dan biaya produksi dapat ditekan. Panen secara tradisional butuh 25 orang. Dengan combine harvester, satu orang bisa mengerjakan cuman 4 jam,” tuturnya.
Profil Amran Sulaiman
Amran Sulaiman adalah tokoh asal Sulawesi Selatan (Sulsel). Kiprahnya di bidang pertanian sudah dimulai sejak tahun 1988.
Andi Amran Sulaiman merupakan anak pertama dari pasangan A.B. Sulaiman Dahlan Petta Linta dan Andi Nurhadi Petta Bau. Ia lahir di di Bone, 27 April 1968.
Dia mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Seluruh jenjang pendidikannya mulai dari sarjana hingga program doktor diselesaikan di Unhas.
Pendidikan S1-nya di Fakultas Pertanian Unhas diselesaikan dalam waktu lima tahun mulai 1988 hingga 1993. Kemudian, dia melanjutkan program S2 Pertanian pada 2002 kemudian lulus pada 2003. Selanjutnya, Amran melanjutkan jenjang S3 Ilmu Pertanian di Unhas pada 2008-2012. Program doktornya ini diselesaikan dengan predikat terpuji atau cumlaude.
Sebelumnya, Amran sempat bekerja di PTPNXIV. Dia juga dikenal sukses sebagai Direktur dan Founder Tiran Group. Tiran Group mempunyai unit bisnis lainnya, di antaranya PT Tiran Indonesia (tambang emas), PT Tiran Sulawesi (perkebunan tebu dan sawit), PT Tiran Makassar (distributor Unilever), PT Tiran Bombana (emas, timah hitam), PT Tiran Mineral (tambang nikel). *