Penulis: Sudar Koma'udah
Praktisi Senior, bidang Bisnis Transportasi Niaga
Pada tahun 2023 yang lalu Pemerintah, dalam hal ini Kementerian BUMN, telah merencanakan penggabungan PT Garuda Indonesia (Garuda) dan PT Pelita Air Sevice (Pelita).
Sebagaimana kita ketahui, Garuda adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sedangkan Pelita adalah Anak Perusahaan PT Pertamina, yang juga BUMN. Jadi, ke dua Badan Usaha ini sama-sama milik Negara yang bergerak di bidang transportasi udara niaga. Jadi, seandainya ide untuk menggabungkan ke dua maskapai milik negara ini, hanya untuk menempatkan ke duanya dibawah satu payung, dengan tujuan hanya untuk mempermudah koordinasi, kerjasama dan pengawasan saja, maka ide penggabungan ini tentunya tidaklah urgen. Bukankah tanpa digabung secara resmi-pun, secara de facto ke dua Badan Usaha ini sudah berada dibawah kendali Pemerintah.
Namun demikian, bila konsep penggabungan ini dilihat dari sudut pandang bisnis, maka diperlukan analisis yang lebih dalam, karena di dalam bisnis segala sesuatunya harus dipertimbangkan dan diperhitungkan secara teliti, berapa besar nilai tambah yang bisa diperoleh nantinya. Untuk itu marilah kita lihat dari kedua sisi, baik dari sisi Garuda maupun dari sisi Pelita, mengenai apa yang bisa ditawarkan, dan apa yang bisa diharapkan oleh masing-masing pihak sebagai mitra.
Dari sisi Pelita; maskapai ini menggarap pasar charter, dimana konsumen utamanya adalah para mitra-usaha dan para kontraktor Perusahaan-induknya, PT Pertamina. Dan sebagai tambahan, Pelita juga menggarap pasar berjadwal dari segmen kelas bawah, sesuai dengan jenis layanan yang ditawarkannya sebagai low cost carrier. Dari segi ukuran bisnis, Pelita jauh lebih kecil dari Garuda. Dari data yang ada, Pelita tercatat memiliki Aset Perusahaan sebesar US $ 290 juta, atau kurang dari 1% dari Aset Garuda yaitu US $ 6,6 miliar. Kalau Pelita memiliki 21 pesawat yang menerbangi 13 rute, Garuda memiliki 73 buah pesawat dan beroperasi di 58 rute. Akan tetapi dari sisi keuangan, kondisi Pelita lebih baik dan lebih sehat dari Garuda. Dengan kinerja bisnis Pelita seperti sekarang, tentunya Pelita tidak melihat adanya potensi untuk mendapat nilai tambah yang berarti, bila digabung dengan Garuda.
Sebaliknya dari sisi Garuda; pasar yang digarap oleh Garuda adalah segmen pasar kelas Premium, dan produk yang ditawarkan adalah full service. Secara umum, bisnis Garuda sama sekali berbeda dengan Pelita, baik dari segi ukuran maupun karakternya. Hal ini terlihat jelas dari jenis alat-alat produksi yang dipergunakan dan strategi pemasaran yang dilancarkan oleh Garuda. Seperti halnya Pelita, Garuda juga tidak melihat apa manfaat yang kiranya bisa didapat bila bergabung dengan Pelita. Kondisi keuangan Garuda sangatlah memprihatinkan, dimana nilai Ekuitasnya Negatif. Lalu apa yang bisa Garuda tawarkan kepada Pelita? Bagaimana mungkin Garuda bisa membantu untuk membesarkan Pelita, kalau untuk mempertahankan dirinya saja sudah sulit.
Oleh karena itu, dari analisis diatas, dapat kita simpulkan bahwa Garuda dan Pelita masing-masing memiliki karakter dan ukuran bisnis yang sangat berbeda. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa Garuda dan Pelita memiliki "DNA Bisnis" yang tidak sama, sehingga untuk bergabung mereka adalah bukan muhrim-nya.
Khusus untuk Garuda, hal yang paling mendesak untuk diatasi adalah masalah hidup- matinya Garuda, yaitu Hutang-Hutang dan Ekuiti-Negatifnya, bukan malah merger-mergeran yang tidak jelas tujuan strategisnya.
Jakarta, 14 Oktober 2025