Opini

Hidup dengan Identitas Orang Lain, Inspirasi dari Film Eleanor the Great, 2025

Oleh : very - Kamis, 29/01/2026 10:24 WIB


Hidup dengan Identitas Orang Lain, Inspirasi dari Film Eleanor the Great, 2025. (Foto: Ilustrasi Brigjen Purn. MJP Hutagaol)

Oleh: Denny JA, dengan refleksi Brigjen Purn. MJP Hutagaol

Jakarta, INDONEWS.ID - Komunitas itu terpana dua kali. Pertama, ketika mereka mendengar kisah Eleanor, seorang penyintas Holocaust. Kata-katanya mengalir, rapi, penuh penghayatan, tanpa air mata, namun setiap kalimatnya menembus hati. Rumah yang dirampas, jeritan tawanan, dan wajah keluarga yang lenyap seperti foto yang perlahan memudar dalam ingatan.

Ketika Eleanor berhenti pada kisah adiknya, yang direnggut dari pelukan ibunya, seluruh ruangan terdiam. Keheningan itu berbicara lebih keras daripada kata-kata.

Namun keterpanaan kedua lebih menghentak: anak dan cucu Eleanor muncul, dan sang putri menegaskan bahwa cerita itu bukan pengalaman Eleanor sendiri, melainkan milik sahabatnya, Bessie Stern.

Eleanor telah hidup dengan identitas orang lain. Bukan untuk menipu, tetapi untuk bertahan—agar tetap bernapas, tetap memiliki arti. Sebagaimana Yakub memakai identitas Esau untuk memperoleh berkat ayahnya, Eleanor meminjam cerita Bessie agar tidak hilang di dunia yang sunyi.

Identitas pinjaman ini menjadi ruang aman di tengah kehilangan yang tak tertanggungkan.

Film ini, yang diperankan dengan hening oleh June Squibb dan disutradarai Scarlett Johansson, tidak dramatis.

Keheningan dan ruang kosong menjadi bahasa utama—seperti pelajaran yang disampaikan Plato kepada muridnya, yang menuntut ketajaman batin dan pengamatan mendalam, bukan sekadar retorika.

Sejarah manusia mengajarkan: identitas yang dipinjam bisa menyelamatkan hidup sementara, tetapi harga batinnya tinggi. Alice Miller menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain sering kehilangan diri mereka sendiri. Viktor Frankl menekankan bahwa makna sejati lahir dari tanggung jawab personal—bukan dari narasi orang lain.

Dalam konteks modern, pelajaran ini meluas dari individu ke bangsa. Indonesia, bangsa Nusantara, memiliki sejarah panjang tentang identitas kolektif yang terkadang “dipinjam” dari budaya dan sistem luar. Dari era Sriwijaya, yang menguasai jaringan ilmu dan perdagangan internasional, hingga kolonialisme Belanda, yang menguasai rantai nilai global: bangsa ini belajar, bertahan, dan kadang tersesat karena kehilangan otentisitas kepemimpinan dan hikmat.

Geopolitik abad ke-21 menuntut refleksi yang sama: negara yang meminjam narasi atau teknologi orang lain tanpa memahami esensinya hanya menjadi penonton.

Energi, pangan, dan teknologi menjadi senjata strategis global. Identitas kolektif bangsa, seperti identitas individu, harus kembali ke akar—memahami sejarah Nusantara, menguasai sumber daya dan teknologi, sekaligus membangun sistem yang tangguh.

Eleanor adalah contoh kecil, Nusantara adalah contoh besar. Keduanya mengajarkan satu hal: keberanian paling sunyi adalah keberanian menjadi diri sendiri. Tidak ada yang bisa menggantikan itu—tidak pengalaman orang lain, tidak teknologi asing, tidak narasi global.

Film ini menyentuh inti eksistensi: kita bisa bertahan hidup dengan identitas pinjaman, tetapi makna dan kepemimpinan hanya muncul ketika kita kembali ke diri sendiri—dan, dalam konteks bangsa, ketika kita menguasai sejarah, budaya, sumber daya, dan sistem dengan hikmat.

Jakarta, akhir  Januari 2026

Artikel Lainnya