Jakarta, INDONEWS.ID - Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, menyerukan dimulainya kembali operasi militer skala penuh di Gaza setelah Hamas menolak proposal gencatan senjata terbaru yang diajukan oleh Amerika Serikat dan didukung oleh Israel.
"Perdana Menteri, setelah Hamas kembali menolak proposal kesepakatan tersebut, tidak ada alasan lagi untuk menunda," tulis Ben Gvir dalam pernyataan yang dirilis melalui akun Telegram resminya, Jumat (30/5). Ia menegaskan bahwa "kebingungan, perombakan, dan kelemahan harus dihentikan" dan menyerukan tindakan militer tegas. "Saatnya maju dengan kekuatan penuh, tanpa ragu, untuk menghancurkan dan membunuh Hamas sampai tuntas," tambahnya.
Pernyataan keras Ben Gvir muncul di tengah kebuntuan diplomatik terkait proposal gencatan senjata terbaru dari Amerika Serikat. Gedung Putih sebelumnya mengungkapkan bahwa Presiden Donald Trump dan utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, telah mengajukan usulan gencatan senjata kepada Hamas yang juga telah disetujui oleh pihak Israel.
“Israel telah menandatangani proposal tersebut sebelum dikirimkan ke Hamas,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, seperti dikutip AFP. Ia juga menyebutkan bahwa diskusi masih berlangsung dengan pihak-pihak terkait, meski belum ada konfirmasi resmi dari Israel soal penerimaan penuh atas usulan itu.
Sementara itu, dari kubu Hamas, tanggapan terhadap proposal tersebut cukup keras. Bassem Naim, anggota biro politik Hamas, menyatakan bahwa isi proposal versi terbaru hanya memperpanjang penderitaan rakyat Gaza. “Versi ini hanyalah lanjutan pembunuhan dan kelaparan. Ini tidak memenuhi tuntutan utama rakyat Palestina: penghentian total perang di Gaza,” ujar Naim.
Meski demikian, Naim menambahkan bahwa pimpinan Hamas masih mempertimbangkan proposal tersebut "dengan penuh tanggung jawab nasional".
Sumber-sumber yang dekat dengan Hamas mengungkapkan bahwa versi terbaru dari proposal gencatan senjata justru mengalami kemunduran dibandingkan versi sebelumnya, khususnya karena tidak adanya komitmen kuat dari AS terkait negosiasi gencatan senjata permanen.
Usulan terbaru itu, menurut dua sumber negosiasi, mencakup rencana gencatan senjata selama 60 hari dengan kemungkinan perpanjangan hingga 70 hari. Di dalamnya juga tercantum pertukaran sandera, yakni 10 sandera hidup dan sembilan jenazah dari pihak Israel akan dibebaskan pada minggu pertama, dengan pertukaran serupa dijadwalkan pada minggu kedua.
Sumber tersebut menyatakan bahwa Hamas sempat menyetujui pola pertukaran ini pada pekan lalu, namun dengan jadwal yang berbeda, yaitu satu kali di minggu pertama dan satu lagi di minggu terakhir masa gencatan senjata.
Ketegangan meningkat di kawasan menyusul pernyataan Ben Gvir, yang selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh paling keras dari sayap kanan pemerintahan Israel. Komunitas internasional kini memantau dengan cermat langkah berikutnya dari kedua pihak, di tengah upaya yang terus berlangsung untuk mencegah eskalasi lebih lanjut di Gaza.
Jika Anda ingin berita ini dikembangkan untuk media internasional, dengan kutipan tambahan atau narasi geopolitik yang lebih luas, saya bisa bantu menyusunnya juga.