Jakarta, INDONEWS.ID - Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur digital di wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T) bukan hanya soal teknologi, melainkan bentuk nyata dari keadilan sosial.
Hal ini disampaikannya dalam sesi video conference yang menghubungkan Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital di Jakarta dengan SD Inpres 9 Halmahera Barat, sebagai bagian dari program BAKTI AKSI.
"Transformasi digital tidak mungkin terjadi tanpa konektivitas yang baik. Presiden Prabowo Subianto dalam visi besarnya juga menegaskan bahwa layanan-layanan publik akan dilakukan secara digital. Karena itu, kita perlu mempersiapkan sampai ke pelosok hingga pos di perbatasan untuk bisa terkoneksi,” ujar Meutya Hafid, Kamis (12/6).
Program BAKTI AKSI merupakan inisiatif perluasan pembangunan Base Transceiver Station (BTS) Universal Service Obligation (USO) di wilayah 3T, meliputi Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Dalam kesempatan itu, Meutya berdialog langsung dengan siswa dan tenaga pendidik di tiga provinsi, termasuk SD Inpres 9 Halmahera Barat.
Menteri Meutya menekankan pentingnya literasi digital yang mendampingi pembangunan infrastruktur. Ia mengingatkan bahwa internet yang hadir di tengah masyarakat harus diimbangi dengan pemahaman akan penggunaannya secara bijak.
“Banyak masyarakat ketika infrastruktur turun, belum tahu bagaimana pemanfaatan internet yang baik sehingga kemudian jadi terpapar kepada konten-konten negatif. Jadi saya harapkan agar menggunakan internet dengan baik,” tegasnya.
Ia juga menggarisbawahi tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau, yang membuat pembangunan konektivitas memerlukan kesabaran dan konsistensi. “Jadi tidak hanya terpasang, tapi berkelanjutan koneksinya, dan tentu juga dengan kecepatan yang baik,” kata Meutya.
Dari Halmahera Barat, Kepala Sekolah SD Inpres 9, Nurul, menyampaikan rasa syukurnya atas kehadiran layanan internet yang dinilai sangat membantu kegiatan belajar mengajar. Ia menuturkan, guru kini bisa mengikuti webinar dan pelatihan secara daring, sementara siswa mendapat kemudahan dalam proses asesmen digital.
“Ini anak-anak sekolah SD yang impresif di Halmahera Barat. Dengan hadirnya BAKTI AKSI di sekolah kami, sangat luar biasa. Ketika guru mengikuti webinar saat jam sekolah, kami bisa akses internet secara online. Anak-anak pun bisa mengikuti kelas dan asesmen dengan baik,” ungkap Nurul.
Program BTS USO merupakan wujud nyata komitmen pemerintah untuk memperluas akses internet sebagai fondasi pemerataan ekonomi, peningkatan mutu pendidikan, serta transformasi pelayanan publik berbasis digital di seluruh pelosok Nusantara.