Jakarta, INDONEWS.ID - Iflytek, perusahaan AI (kecerdasan buatan) raksasa asal China melakukan pertemuan dengan sejumlah kementerian/lembaga terkait di Indonesia, Selasa (28/10/2025) dan Rabu (29/10/2025).
Pertama, Iflytek menggelar pertemuan dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang diwakili oleh Dirjen Ekosistem Digital Edwin Hidayat Abdullah didampingi oleh Ketua Kemitraan dan Ekosistem Investasi Direktorat Pengembangan Ekosistem Digital, Muhammad Faisal, pada Selasa (28/10).
Ismeth Wibowo, Advisor Iflytek di Indonesia, hadir bersama Vice President of Government Affairs Ray Zhao dan Jiang Sucipto.
Ismeth mengatakan bahwa pertemuan tersebut untuk mengembangkan kerja sama dengan pemangku kepentingan Artificial Intelligence di Indonesia.

Ismeth mengatakan pihaknya juga melakukan pertemuan dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi dan kemudian dilanjutkan pertemuan dengan Telkomsel, pada Rabu (29/10/2025).
Ismeth Wibowo mengatakan, rencana investasi Iflytek, perusahaan kecerdasan buatan (AI) dari China disambut baik oleh Kemenkomdigi, Kemendiktisaintek dan Telkomsel.
Pertemuan dengan Kemendiktisaintek, kata Ismeth, diwakili oleh Dini Septanti dari Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan. Dan dari Telkomsel diwakili oleh General Manager Enterprise Customer Solutions Management, Fadli dan James Chan.

AI Bukan Ancaman, Malah Berpotensi Ciptakan Lapangan Kerja Baru
Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa kecerdasan artifisial (AI) harus dipandang sebagai peluang besar bagi kemajuan ekonomi Indonesia, bukan sebagai ancaman bagi tenaga kerja manusia. Karena itu, dia menepis kekhawatiran bahwa AI akan menghapus jutaan lapangan pekerjaan di masa depan.
“Dikabarkan kecerdasan artifisial akan menggantikan sekitar 85 juta pekerjaan di dunia pada tahun 2025. Namun, pada saat yang bersamaan, AI juga berpotensi menciptakan 90 juta pekerjaan baru di berbagai bidang. Karena itu, AI perlu diwaspadai, tetapi tidak perlu ditakuti,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (28/10).

Menurut Meutya, Indonesia justru menjadi salah satu negara paling optimistis di dunia dalam menyambut revolusi AI. Masyarakat dinilai menunjukkan kesiapan tinggi dalam menerima teknologi baru tanpa rasa cemas berlebihan.
“Berdasarkan berbagai survei, Indonesia dinilai sebagai negara yang mampu menerima AI dengan baik, tidak takut, dan itu merupakan pertanda yang baik,” ucapnya.
Ia menegaskan, kunci utama dalam menghadapi gelombang teknologi ini adalah menempatkan AI untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya. “Kita coba melihat dan membicarakan AI dari perspektif yang berbeda. Bukan sekadar data dan angka, melainkan bagaimana AI bisa dimaknai sebagai alat bantu yang memperkuat manusia,” tutur Meutya.
Karena itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti-Saintek) Brian Yuliarto dan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid membuka peluang sinergi strategis untuk memperkuat kolaborasi pengembangan riset dan sumber daya manusia di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Pertemuan dilakukan di Kantor Kemendikti-Saintek, Jakarta, Senin (27/10). Pertemuan itu menjadi tonggak penting dalam menyelaraskan arah kebijakan riset dan inovasi AI agar sejalan dengan kebutuhan nasional serta memperkuat kedaulatan data Indonesia.
"Kami berkomitmen untuk menyinergikan arah riset nasional agar sejalan dengan kebutuhan strategis negara. Dunia kampus siap menjadi motor utama pengembangan talenta bidang AI yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga paham konteks kebijakan dan industri nasional," kata Mendikti-Saintek.
Sementara itu, raksasa telekomunikasi, Telkomsel, telah mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di hampir seluruh lini bisnisnya, mulai dari layanan pelanggan, keamanan, jaringan, hingga pengembangan produk digital baru.

Hal itu disampaikan oleh Ronald Limoa, VP Technology Strategy and Consumer Product Development, Telkomsel, di Jakarta, Kamis (23/10).
Menurutnya, penerapan AI menjadi bagian penting dari misi Telkomsel untuk mendukung Indonesia Emas 2045 melalui transformasi digital yang merata.
“Kami ingin memastikan seluruh masyarakat Indonesia punya akses dan kesempatan yang sama untuk mengakses teknologi, termasuk AI,” ujar Ronald seperti dikutip Kumparan.com.
Telkomsel, berperan besar dalam membuka akses komunikasi bagi masyarakat di seluruh pelosok negeri. Saat ini, jaringan Telkomsel telah mencakup hampir 100% populasi Indonesia, tak hanya manusia, tapi juga perangkat Internet of Things (IoT).
Misalnya, di sektor pertanian, sensor IoT Telkomsel membantu memantau unsur hara tanah. Sementara di area tambang, teknologi serupa digunakan untuk memastikan keamanan pekerja sebelum dilakukan peledakan, di mana sebelum blasting dilakukan, sistem Telkomsel akan memastikan tidak ada manusia di lokasi sehingga jauh lebih aman.
Tak berhenti di jaringan seluler, Telkomsel juga memperluas jangkauannya ke layanan fixed broadband lewat IndiHome yang telah mencakup pelosok desa. Menurutnya, peningkatan konektivitas berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi.
“Ada studi dari World Bank, di mana pertumbuhan GDP suatu negara atau suatu daerah akan terbantu kalau konektivitasnya ada dulu. Jadi GDP-nya akan naik kalau konektivitasnya ada dulu,” kata Ronald.
Ronald mengungkapkan bahwa saat ini Telkomsel telah mengembangkan berbagai solusi berbasis AI yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat. Salah satunya adalah Veronica dan Ted, asisten virtual Telkomsel yang kini berevolusi menjadi platform Your Own Advanced Virtual Assistant (Alfa). Melalui Alfa, pelaku usaha bisa membuat AI chatbot sendiri tanpa kemampuan teknis rumit.
“Misalnya UMKM ingin bikin chatbot untuk melayani pelanggan, cukup masukkan data bisnisnya ke Alfa, dan sistem akan menyiapkan asisten virtual otomatis,” kata Ronald. *