Nasional

Serangan Udara Israel Tewaskan 104 Warga Palestina di Gaza, Termasuk 46 Anak-Anak

Oleh : Rikard Djegadut - Minggu, 02/11/2025 13:09 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Sedikitnya 104 warga Palestina tewas dalam serangan udara besar-besaran Israel di Jalur Gaza pada Selasa malam (28/10/2025). Serangan itu disebut sebagai yang paling mematikan sejak gencatan senjata sementara diberlakukan bulan lalu, menurut laporan Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas.

Militer Israel menyebut serangan tersebut menargetkan “puluhan titik teror dan teroris” sebagai tanggapan atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas. Namun, Hamas membantah tuduhan itu dan menuding Israel sengaja berupaya menggagalkan kesepakatan damai yang ditengahi Amerika Serikat.

Serangan udara Israel menghantam rumah-rumah warga, sekolah, serta permukiman padat di Kota Gaza dan Beit Lahia, wilayah utara Jalur Gaza. Saksi mata menggambarkan pemandangan mengerikan ketika kobaran api dan asap tebal membubung tinggi, disertai suara ledakan bertubi-tubi di tengah kawasan padat penduduk.

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 46 anak-anak dan 20 perempuan termasuk di antara korban tewas, sementara lebih dari 250 orang lainnya luka-luka.

Di kamp pengungsi Bureij, lima anggota keluarga Abu Sharar dilaporkan meninggal dunia setelah rumah mereka di Blok 7 hancur akibat serangan.

Badan Pertahanan Sipil Hamas menyebut tiga perempuan dan seorang pria berhasil diselamatkan dari reruntuhan rumah keluarga al-Banna di kawasan Sabra, selatan Kota Gaza.

“Dunia macam apa ini? Apakah ini gencatan senjata? Mereka sedang tidur. Mereka ingin belajar,” ujar Umm Mohammed, sepupu korban Bayan al-Shawaf, yang tewas bersama empat anaknya akibat serangan di tenda pengungsi al-Mawasi, Khan Younis.

Serangan di Khan Younis disebut sebagai yang paling mematikan sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan. Tim penyelamat masih menggali puing-puing tenda dan bangunan sederhana untuk mencari korban hilang.

Militer Israel (IDF) menyatakan operasi tersebut dilakukan setelah seorang tentara mereka tewas akibat penembakan di Rafah, dekat Garis Kuning—batas wilayah kendali Israel di Gaza.

Prajurit yang tewas diidentifikasi sebagai Sersan Mayor Yona Efraim Feldbaum, anggota pasukan teknik yang tengah membongkar rute terowongan bawah tanah.

“Beberapa menit kemudian, beberapa rudal anti-tank ditembakkan ke kendaraan lapis baja lain, tetapi tidak ada korban tambahan,”
ungkap sumber militer Israel.

Hamas membantah terlibat dalam penembakan tersebut dan menuding Israel menggunakan insiden itu sebagai dalih untuk melakukan pembalasan besar-besaran.

Netanyahu Perintahkan “Serangan Dahsyat”

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Netanyahu telah memerintahkan IDF melancarkan serangan dahsyat di Gaza, meski tanpa penjelasan rinci mengenai alasan operasionalnya.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menuding Hamas telah “melewati garis merah terang” dengan menyerang tentara Israel.

“Hamas akan membayar berkali-kali lipat atas pelanggaran dan serangan terhadap tentara Israel,” katanya.

Usai serangan, IDF mengumumkan penegakan kembali gencatan senjata pada Rabu pagi (29/10/2025), namun tetap menyatakan akan menanggapi tegas setiap pelanggaran perjanjian.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa Israel memiliki hak untuk membalas serangan setelah tentaranya tewas.

“Sejauh yang saya pahami, mereka membunuh seorang tentara Israel, jadi Israel membalas dan memang seharusnya membalas,” kata Trump dalam pernyataannya di atas pesawat kepresidenan Air Force One.

Trump menegaskan bahwa gencatan senjata tidak akan terganggu, dan menyerukan Hamas agar “bersikap baik” demi perdamaian di Timur Tengah.

Sementara itu, Kepala HAM PBB Volker Türk menyebut laporan tewasnya banyak warga sipil sebagai “sangat mengerikan”, dan mengingatkan agar semua pihak tidak menyia-nyiakan peluang perdamaian di kawasan.

Namun beberapa jam setelah pengumuman kelanjutan gencatan senjata, IDF kembali melakukan serangan udara di Beit Lahia, menargetkan lokasi yang disebut sebagai penyimpanan senjata dan fasilitas udara milik kelompok bersenjata Gaza.

Serangan beruntun ini menambah penderitaan warga Gaza yang kini menghadapi situasi kemanusiaan kritis, dengan rumah sakit penuh sesak, pasokan obat menipis, dan ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal akibat rentetan serangan udara.

Artikel Lainnya