Jakarta, INDONEWS.ID – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, melontarkan ancaman terbuka terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah. Khamenei menyatakan bahwa Iran tidak segan melancarkan serangan balasan jika AS kembali melakukan tindakan agresif.
"Menyerang Pangkalan Udara Al Udeid bukanlah insiden kecil, melainkan insiden besar yang dapat terulang," tegas Khamenei dalam pernyataan publiknya, merujuk pada serangan rudal balistik yang dilakukan Iran bulan lalu terhadap pangkalan utama AS di Qatar. Serangan tersebut merupakan respons atas serangan udara AS terhadap tiga situs nuklir Iran pada 21 Juni 2025.
Ayatollah Khamenei menegaskan bahwa Iran memiliki kemampuan untuk menargetkan instalasi penting milik AS di kawasan. "Kami mampu mencapai situs-situs penting Amerika di kawasan itu," tambahnya, menegaskan kesiapan militer Iran dalam menghadapi konflik yang lebih luas.
Sementara itu, Pentagon mengonfirmasi kepada Al Arabiya English bahwa salah satu rudal Iran berhasil menghantam Pangkalan Udara Al Udeid. Citra satelit terbaru menunjukkan kerusakan pada salah satu radome—struktur pelindung peralatan komunikasi vital militer di pangkalan tersebut.
Meskipun demikian, juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, menyatakan bahwa serangan tersebut hanya menyebabkan kerusakan minimal tanpa korban luka. "Pangkalan Udara Al Udeid tetap beroperasi penuh dan mampu menjalankan misinya bersama mitra kami dari Qatar untuk menjaga stabilitas kawasan," ujarnya kepada Anadolu.
Pangkalan Al Udeid merupakan pusat operasi penting bagi Komando Pusat AS (CENTCOM) di Timur Tengah. Menyusul serangan rudal, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine menyebut bahwa insiden ini menjadi “keterlibatan tunggal terbesar sistem Patriot dalam sejarah militer AS.” Menurutnya, sistem pertahanan udara multilapis AS dan Qatar berhasil menggagalkan sebagian besar serangan.
"Meski ada yang menembus sistem pertahanan kami, banyak logam beterbangan di sekitar,” kata Caine, mengacu pada intensitas respons dari sistem pertahanan udara Patriot yang digerakkan oleh kru gabungan AS dan Qatar.
Situasi ini menandai babak baru dalam ketegangan geopolitik di kawasan, dengan potensi eskalasi yang bisa berdampak luas. Para analis memperingatkan bahwa saling serang ini bisa memicu konflik terbuka antara dua kekuatan besar jika tidak ada upaya deeskalasi dari kedua pihak.