Opini

JEJAK YANG HILANG:KETIKA NUSANTARA KEHILANGAN ARSITEKTUR ILMU PENGOBATANNYA

Oleh : luska - Jum'at, 29/05/2026 13:10 WIB


Dari Jamu, Sangkal Putung, hingga Barus yang Menghubungkan Nusantara dengan Dunia Kuno

Jakarta, 28 Mei 2026

Oleh: Brigjen Purn. MJP Hutagaol ‘86’

PENDAHULUANADA SESUATU YANG HILANG DARI INGATAN PERADABAN INDONESIA

Hari ini dunia mengenal berbagai sistem pengobatan besar.

Tiongkok memiliki:

akupuntur,

tabib,

Traditional Chinese Medicine.

India memiliki Ayurveda.

Barat memiliki kedokteran modern berbasis laboratorium, farmasi, dan teknologi medis.

Namun pertanyaan besar muncul:

Di mana posisi Nusantara?

Padahal Nusantara adalah:

salah satu wilayah dengan biodiversitas terbesar dunia,

jalur perdagangan rempah terbesar dalam sejarah,

wilayah maritim besar,

dan kawasan yang selama ribuan tahun dihuni kerajaan, pelaut, prajurit, petani, serta masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan alam tropis.

Logikanya sederhana:

Mustahil peradaban sebesar Nusantara tidak memiliki sistem pengobatan yang berkembang.

Kerajaan besar seperti:

Sriwijaya,

Majapahit,

Aceh,

Bugis-Makassar,

Mataram,

Ternate,

Tidore,

hingga berbagai komunitas adat Dayak, Batak, Melayu, Papua, Bali, Sunda, Banjar, Sasak, Ambon, dan lainnya,

tentu menghadapi:

luka perang,

wabah,

penyakit tropis,

persalinan,

racun,

patah tulang,

kelelahan pelaut,

hingga pemulihan stamina prajurit.

Artinya:ilmu pengobatan pasti berkembang.

Dan karena Nusantara terdiri dari ribuan pulau dengan kondisi alam berbeda,maka hampir pasti setiap wilayah memiliki:

tanaman obat,

teknik penyembuhan,

ramuan,

dan pengetahuan kesehatan lokalnya masing-masing.

Dengan kata lain:

Pengobatan Nusantara sebenarnya bukan milik satu suku atau satu daerah.

Ia adalah mosaik pengetahuan besar yang tersebar dari Sumatera hingga Papua.

Tetapi mengapa dunia tidak pernah mengenal istilah:“Ilmu Kedokteran Nusantara”?

MISSING LINK PERADABAN NUSANTARA

Di sinilah muncul kemungkinan adanya “missing link” besar dalam sejarah Indonesia.

Bisa jadi Nusantara memiliki pengetahuan pengobatan yang sangat kaya, tetapi:

tidak terkonsolidasi,

tidak terdokumentasi secara nasional,

diwariskan lisan,

tersebar per suku dan kerajaan,

bercampur budaya dan spiritualitas,

lalu perlahan terputus akibat kolonialisme dan modernisasi.

Berbeda dengan Tiongkok yang:

menulis,

mengarsipkan,

membangun sekolah,

menjaga identitas pengobatan timur,

lalu menghubungkannya dengan negara modern.

Nusantara justru mengalami:

penjajahan panjang,

hilangnya manuskrip,

runtuhnya pusat-pusat kerajaan,

serta perubahan pola pikir yang membuat ilmu lokal dianggap kuno dan tidak ilmiah.

Padahal jejaknya masih hidup sampai hari ini.

PENGOBATAN SEANTERO NUSANTARA:WARISAN YANG TERSEBAR DARI SABANG SAMPAI MERAUKE

Kalau ditelusuri,hampir setiap wilayah Nusantara memiliki tradisi pengobatan sendiri.

Di Jawa berkembang:

jamu,

pijat urat,

gurah,

Sangkal Putung.

Di Sumatera dikenal:

pustaha Batak,

ramuan Melayu,

minyak tradisional,

kemenyan,

pengobatan akar hutan,

hingga tradisi penyembuhan Minangkabau dan Aceh.

Di Kalimantan masyarakat Dayak memiliki:

pengetahuan akar-akaran hutan,

racun dan penawarnya,

tanaman antiseptik,

serta pengobatan berbasis alam tropis.

Di Sulawesi berkembang:

minyak Bugis-Makassar,

pengobatan pelaut,

ramuan stamina,

hingga teknik pemulihan tubuh masyarakat maritim.

Di Bali terdapat:

Lontar Usada,

boreh,

loloh,

dan sistem dokumentasi pengobatan tradisional yang masih bertahan.

Di Nusa Tenggara berkembang:

ramuan panas dalam,

tanaman savana,

minyak tradisional,

serta pengobatan masyarakat adat.

Di Maluku dan kepulauan rempah:

cengkeh,

pala,

kayu aromatik,

dan tanaman kesehatan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sedangkan di Papua,masyarakat adat sejak lama mengenal:

tanaman penyembuh luka,

pengobatan hutan,

teknik bertahan hidup,

hingga pemanfaatan tanaman pegunungan tropis yang banyak belum diteliti modern.

Artinya:

Seluruh Nusantara sebenarnya adalah “laboratorium hidup” yang sangat besar.

Tetapi semua itu berjalan sendiri-sendiri.

