Nasional

4 Begawan Media, yang Sering Disebut `Mak Erot`

Oleh : luska - Minggu, 12/10/2025 12:43 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Kenapa istilah Begawan—gelar yang biasanya disematkan pada seorang pendeta, pertapa, atau tokoh yang sudah mencapai pencerahan—malah dikaitkan dengan nama Mak Erot?

Sabar dulu, jangan baper. Simak dulu kisah yang satu ini.

Bagi sebagian besar orang dewasa di Jawa Barat, nama Mak Erot bukan nama asing.

Ia adalah sosok legendaris, seorang nenek sepuh yang dikenal punya keahlian tradisional dalam urusan pengobatan dan, ya… membesarkan alat vital pria.

_Eng-ing-eng_.

Kisahnya melegenda. Dengan ramuan herbal dan petuah spiritual, Mak Erot dipercaya bisa membangkitkan yang lemas, menghidupkan yang lesu, dan—kata pasiennya—membuat yang kecil jadi besar, yang tak berdaya jadi perkasa.

Nah, di dunia media, rupanya ada pula empat sosok yang sering dijuluki “Begawan Mak Erot.”

Bukan karena mereka ahli ramuan atau pengobatan, tapi karena punya kemampuan serupa—tentu dalam konteks berbeda.

Mereka membesarkan dan mengecilkan berita dengan presisi, menghidupkan isu yang nyaris mati, dan mengobati reputasi yang nyaris tumbang.

*Mereka disebut Begawan Media*.

Empat sosok ini dikenal sebagai para pendiri Forum Pimpinan Media Digital Indonesia (FPMDI) dan pengurus Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI).

Kiprah mereka di dunia jurnalistik digital sudah menembus batas antara media, komunikasi, dan strategi _branding_.

*1. Asri Hadi — Sang Diplomat Media*

Pemimpin Perusahaan HarianKami.com dan Pemred Indonews ini dikenal luas sebagai sosok yang tenang tapi tajam.

Mantan dosen IPDN, karier jurnalistik Asri Hadi dimulai dari HealthNews, media antinarkoba pertama di Indonesia yang diakui oleh UNODC (Badan Dunia PBB).

Kini, sebagai Bendahara AMDI, Asri menjadi penghubung antara dunia media, organisasi sosial, dan lembaga pemerintahan.

Ia dikenal sebagai problem solver yang lihai, terutama bagi pihak-pihak yang butuh citra positif dan strategi komunikasi yang elegan.

Singkatnya: yang lesu ia bangkitkan, yang sunyi ia gaungkan.

*2. Edi Winarto — Sang Arsitek Sistem Cerdas*

Lulusan S2 Hukum ini bukan hanya seorang advokat dan pengurus Peradi, tapi juga pemilik media Editor.id, MediaSosialita, dan MonitorNusantara.com.

Sebagai Sekjen AMDI, Edi dikenal sebagai “otak sistem” di balik pengelolaan jaringan media digital yang luas.

Ia memahami anatomi komunikasi digital seperti dokter memahami tubuh manusia.

Di tangannya, sistem, algoritma, dan strategi konten bisa disulap menjadi mesin pemberitaan yang hidup.

Ia membesarkan traffic, menenangkan krisis, dan merancang arah.
Begawan media dengan logika hukum dan sentuhan digital.

*3. S.S. Budi Rahardjo, MM — Sang Pengrajin Media*

Nama Budi Rahardjo alias Budi Jojo ini identik dengan Majalah Matra dan Majalah Eksekutif—dua media legendaris yang masih eksis di era digital.

Namun, kiprahnya jauh melampaui tinta dan kertas. Ia mengelola ekosistem media yang luas: dari Matranews.id, Eksekutif.com, Temposiana.com, Tiras.id, BeritaSenator.com, hingga HarianKami.com.

Selain itu, Budi juga dikenal sebagai penulis biografi tokoh-tokoh nasional dan penggerak media televisi digital streaming.

Ketua AMDI (Asosiasi Media Digital Indonesia) ini seperti pengrajin media: menyulam berita menjadi narasi bernilai, merajut citra menjadi kisah.

Yang kecil ia besarkan dengan cerita, yang besar ia bingkai dengan makna.

*4. Ahmed Kurnia — Sang Guru Komunikasi*

Dulu wartawan Tempo, kini dosen di London School of Public Relations (LSPR) dan London Stikom School.

Ahmed dikenal sebagai komunikator ulung, bukan hanya dalam pemberitaan, tapi juga dalam atmosfer pers Indonesia itu sendiri.

Ia memahami denyut industri media, perubahan pola konsumsi berita, hingga bagaimana algoritma memengaruhi persepsi publik.

Ketika publik gamang, Ahmed hadir dengan teori dan praktik komunikasi yang jernih.

Baginya, media bukan sekadar kanal informasi, melainkan ruang interaksi sosial yang harus dijaga etika dan estetikanya.

*Empat begawan ini sering dijuluki “Mak Erot”-nya dunia media.*

Kenapa?

Karena keahlian mereka membesarkan yang kecil, mengecilkan yang besar, dan membangkitkan yang hampir punah.

Tentu saja, bukan dalam arti harfiah. Tapi dalam konteks komunikasi, branding, dan pemberitaan, mereka memang memiliki sentuhan ajaib.

Mereka paham cara menjaga reputasi di tengah dunia digital yang penuh AI, algoritma, bot, dan big data.

Mereka bukan sekadar jurnalis, tapi penyembuh wacana, dokter reputasi, dan perawat narasi bangsa.

Di tangan empat begawan ini, dunia media digital Indonesia bukan sekadar hidup—tapi perkasa.

TAGS : Empat sekawan

Artikel Lainnya