Opini

Kesehatan di APFC 2025

Oleh : luska - Minggu, 05/10/2025 18:08 WIB


Penulis: Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University
Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 Persatuan Rumah Sakit se Indonesia dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025

Pada 4-5 Oktober 2025 diselenggarakan “ASEAN for the Peoples Conference (AFPC)” oleh “Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI)”. Peserta yang hadir sampai lebih dari 6 ribu orang, dan melibatkan sekitar 120 “civil society organization – CSO” dari berbagai negara ASEAN yang stand-stand nya penuh di seputar gedung Grand Ballroom Hotel Sultan Jakarta, meriah sekali, dan senang melihat mahasiswa kita dan generasi muda berbagai negara ASEAN dengan berbagai aktifitasnya.

Dari 24 sessi yang ada maka salah satunya adalah tentang kesehatan , yang berjudul “"Closing the Gaps: How to Achieve a Robust Health System Throughout Southeast Asia". Saya menjadi panelis di sessi ini bersama pakar dari Vietnam, Singapura dan Myanmar beserta empat orang pembahas (“discussant”) dari Filipina. Laos,  ASEAN Biological Threats Surveillance Centre (ABVC) dan Family Health Internasional (FHI 360), jadi  benar-benar dari dan untuk ASEAN.

Saya membahas dua topik, “One Health” dan juga Pandemi. Ada lima hal yang saya sampaikan. Pertama “One Health”  yang istilah Indonesianya adalah “Satu Kesehatan” adalah konsep yang amat penting yang merupakan kerja bersama kesehatan manusia, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan, di mana di dalamnya juga ada aspek pertanian serta juga keamanan pangan. Jadi kalau ada anak keracunan makanan di MBG sekarang ini, ada aspek ayam yang mungkin sudah tidak segar lagi, ada aspek nasi (tentu dari beras) mungkin sudah basi, dan juga ada aspek lingkungan berupa higiene dan sanitasi. Hal ke dua yang saya sampaikan tentang  “One Health” atau “Satu Kesehatan” ini adalah bahwa kita di ASEAN sudah memiliki Deklarasi Kepala Negara ASEAN tentang implementasi “One Health”, yang dikeluarkan waktu Indonesia memegang Keketuaan ASEAN di tahun 2023. Hal ke tiga, saya sampaikan adalah pentingnya implementasi langsung di lapangan yang bersifat multi-sektor ini. Tentu Deklarasi Kepala Negara adalah amat penting, tapi yang lebih penting juga adalah bagaimana implementasi nyatanya di lapangan di negara-negara ASEAN demi mewujudkan kesehatan masyarakat di kawasan kita.

Kemudian saya sampaikan hal ke empat dimana dunia (dan juga ASEAN) selama ini tidak siap menghadapi pandemi. Saya adalah sai anggota Reviu WHO untuk pandemi H1N1 tahun 2009, dan ketika itu tim kami sampai pada kesimpulan bahwa dunia tidak siap, terminologinya adalah “the world is ill-prepared”. Lalu waktu COVID-19 dan dunia kembali tidak siap sebagai kesimpulan Tim Reviu pandemi COVID-19, yang menyebutnya sebagai “the world was not-prepared”. Jadi dunia (termasuk ASEAN) sudah jatuh dua kali dalam lubang yang sama, jangan sampai jatuh ke tiga kalinya. Hal ke lima yang saya sampaikan bahwa di ASEAN sudah dibentuk “ASEAN Center for Public Health Emergencies and Emerging Diseases (ACPHEED)” yang terdiri meliputi tiga kegiatan dengan koordinasi tiga negara berbeda yaitu Vietnam (“Prevention and Preparedness”), Indonesia (“Detection and Risk Assesment”), dan Thailand (“Respons”). Tiga kegiatan itu adalah pilar penting untuk kesiapan kawasan ASEAN menghadapi kemungkinan pandemi. Saya sampaikan bahwa ke tiga kegiatan itu harus mulai dilaksanakan dengan seksama. 

 

Artikel Lainnya