Tidak pernah disusun menjadi:“arsitektur ilmu kesehatan Nusantara.”

JAMU:WARISAN FARMASI NUSANTARA YANG MASIH BERTAHAN

Kalau berbicara tentang pengobatan Nusantara,maka jamu tidak boleh dihilangkan.

Karena jamu sebenarnya bukan sekadar minuman tradisional.

Jamu adalah:

warisan empiris,

hasil pengamatan alam selama ratusan bahkan ribuan tahun,

dan bentuk farmasi alami masyarakat Nusantara.

Di dalam jamu terdapat perpaduan:

kunyit,

jahe,

temulawak,

kencur,

serai,

kayu manis,

daun sirih,

asam jawa,

cengkeh,

pala,

hingga ratusan tumbuhan lain yang tumbuh di tanah Nusantara.

Menariknya,banyak bahan jamu hari ini justru diteliti dunia modern karena memiliki:

antioksidan,

antiinflamasi,

antibakteri,

hingga kemampuan meningkatkan daya tahan tubuh.

Artinya:apa yang dulu dianggap “obat kampung,”perlahan mulai dibuktikan secara ilmiah.

Bahkan UNESCO telah menetapkan budaya sehat jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.

Ini bukan hal kecil.

Karena dunia mulai melihat bahwa jamu bukan sekadar tradisi lokal,tetapi bagian dari pengetahuan kesehatan manusia.

TUMBUH-TUMBUHAN NUSANTARA:LABORATORIUM HIDUP YANG BELUM SELESAI DIBACA

Indonesia adalah salah satu negara dengan kekayaan hayati terbesar di dunia.

Hutan Nusantara menyimpan:

ribuan tanaman obat,

akar-akaran,

getah,

rempah,

daun,

hingga resin alami yang belum seluruhnya diteliti.

Masyarakat adat sejak dulu menggunakan tanaman untuk:

demam,

luka,

infeksi,

sakit perut,

racun,

persalinan,

hingga pemulihan tenaga.

Contohnya:

daun sirih sebagai antiseptik,

kunyit untuk peradangan,

temulawak untuk pencernaan,

jahe untuk penghangat tubuh,

sambiloto untuk daya tahan,

minyak kayu putih untuk pernapasan,

hingga berbagai akar hutan Kalimantan dan Papua yang bahkan belum banyak diteliti modern.

Pertanyaannya:

Kalau semua itu ada,mengapa Indonesia belum menjadi pusat riset herbal tropis dunia?

BARUS:PINTU YANG MENGHUBUNGKAN NUSANTARA DENGAN DUNIA KUNO

Ketika nama Barus dibuka,kesadaran sejarah mulai terguncang.

Barus di pantai barat Sumatera sejak lama dikenal sebagai penghasil:

kapur barus,

dan kemenyan.

Bahkan nama “kapur barus” berasal dari nama daerah Barus sendiri.

Yang mengejutkan:catatan Yunani kuno dari Claudius Ptolemaeus abad ke-2 M sudah menyebut kawasan Barus sebagai bandar dagang penting dunia.

Artinya:jauh sebelum VOC,jauh sebelum kolonialisme Eropa,Barus sudah dikenal dalam jaringan perdagangan internasional.

KEMENYAN DAN KELAHIRAN YESUS

Dalam tradisi Kristen,saat kelahiran Yesus Kristus,tiga orang Majus dari Timur datang membawa hadiah:

emas,

mur,

dan kemenyan.

Mur dan kemenyan pada masa itu bukan barang biasa.

Keduanya digunakan untuk:

ritual,

pengobatan,

pengharum,

hingga pembalseman.

Pertanyaannya:

Dari mana dunia kuno memperoleh bahan aromatik bernilai tinggi itu?

Sejarah menunjukkan bahwa jalur perdagangan dunia kuno menghubungkan:

Arab,

Persia,

India,

hingga Asia Tenggara dan Nusantara.

Dan Barus adalah salah satu simpul penting perdagangan aromatik dunia.

Artinya:Nusantara kemungkinan besar sudah masuk dalam jaringan perdagangan global dunia kuno jauh sebelum era modern dimulai.

PENUTUPMUNGKIN NUSANTARA TIDAK KEKURANGAN ILMU,TETAPI KEHILANGAN INGATAN

Barus, jamu, Sangkal Putung, pustaha Batak, Lontar Usada Bali, pengobatan Dayak, ramuan Bugis, pengetahuan Melayu, hingga tanaman obat Papua memberi satu pesan penting:

Bahwa Nusantara kemungkinan pernah memiliki:

pengetahuan kesehatan tropis,

pengobatan herbal,

teknik penyembuhan,

dan jaringan perdagangan kesehatan dunia yang sangat besar.

Tetapi sejarah itu tercerai-berai.

Dan mungkin,missing link terbesar Indonesia bukan hilangnya tanaman obat.

Melainkan hilangnya:kepercayaan bangsa terhadap warisan pengetahuannya sendiri.

Padahal bisa jadi,di balik hutan, rempah, lontar, pustaha, jamu, dan pengetahuan rakyat yang tersebar di seluruh Nusantara,tersimpan salah satu potensi peradaban terbesar Indonesia yang belum selesai dibaca.

Jakarta. ,28 Mei 2026 
Brigjen ( Purn ) MJP.Hutagaol

Artikel Lainnya