Catatan : Mustafa akmal SH MH
Perwakilan Indonews Sumbar
Mekah, INDONEWS.ID --- Hari kedua di kota suci Makkah dimulai sejak dini hari. Sekitar pukul 03.00 waktu setempat, saya terbangun setelah dibangunkan oleh keluarga. Karena kami berada dalam rombongan travel, kamar kami diisi empat orang — laki-laki dan perempuan terpisah — menciptakan suasana yang lebih fokus dan tenang untuk beribadah.
Masih mengenakan pakaian ihram, saya bersama rombongan kembali menuju Masjidil Haram. Kami menunaikan thawaf sunnat, berbeda dari thawaf wajib yang telah kami laksanakan sebelumnya. Kami tidak lagi melakukan sa’i. Thawaf ini menjadi bentuk kecintaan kami kepada Allah, menyatu dalam pusaran ribuan jamaah dari berbagai bangsa. Selesai thawaf, kami melanjutkan dengan shalat Tahajud, lalu shalat Subuh berjamaah, dan menanti waktu Syuruq dengan dzikir dan doa. Setelah itu, kami kembali ke hotel untuk sarapan pagi dengan menu nasi goreng.
Namun keistimewaan hari itu belum selesai.
Sekitar pukul 10.00 pagi waktu setempat, Ustadz Aan, pembimbing Medina yang masih muda namun sangat santun dan bijak, mengajak kami kembali ke Masjidil Haram. Ia berkata dengan lembut, "InsyaAllah, hari ini kita usahakan bisa mencium Ka'bah." Hati kami langsung bergetar. Di tengah jutaan jamaah, mungkinkah?
Dengan kesabaran luar biasa, Ustadz Aan memimpin langkah kami menembus lautan manusia. Meski kami tidak lagi thawaf dan sa’i, kami tetap mengenakan ihram. Di pelataran Ka'bah, kami melaksanakan shalat Dhuha, lalu perlahan-lahan mendekat…
Dan saat itu terjadi…
Saya berhasil mencium Ka'bah. Tangan saya menyentuh dindingnya, kening saya menempel. Air mata tak terbendung. Saya menangis. Istri saya juga menangis. Ia berbisik pelan, “Tak sangka Allah izinkan kita sedekat ini…” Tangisnya bukan karena sedih, melainkan karena syukur yang meluap dari dalam hati.
Momen itu sangat sakral. Jamaah lain dari rombongan kami juga larut dalam tangis, sama-sama tersentuh oleh anugerah luar biasa ini. Semua ini berkat bimbingan Ustadz Aan, yang penuh kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang. Kami, para jamaah yang sebagian sudah sepuh, merasa dihormati seperti orang tua sendiri.
Setelah momen suci itu, kami tetap bertahan di dalam Masjidil Haram hingga waktu Zuhur tiba. Meski tubuh mulai lelah, kami tak ingin segera pulang. Kami ingin mengisi waktu dengan shalat, dzikir, dan syukur. Shalat Zuhur menjadi penutup hari kedua yang begitu penuh berkah.
Hari kedua ini akan selalu kami kenang sebagai puncak haru dan cinta kepada Allah. Di tengah jutaan umat Islam, kami diberi kesempatan oleh Allah untuk mendekat, menyentuh, dan mencium Ka'bah, dengan tangis yang tak bisa dibohongi. Dan semua itu, kami lalui dengan bimbingan penuh kasih dari Ustadz Aan dan kekuatan doa yang tak pernah putus. (Mustafa akmal)