Jakarta, INDONEWS.ID -Gawai atau handphone (HP) mengancam kehidupan dalam rumah tangga. Handphone genggam yang kini menggenggam kehidupan manusia sangat berpengaruh terhadap pola komunikasi dalam rumah tangga.
Menyadari hal itu, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Wihaji mengingatkan orang tua agar tidak membiarkan anak terlalu lama `ngobrol` dengan gawai setiap hari.
"Kunci utama untuk mengatasi persoalan keluarga adalah ngobrol (komunikasi) antar-anak dan orang tua, serta antar-suami dan istri. Jangan biarkan anak `ngobrol` setiap hari dengan handphone," ujar Wihaji dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (5/12/2024).
Menurut dia, setiap masalah yang kerapkali muncul dari keluarga, solusinya juga harus melibatkan keluarga.
Tidak hanya menyoroti persoalan komunikasi dalam keluarga gegara gawai. Wihaji juga menyoroti kecenderungan remaja ke hal-hal negatif.
Dia mengajak para remaja untuk menghindarkan diri dari tiga sikap negatif, yakni nikah dini, seks bebas dan narkotika karena hal tersebut akan berdampak negatif bagi masa depan.
Menurut Wihaji, generasi yang tidak sehat berpotensi melahirkan generasi stunting baru. Karena itu, dia juga berpesan kepada seluruh masyarakat untuk bergotong royong melakukan pencegahan stunting.
"Karena prevalensi stunting menurut data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 tercatat masih di angka 21,5 persen dengan 8,7 juta keluarga berisiko stunting.
Prevalensi stunting harus diturunkan menjadi 18 persen di tahun 2025. Namun, target tersebut bisa dicapai jika semua pihak turut memberikan andil.
Lanjut dia, intervensi pencegahan stunting sebaiknya lebih fokus pada empat menu yakni nutrisi, air bersih, rumah tidak layak huni, dan edukasi.
"Kita punya data berdasarkan nama dan alamat. Kita tinggal carikan orang tua asuh," tuturnya.