Opini

MPU Nusantara, Hikmat yang Terlupa di Negeri Kaya Sumber Daya Alam

Oleh : very - Kamis, 05/02/2026 12:06 WIB


Mpu Nusantara. (Foto: Ist)

 

Oleh: Brigjen Purn. MJP Hutagaol*)

Jakarta, INDONEWS.ID - Para MPU Nusantara tidak mendidik manusia agar sekadar pintar, tetapi agar wicaksana: berakal sekaligus berbudi, cerdas sekaligus tahu batas.

Itulah sebabnya leluhur menaruh musyawarah, etika, dan laku hidup di atas ambisi pribadi dan keserakahan.

Ironisnya, hari ini kita hidup di negeri dengan SDA melimpah: tanah subur, laut luas, tambang berlimpah. Namun kesejahteraan tidak otomatis hadir, keadilan terasa timpang, dan jeritan rakyat sering kalah oleh suara elite.

Di sisi lain, ada negara-negara kecil yang nyaris tanpa SDA. Singapura yang tidak punya tambang, tidak punya ladang luas. Jepang, yang miskin SDA, rawan bencana. Korea Selatan, hampir tanpa sumber alam strategis. Israel dengan wilayah sempit, konflik berkepanjangan. Sedangkan Finlandia yang memiliki penduduk sedikit, SDA terbatas.

Anehnya, mereka justru maju, disiplin, dan berdaya saing tinggi. Apa rahasianya?

Bukan karena mereka lebih suci, bukan karena lebih religius secara simbolik. Mereka mengejar SDM unggul, menegakkan aturan, menghargai profesionalisme, dan menjalankan nilai — bukan sekadar mengucapkannya.

Mereka tidak banyak berteori agama, tetapi ayat-ayat moral dijalankan dalam tindakan: jujur, tepat waktu, bertanggung jawab, dan konsisten.

Inilah titik temu yang sering kita lupa: nilai yang mereka praktikkan, justru serupa dengan ajaran MPU Nusantara.

MPU mengajarkan: ilmu harus menjadi laku,

kuasa harus dibatasi hikmat,

pintar tanpa budi adalah awal kerusakan.

Leluhur juga paham rwa bhinneda:

baik dan jahat selalu ada.

 

Namun mereka tidak pernah mengajarkan agar kejahatan dimaklumi, kemunafikan dinormalisasi, atau kecerdikan mencuri dianggap kepintaran.

Hari ini, ketika SDA dikeruk tapi rakyat tertinggal, hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, yang lurus dianggap naif — itu bukan salah kekurangan teori. Itu tanda nilai tidak dijalankan.

Maka pertanyaannya bukan lagi mengapa negara kecil tanpa SDA bisa maju? Tetapi mengapa kita yang kaya SDA dan kaya warisan hikmat justru miskin keteladanan?

Mungkin bukan Finlandia, Jepang, atau Singapura yang harus kita kejar. Mungkin yang perlu kita hidupkan kembali adalah ajaran MPU Nusantara yang sudah lama kita hafal, tetapi jarang kita jalani.

 

Penutup

Bangsa ini tidak kekurangan ajaran, yang kita kekurangan adalah keberanian menjalankannya.

Ketika hikmat hanya tinggal teks, dan nilai berhenti di pidato, di situlah negeri kaya berubah menjadi bangsa yang kehilangan arah.

 

Brigjen Purn. MJP Hutagaol

Jakarta, Februari 2026

Artikel Lainnya