Penulis: Sudar Koma`udah
(Praktisi Senior bidang Bisnis Transportasi Niaga)
Bagi masarakat awam, berita tentang kerugian kronis yang selama ini diderita oleh PT Garuda Indonesia, bukanlah berita baru. Tapi anehnya, berita-berita tentang Garuda ini tidak pernah sepi dan selalu ada saja berita baru yang menjadi topik
pemberitaan.
Pada akhir tahun 2024 yang lalu, Garuda mengumumkan rencana pembelian +/- 100 buah pesawat baru dari berbagai tipe dan merek seperti Boeing, Airbus atau bahkan pesawat baru dari Cina. Setelah itu, kira-kira sebulan yang lalu, terbetik berita bahwa Garuda akan segera mengangkat seorang Direktur Keuangan baru, atau yang dalam istilah asingnya
disebut Chief Financial Officer
(CFO), yang konon kabarnya akan di rekrut ex luar negeri. Tak pelak lagi, ke dua berita ini membuat masarakat terheran-heran.
Yang pertama, menambah pesawat. Logikanya, tujuan penambahan pesawat adalah untuk menambah revenue. Tapi, bukankah selama ini hasil penjualan Garuda selalu merugi? Dan penyebabnya adalah tingkat biaya operasi
Garuda yang lebih tinggi dari
tingkat revenuenya? Artinya, dengan kondisi seperti itu, menambah produksi berarti menambah kerugian? Lalu kenapa tak dimulai dengan memperbaiki kinerja penjualan terlebih dahulu?
Ditambah lagi dengan adanya fakta, bahwa ada 15 buah pesawat yang kini on ground alias nganggur, karena biaya maintenance-nya masih belum terlunasi? Lalu kenapa tidak melunasi tunggakan
biaya pemeliharaannya saja terlebih dahulu, daripada tergesa-gesa membeli pesawat baru?
Yang kedua, mengangkat CFO professional ex airline asing kelas dunia? Apa sasaran yang ingin dicapai? Apakah untuk mengelola aset keuangan Garuda secara lebih baik? Pertanyaannya adalah, aset Garuda yang mana? Bukankah nilai Ekuitas Garuda sudah lama negatif?
Nilai Ekuitas Garuda yang negatif sejak 2020 itu berkisar di angka USD 1,35 miliar. Sedangkan soal kerugian dan akumulasi hutang itu bukan masalah pokok Garuda, tapi akibat dari masalah lain, yaitu penjualan yang merugi. Kita semua tahu bahwa masalah rugi-usaha itu bukanlah ranah seorang CFO untuk mengatasinya. Masalah rugi-usaha harus diatasi lewat dua jalur yaitu, jalur marketing untuk meningkatkan revenue
dan jalur flight operation untuk meningkatkan efisiensi biaya.
Mengamati hal-hal tersebut diatas, kiranya tak berlebihan bila kita berpendapat bahwa BUMN yang bernama PT Garuda Indonesia ini sebaiknya dipimpin dan dikelola oleh seorang CEO yang disamping memiliki strong leadership juga punya sense of business yang tinggi, yang jeli melihat pokok
permasalahan dan mampu mencari solusi yang efektif.
Di Indonesia, Garuda adalah
maskapai penerbangan yang the best managed dan yang paling banyak memiliki tenaga-tenaga pelaksana ahli yang profesional, tangguh dan berpengalaman. Di bidang pemasaran, mereka tahu cara menyasar target-market yang potensial, demi peningkatan revenues. Sedangkan di bidang perencanaan produk,
mereka ahli mengoperasikan pesawat secara efisien dan efektif demi penghematan costs.
Kita berharap agar Garuda
bisa segera mengganti "kacamata-kuda" yang selama ini mereka gunakan, dan yang selama ini selalu mengecoh proses identifikasi masalah, dengan cara yang lebih baik. Yang jelas kita sepenuhnya yakin bahwa Garuda tidak memerlukan bantuan tenaga
pelaksana dari luar, baik dari maskapai lain di dalam negeri maupun tenaga "impor" dari luar negeri.
Jakarta, 9 Oktober 2025