Nasional

Pernyataan Banjir Sumatera hingga Terekam di Mal, Kepala BNPB Tuai Kontroversi

Oleh : Rikard Djegadut - Sabtu, 13/12/2025 13:53 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Suharyanto menuai kecaman publik buntut pernyataannya terkait banjir yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera. Pernyataan tersebut dinilai meremehkan skala bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Polemik semakin meluas setelah Suharyanto terekam kamera berada di pusat perbelanjaan di Medan saat proses penanganan bencana masih berlangsung.

Dalam konferensi pers penanganan banjir Sumatera pada 28 November 2025, Suharyanto menyatakan pemerintah pusat tidak menetapkan status bencana nasional karena peristiwa tersebut masuk kategori bencana daerah tingkat provinsi. Ia menegaskan, hingga kini pemerintah baru dua kali menetapkan status bencana nasional, yakni pada pandemi Covid-19 dan Tsunami Aceh 2004, yang dinilai memiliki skala korban sangat besar serta medan penanganan yang sulit.

Menurut Suharyanto, banjir di Sumatera belum memenuhi kriteria tersebut jika dibandingkan dengan dua peristiwa nasional tersebut. Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung persepsi publik yang terbentuk di media sosial.

“Memang kemarin kelihatannya mencekam ya, kan berseliweran di media sosial, tapi begitu (kami) tiba langsung di lokasi, banyak daerah yang sudah tidak hujan,” ujar Suharyanto saat itu.

Ia menambahkan, meski banjir di Sumatera Utara terlihat mencekam, wilayah yang dinilainya masih membutuhkan penanganan serius hanya tersisa di Kabupaten Tapanuli Tengah. Pernyataan tersebut memantik kritik keras, termasuk dari kalangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Ketua DPR Puan Maharani menilai Suharyanto perlu menunjukkan empati yang lebih besar dan tidak mengeluarkan pernyataan yang dapat melukai perasaan korban bencana. Menurutnya, sekecil apa pun bencana tetap menimbulkan penderitaan dan membutuhkan perhatian serius dari negara.

Dua hari berselang, Suharyanto menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya. Ia mengakui keliru dalam menilai dampak banjir Sumatera, khususnya di wilayah Tapanuli Selatan.

“(Banjir di) Tapanuli Selatan ini saya surprise begitu ya, saya tidak mengira sebesar ini. Saya mohon maaf, Pak Bupati,” kata Suharyanto saat meninjau lokasi terdampak banjir di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Minggu (30/11/2025).

Sorotan terhadap Suharyanto kembali menguat setelah beredar video di media sosial yang menampilkan dirinya berada di sebuah pusat perbelanjaan di Medan. Video yang diunggah akun Instagram @sumut_headlines itu memicu kemarahan warganet, yang menilai tindakan tersebut tidak pantas dilakukan di tengah penanganan bencana.

Menanggapi hal tersebut, Suharyanto membenarkan bahwa video itu diambil saat ia berada di Medan pada 5 Desember 2025. Ia menjelaskan, kunjungannya ke mal dilakukan untuk membeli perlengkapan sandang pribadi setelah lebih dari dua pekan berada di lapangan tanpa sempat kembali ke rumah.

“Saat itu saya sedang menyiapkan perlengkapan sandang pribadi setelah lebih dari dua minggu berada di lapangan tanpa kembali ke rumah,” ujar Suharyanto saat dikonfirmasi, Jumat (12/12/2025).

Ia menuturkan, sejak pertengahan November 2025 dirinya bersama jajaran BNPB bekerja secara nomaden dari satu lokasi bencana ke lokasi lainnya, mulai dari tanah longsor di Majenang, erupsi Gunung Semeru, hingga banjir dan longsor di tiga provinsi di Sumatera bagian utara.

“Dalam rentang waktu itu, kami bekerja hampir tanpa jeda,” katanya.

Suharyanto menilai kritik publik merupakan bentuk kepedulian dan harapan agar penanganan bencana dilakukan lebih cepat, lebih baik, dan lebih berempati. Ia menegaskan prioritas utama BNPB tetap memastikan bantuan logistik dan dukungan kemanusiaan tersalurkan dengan cepat dan tepat sasaran.

“Kami akan terus bekerja sebaik-baiknya demi keselamatan masyarakat, terutama yang terdampak bencana,” tegasnya.

Suharyanto merupakan perwira tinggi TNI Angkatan Darat berpangkat Letnan Jenderal, lulusan Akademi Militer 1989 dari kecabangan infanteri. Sebelum menjabat sebagai Kepala BNPB, ia pernah menjabat sebagai Panglima Kodam V/Brawijaya serta Sekretaris Militer Presiden Joko Widodo pada periode 2019–2020.

Artikel Lainnya