Nasional

Teknologi: Bikin Pelajar Percaya Diri Belajar atau Malah Jadi Sumber Kecemasan Baru?

Oleh : Rikard Djegadut - Kamis, 13/11/2025 19:18 WIB


 

Jakarta, INDONEWS.ID - Di era serba digital, teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajar. Dari aplikasi desain yang memudahkan presentasi hingga platform daring yang memfasilitasi kolaborasi, semua terasa lebih cepat dan menarik. Namun, apakah kemudahan ini benar-benar membuat pelajar makin percaya diri belajar, atau justru menimbulkan kecemasan dan ketergantungan baru?

Dalam artikel opini berjudul “Teknologi Bikin Kita Makin Percaya Diri Belajar, atau Justru Bikin Cemas?”, Asrianti Clara Agnestiara dan Fransisca Iriani Roesmala Dewi mengajak pembaca menelusuri dua sisi dunia pembelajaran digital. Dengan mengacu pada teori psikologi belajar dari Albert Bandura serta Deci & Ryan, keduanya menyoroti bagaimana teknologi dapat menjadi panggung ekspresi yang membangun kepercayaan diri—namun juga bisa menjadi jebakan jika tidak diimbangi dengan motivasi dan dukungan yang sehat.

Artikel ini menegaskan, teknologi hanyalah alat, sementara kepercayaan diri adalah kunci utama untuk bertumbuh di era digital. Sebuah refleksi menarik bagi guru, siswa, dan siapa pun yang percaya bahwa belajar bukan hanya soal kecanggihan perangkat, tetapi juga keyakinan pada kemampuan diri.

Baca selengkapnya di rubrik Opini: “Teknologi Bikin Kita Makin Percaya Diri Belajar, atau Justru Bikin Cemas? oleh Asrianti Clara Agnestiara & Fransisca Iriani Roesmala Dewi.

Pernahkah Anda merasa lebih bersemangat saat mengerjakan tugas presentasi dengan aplikasi desain yang keren? Atau sebaliknya, justru merasa cemas ketika harus mengunggah tugas ke platform daring yang belum familiar? Di era digital ini, teknologi telah merasuk ke hampir semua sisi kehidupan belajar kita. Mulai dari video pembelajaran interaktif, kuis daring yang seru, hingga kolaborasi proyek virtual—semuanya terasa lebih praktis dan menarik.

Namun, di balik semua kemudahan itu, muncul pertanyaan penting: apakah teknologi benar-benar membuat kita semakin percaya diri saat belajar, atau justru menumbuhkan kecemasan dan ketergantungan baru?

Antara Koneksi dan Keterasingan

Tidak semua orang langsung merasa nyaman dengan teknologi. Sebagian cepat beradaptasi, sementara sebagian lain justru merasa gugup, bahkan panik saat harus menekan tombol “kirim” pada platform tugas online. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi tidak otomatis berbanding lurus dengan rasa percaya diri.

Padahal, rasa percaya diri atau self-efficacy merupakan kunci penting dalam proses belajar. Psikolog Albert Bandura (1997) menjelaskan bahwa efikasi diri adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan tugas. Semakin tinggi efikasi diri seseorang, semakin besar pula motivasinya untuk belajar dan menghadapi tantangan. Artinya, ketika kita yakin bisa memanfaatkan teknologi dengan baik, kita akan lebih berani mencoba hal-hal baru tanpa takut gagal.

Dari Kelas Monoton ke Panggung Ekspresi

Jika dulu kelas sering identik dengan suasana kaku dan membosankan, kini pembelajaran bisa berubah menjadi ajang ekspresi. Teknologi memungkinkan kita membuat video animasi, menjawab kuis interaktif, atau berdiskusi di forum daring. Suasana belajar pun terasa lebih hidup dan partisipatif.

Menariknya, media digital juga membuka ruang bagi siswa yang biasanya pendiam di kelas. Melalui dunia maya, mereka bisa mengekspresikan ide dengan lebih bebas dan percaya diri. Bahkan, rasa bangga muncul ketika karya digital mereka diapresiasi publik. Teknologi, dalam konteks ini, bukan hanya alat bantu, melainkan panggung yang menumbuhkan kepercayaan diri dan kreativitas.

Motivasi: Bahan Bakar Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri dalam belajar tidak bisa tumbuh tanpa motivasi. Edward Deci dan Richard Ryan (2002) melalui teori Self-Determination menjelaskan bahwa motivasi belajar tumbuh kuat ketika tiga kebutuhan psikologis terpenuhi: Merasa mampu, yaitu yakin dapat menyelesaikan tugas dengan baik; Merasa bebas memilih, artinya memiliki kontrol terhadap cara belajar sendiri; Merasa didukung, baik oleh guru, teman, maupun lingkungan belajar.

Ketika ketiganya terpenuhi, belajar menjadi pengalaman yang menyenangkan, bukan menegangkan. Kita tidak takut gagal, bahkan berani bereksperimen dengan teknologi baru. Karena, seperti kata pepatah, “Percaya diri bukan berarti tak pernah gagal, tapi berani mencoba meski belum tentu berhasil.”

Belajar Aktif di Dunia Digital

Belajar aktif bukan hanya soal hadir di kelas—baik tatap muka maupun daring. Ia berarti terlibat penuh, berpikir kritis, dan ingin tahu. Siswa yang percaya diri tidak mudah panik ketika koneksi internet terputus atau aplikasi bermasalah. Mereka tetap fokus mencari solusi, karena tahu bahwa kendala teknis hanyalah bagian kecil dari proses belajar.

Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Guru bukan sekadar penyampai materi, tapi juga fasilitator yang mampu menumbuhkan rasa percaya diri siswa dalam menghadapi teknologi. Pendekatan seperti TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) membantu guru mengintegrasikan teknologi, metode pengajaran, dan pemahaman materi secara seimbang. Dengan begitu, teknologi bukan sekadar tren, melainkan jembatan menuju pembelajaran yang lebih bermakna.

Teknologi Hanya Alat, Kepercayaan Diri adalah Kunci

Teknologi memang membuka akses yang luas terhadap ilmu pengetahuan dan kreativitas. Namun, tanpa kepercayaan diri dan motivasi yang kuat, kemudahan itu bisa menjadi sumber kecemasan. Sebaliknya, jika kita yakin pada kemampuan diri dan mendapat dukungan yang positif, teknologi justru akan menjadi sahabat terbaik dalam belajar.

Pada akhirnya, teknologi seharusnya tidak membuat kita bergantung, tetapi membantu kita percaya bahwa kita mampu belajar dan berkembang dengan cara kita sendiri. Karena, sebagaimana dikatakan Bandura, kendali sejati atas pembelajaran ada pada keyakinan kita terhadap diri sendiri—bukan pada alat yang kita gunakan.

Referensi:

  • Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. W. H. Freeman.
  • Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2002). Overview of self-determination theory as it relates to motivation and learning. Dalam J. M. Reeve, S. M. Ryan, & R. M. Deci (Eds.), Handbook of self-determination research(hlm. 221-244). University of Rochester Press.

Artikel Lainnya