Peluncuran dan Bedah Buku Visi Anak Pasar Karya E Aminudin Aziz

Oleh : rio apricianditho - Senin, 17/11/2025 18:20 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Kehidupan masa kecil sedikit banyak mempengaruhi pola pikir kita di masa dewasa, seberapa kuat pengaruh itu?  Bisa kita temukan kala membaca buku karya E Aminudin Aziz berjudul "Visi Anak Pasar". Peluncuran sekaligus bedah buku dilakukan di Perpustakaan Nasional, dengan pembahas Okky Mandasari dan Fahri Alii. 

Aminudin Aziz merupakan Kepala Perpustakaan Nasional, dan dia lah salah satu sosok yang menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa yang dipakai Unesco. Masa kecil banyak banyak di habisi di lingkungan pasar, ibunya adalah pedagang di pasar tradisional di Cikoneng Tasikmalaya. 

Meski masa kecilnya penuh dengan perjuangan dalam menjalani hidup namun ia mampu menyelesaikan pendidikan hingga menggenggam gelar Profesor. Pernah menjadi Atase Kebudayaan di London, menjadi  staf ahli Rektor UPI dan banyak lagi jabatan yang pernah ia jalani hingga kini menjadi Ketua Perpustakaan. 

Menurut Okky Mandasari, membaca buku Aminudin kita jadi tahu menyiasati tradisi adalah untuk mencari splusi terbaik bukan untuk menabrak tradisi itu sendiri. Kita tahu ada aturan tapi kita juga bisa lihat ada peluang, Aminudin melihat itu. Secara umum orang ingin naik ke jenjang lebih tinggi harus urut kacang tapi Aminudin tidak karena dia melihat itu. 

"Dan itu terulang lagi saat pak Amin ingin mendapat gelar Profesor, di tradisi UPI dan UI bila belum berusia 60 tahun gak bisa tapi pak Amin tetap memperjuangkan itu. Dan jadilah dia profesor termuda", ujarnya. 

Menurutnya, etos mensiasati tradisi harus dilakukan pemimpin muda kita, bahwa tradisi ada untuk kita hormati tapi kita tak boleh menyerah begitu saja. Aminudin ini pantang surut bukan mbagaimana nanti, kita lihat saat dia sekolah, dia bikin bakso untuk sekolah atau mengantar agar-agar saat dia kecil. 

Lalu dikatakan, Aminudin ini presisten, sssuatu tidak akan bisa terjadi dengan muda, kita perlu konsistensi dalam berjuang dan ini yang harus kita jaga. Aminudin ini selalu ingin memberikan yang terbaik saat di menjadi asisten Rektor, selalu memberikan yang terbaik. Sebenarnya tugasnya membantu rektor tapi dia melampaui itu. 

Sementara itu Fahri Ali mengatakan, sosok Aminudin dalam buku biografinya ini, adalah orang yang tidak enakan. Saat dia menjadi Atase Kebudayaan dia mengenalkan budaya bukan budayanya sebagai orang Pasundan. Dia mengambil posisi netral, mengenalkan budaya Jawa yang bukan budaya sendiri (Sunda). 

Menurutnya, Amunudin orang yang ringan tangan dan tak segan membantu orang lain, saat kami kuliah di Australia saat itu Fahri membeli banyak buku yang total beratnya 1,5 ton. Buku itu harus dikirim ke Indonesia dengan pesawat, kala Fahri sibuk mencari ongkos angkut trrnyata buku-buku itu sudah dikemas rapih oleh Aminudin.

Artikel Lainnya