Nasional

Hamas: Pasukan Internasional Harus Jadi Penjamin Gencatan Senjata, Bukan Alat Intervensi

Oleh : Rikard Djegadut - Minggu, 22/02/2026 11:33 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID – Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menegaskan sikap resminya terkait pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) yang baru saja diumumkan dalam pertemuan Dewan Perdamaian di Washington. Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyatakan bahwa kehadiran pasukan internasional hanya dapat diterima jika berfungsi sebagai pelindung rakyat Palestina dari agresi penjajah.

Hamas menekankan bahwa fokus utama kehadiran pasukan asing di Jalur Gaza haruslah bersifat teknis dalam menjaga perdamaian, bukan untuk mencampuri urusan pemerintahan mandiri di wilayah tersebut.

Dalam pernyataan resminya yang dilansir melalui Al Arabiya, Hazem Qassem menggarisbawahi bahwa posisi Hamas sangat jelas dalam menjaga kedaulatan internal Gaza.

"Kami menginginkan pasukan penjaga perdamaian yang memantau gencatan senjata, memastikan pelaksanaannya, dan bertindak sebagai penyangga antara tentara pendudukan (Israel) dan rakyat kami di Jalur Gaza," tegas Qassem. "Hal ini harus dilakukan tanpa mencampuri urusan internal Gaza sedikit pun."

Terkait rencana pembentukan pasukan polisi baru di Gaza yang sempat disinggung oleh perwakilan Amerika Serikat, Nickolay Mladenov, Hamas menyatakan bahwa upaya menjaga ketertiban adalah prioritas bersama, selama dilakukan dalam kerangka nasional Palestina.

Qassem menjelaskan bahwa melatih pasukan polisi dalam kerangka nasional bukanlah masalah jika tujuannya adalah menjaga keamanan internal dan menghadapi kekacauan yang sengaja diciptakan oleh pihak pendudukan serta milisi-milisinya.

Pengumuman di Washington menyebutkan bahwa sejumlah negara termasuk Indonesia, Maroko, Albania, Kazakhstan, dan Kosovo akan mengirimkan personel ke dalam ISF. Indonesia sendiri diproyeksikan mengirimkan hingga 8.000 pasukan dan menduduki posisi Wakil Panglima Operasi.

Bagi Hamas, kehadiran pasukan dari negara-negara yang memiliki rekam jejak penghormatan terhadap hak-hak Palestina diharapkan dapat menjadi penyeimbang, mengingat posisi Panglima ISF dipegang oleh Amerika Serikat—pihak yang sebelumnya merupakan mediator dalam gencatan senjata bulan Oktober lalu setelah perang dahsyat selama dua tahun.

Hamas akan terus memantau perkembangan pembentukan ISF ini guna memastikan bahwa setiap langkah yang diambil di lapangan benar-benar berpihak pada perlindungan warga sipil Gaza dan penghormatan terhadap hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa Palestina.

Artikel Lainnya