Nasional

Jumpa Susan Elaine Eisenhower

Oleh : Rikard Djegadut - Senin, 25/05/2026 21:31 WIB


Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim dan Susan Eisenhower (Foto: Dok. pribadi)

Oleh: 

Oleh Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim 

Jakarta, INDONEWS.ID - Nama besar Dwight D. Eisenhower tentu tidak asing bagi banyak orang Indonesia. Ia dikenang sebagai jenderal bintang lima yang memimpin Sekutu pada Perang Dunia II sekaligus Presiden Amerika Serikat ke-34 yang memerintah pada periode 1953–1961. Namun tidak banyak yang mengenal sosok cucunya, Susan Eisenhower, padahal namanya cukup disegani di kalangan global, terutama ketika orang berbicara mengenai strategi, keamanan internasional, geopolitik energi, dan hubungan Amerika Serikat–Rusia.

Saya sendiri berkesempatan berjumpa langsung dengan Susan Eisenhower pada November 2012 di Canberra ketika mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh Kokoda Foundation, sebuah lembaga think tank yang banyak bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan Australia dalam bidang kajian strategis dan keamanan kawasan. Pertemuan tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan, karena saya dapat menyaksikan secara langsung bagaimana seorang pemikir strategis kelas dunia menyampaikan gagasan-gagasannya dengan cara yang sederhana namun sangat mendalam.

Susan Elaine Eisenhower lahir pada 31 Desember 1951. Ia adalah putri dari John Sheldon Doud Eisenhower, seorang Brigadir Jenderal Angkatan Darat Amerika Serikat yang juga diplomat dan sejarawan militer. Sebagai cucu langsung Presiden Dwight D. Eisenhower, Susan tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan dunia strategi, militer, diplomasi, dan pengambilan keputusan tingkat tinggi. Namun ia tidak sekadar “menumpang nama besar” keluarga Eisenhower. Melalui kiprahnya sendiri, Susan berhasil membangun reputasi sebagai pemikir strategis dan konsultan internasional yang diperhitungkan dan disegani.

Nama Susan Eisenhower mulai banyak dikenal pada era Perang Dingin akhir hingga pasca runtuhnya Uni Soviet. Ia menaruh perhatian besar pada isu keamanan global, kontrol senjata nuklir, hubungan strategis Amerika–Rusia, serta keamanan energi dunia. Pengalamannya semakin kaya karena ia pernah menikah dengan Roald Sagdeev, seorang ilmuwan terkemuka Rusia yang pernah memimpin program penelitian antariksa Uni Soviet. Hubungan tersebut membuat Susan memiliki akses dan pemahaman yang sangat mendalam terhadap dinamika politik Rusia, terutama pada masa transisi pasca-Uni Soviet.

Walaupun keduanya kemudian berpisah, hubungan baik tetap terjalin. Bahkan keduanya tetap terhubung dalam berbagai kegiatan intelektual dan riset internasional. Pengalaman hidup lintas budaya dan lintas blok ideologi inilah yang membentuk Susan menjadi sosok yang memiliki perspektif strategis sangat luas dan tidak terjebak pada cara pandang sempit ala Perang Dingin.

Susan adalah Presiden dari The Eisenhower Group, sebuah lembaga konsultasi yang bergerak di bidang politik, bisnis, energi, dan public affairs. Ia juga aktif dalam berbagai lembaga pemikir internasional atau think tank yang fokus pada isu keamanan global dan kebijakan publik. Salah satu perannya yang cukup menonjol adalah sebagai Chairman Emeritus dari The Eisenhower Institute, sebuah lembaga kajian strategis yang bermarkas di Washington dan Gettysburg, Pennsylvania.

Di dunia internasional, Susan Eisenhower dikenal luas sebagai pembicara dan penulis yang produktif. Ia banyak menulis mengenai strategi besar Amerika Serikat, keamanan energi, ancaman nuklir, kepemimpinan global, serta pentingnya berpikir jangka panjang dalam kebijakan negara. Beberapa tulisannya bahkan menjadi rujukan di lingkungan akademik maupun kalangan pembuat kebijakan. Salah satu karya terkenalnya adalah buku How Ike Led, yang mengulas gaya kepemimpinan strategis kakeknya, Dwight D. Eisenhower. Melalui buku tersebut, Susan mencoba menunjukkan bahwa kepemimpinan strategis bukan hanya soal kekuatan militer, melainkan kemampuan mengelola aliansi, membangun konsensus, dan menjaga stabilitas global.

Selain itu Susan juga pernah terlibat dalam berbagai advisory board pemerintah Amerika Serikat, termasuk komisi yang berkaitan dengan kebijakan energi nuklir, keamanan nasional, dan hubungan internasional. Ia beberapa kali memberikan masukan kepada pemerintahan Amerika terkait strategi keamanan global dan pengelolaan ancaman abad ke-21, termasuk cyber security, proliferasi nuklir, dan persaingan geopolitik energi.

Dalam workshop di Canberra tersebut, Susan Eisenhower menyampaikan ceramah bertajuk Why Strategy Matters. Penampilannya yang anggun, tenang, dan penuh wibawa langsung menarik perhatian audiens. Namun yang paling mengesankan bukan sekadar penampilan fisiknya, melainkan kedalaman pemikiran strategis yang ia paparkan. Dengan gaya bicara yang sistematis dan elegan, Susan menjelaskan bahwa strategi bukan sekadar dokumen atau slogan politik, melainkan kemampuan sebuah bangsa membaca masa depan, memahami lingkungan strategis, dan menentukan arah nasional secara konsisten dalam jangka panjang.

Menurut Susan Eisenhower, banyak negara gagal bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena tidak memiliki budaya strategis. Negara sering terjebak dalam keputusan jangka pendek, kepentingan politik sesaat, dan euforia populisme, sehingga kehilangan arah besar pembangunan nasional. Pemikiran inilah yang membuat Susan Eisenhower dihormati di berbagai forum internasional, baik di kalangan militer, diplomat, akademisi, maupun komunitas bisnis global.

Dari sosok Susan Eisenhower, saya belajar bahwa strategi sesungguhnya bukan hanya milik para jenderal atau politisi, tetapi merupakan perpaduan antara visi, disiplin intelektual, kemampuan membaca perubahan global, dan keberanian menentukan arah masa depan. Dalam dunia yang semakin penuh ketidakpastian geopolitik seperti sekarang, pemikiran strategis semacam itu justru menjadi semakin relevan dan penting bagi setiap bangsa, termasuk Indonesia.

Dalam konteks Indonesia belakangan ini, pemikiran Susan Eisenhower mengenai pentingnya strategi menjadi terasa sangat relevan. Di tengah dinamika geopolitik kawasan Indo-Pasifik yang semakin kompleks, rivalitas kekuatan besar dunia, tekanan ekonomi global, ancaman siber, hingga persoalan kedaulatan udara dan maritim, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan reaktif jangka pendek.

Indonesia memerlukan budaya berpikir strategis yang mampu melihat jauh ke depan, menyatukan kepentingan nasional lintas sektor, serta menjaga kesinambungan arah pembangunan nasional. Sebab tanpa strategi besar yang jelas, sebuah bangsa mudah terombang-ambing oleh tekanan eksternal, kepentingan politik sesaat, dan perubahan global yang bergerak sangat cepat. Apa yang disampaikan Susan Eisenhower di Canberra tahun 2012 lalu kini terasa semakin nyata relevansinya terutama bagi Indonesia hari ini.Top of Form

Jakarta 25 Mei 2026

Chappy Hakim

Pusat Studi Air Power Indonesia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bottom of Form

 

Artikel Lainnya