Nasional

Eks Kepala Intelijen Militer Israel Sebut Netanyahu Abaikan Peringatan Perang Sebelum 7 Oktober

Oleh : Rikard Djegadut - Minggu, 24/08/2025 10:06 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID – Mantan Kepala Direktorat Intelijen Militer Israel (Aman), Aharon Haliva, mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menerima peringatan intelijen tentang kemungkinan perang sebelum serangan 7 Oktober 2023.

Pernyataan itu terungkap dalam rekaman audio yang bocor dan disiarkan Channel 12 Israel. Dalam rekaman tersebut, Haliva menyampaikan pengakuan jujur sekaligus kritik tajam terhadap cara perang dikelola di bawah kepemimpinan Netanyahu dan pemerintahannya.

Haliva mengingatkan bahwa dirinya sudah menyinggung risiko perang ketika gelombang protes terhadap perombakan peradilan memanas sebelum 7 Oktober. Ia menilai Israel saat itu menghadapi ancaman strategis besar di tengah fragmentasi sosial dan politik.

“Setiap informasi dari Direktorat Intelijen sampai ke perdana menteri, kepala Mossad, dan kepala Shin Bet. Semuanya didokumentasikan dan diedarkan,” kata Haliva.

Meski menerima laporan rutin, Haliva menyebut Netanyahu semakin jarang menghadiri pengarahan intelijen. “Dulu dia bertemu dengan kepala intelijen setiap pekan. Kemudian menjadi sebulan sekali, lalu dua bulan sekali—karena dia tidak ingin mendengar apa pun yang bertentangan dengannya,” ujarnya.

Haliva menggambarkan Netanyahu sebagai sosok “maha tahu” yang tetap menerima dokumen penelitian resmi berisi peringatan jelas, namun tidak mengambil langkah konkret.
“Di negara normal mana pun, pejabat akan mengundurkan diri atas kejadian yang jauh lebih kecil dari ini. Tapi di sini, apa pun diizinkan,” tambahnya.

Ia juga menyinggung penderitaan keluarga sandera dan masyarakat Israel yang, menurutnya, diperlakukan seolah hidup dalam “keadaan syok permanen.”

Meski sejumlah pemimpin militer menegaskan Netanyahu telah diperingatkan sebelum 7 Oktober, perdana menteri dari Partai Likud itu konsisten membantah tuduhan tersebut.

Netanyahu sendiri kini tengah menghadapi tekanan besar, bahkan telah ditetapkan sebagai tersangka penjahat perang oleh Pengadilan Internasional terkait operasi militer Israel di Gaza.

Haliva lahir di Haifa pada 1967 dan bergabung dengan pasukan terjun payung Israel pada 1985. Karier militernya terus menanjak hingga ia ditunjuk sebagai Kepala Intelijen Militer pada 2021.

Pada 22 April 2024, Haliva mengundurkan diri dari jabatannya—menjadi perwira senior pertama yang mundur akibat kegagalan menyikapi serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Artikel Lainnya