Nasional

Anggota Komisi X DPR Kecam Teror terhadap Ketua BEM UGM: Itu Pembungkaman

Oleh : Rikard Djegadut - Sabtu, 14/02/2026 11:32 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat, Hilman Mufidi, mengecam keras aksi teror yang menimpa Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto. Teror tersebut diterima Tiyo usai melontarkan kritik terhadap negara terkait dugaan kelalaian dalam penanganan kasus bunuh diri anak sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hilman menilai berbagai ancaman yang dialami Tiyo merupakan bentuk pembungkaman kebebasan berekspresi. Menurut dia, kritik yang disampaikan Tiyo adalah wujud kebebasan berpendapat yang dijamin dan dilindungi hukum.
“Tindakan teror kepada adinda Tiyo, Ketua BEM UGM, tentu sangat tidak sepatutnya dilakukan. Saya sangat menyayangkan aksi itu, itu sama saja dengan praktik pembungkaman,” kata Hilman dalam keterangan tertulis, Sabtu, 14 Februari 2026.

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa itu mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas dalang di balik teror tersebut. Ia menegaskan, kritik mahasiswa harus dihormati dan tidak boleh dijadikan alasan pembenaran bagi aksi intimidasi.

Hilman juga mengimbau semua pihak menyikapi perkembangan kasus di NTT dengan kepala dingin. Ia mengakui peristiwa tersebut memilukan dan menuntut empati bersama, namun setiap kritik atas penanganan kasus semestinya direspons secara bijak, bukan dengan ancaman.
“Perlu keterbukaan hati dan kekuatan pikir. Kritik harus disikapi dengan arif, bukan malah dengan teror,” ujarnya.

Sebelumnya, Tiyo menerima pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan dari nomor berkode Inggris, empat hari setelah BEM UGM mengkritik pemerintahan Prabowo Subianto. Selain ancaman penculikan, pesan itu juga menuduh Tiyo sebagai agen asing dan pencari panggung. “Agen asing. Jangan cari panggung jual narasi sampah,” bunyi pesan tersebut.

Tempo mengecek nomor pengirim melalui aplikasi Getcontact, namun identitas pemiliknya tidak tercantum. Tiyo juga mengaku sempat dikuntit dua orang saat berada di sebuah kedai, sehari setelah ancaman diterima. “Mereka memotret dan bergegas pergi,” kata Tiyo, Kamis, 12 Februari 2026.

Kritik BEM UGM kepada Presiden Prabowo disampaikan melalui surat terbuka kepada United Nations Children’s Fund (UNICEF) pada 6 Februari 2026. Surat itu menyoroti tragedi siswa SD di NTT yang bunuh diri karena diduga tak mampu membeli pulpen dan buku sekolah seharga kurang dari Rp10 ribu.

Dalam surat tersebut, BEM UGM menilai peristiwa itu mencerminkan kegagalan negara menjamin hak dasar anak, khususnya akses pendidikan. Mereka menilai kebijakan dan prioritas pemerintah belum berpihak pada kemanusiaan. BEM juga menyinggung ironi alokasi anggaran, mulai dari sumbangan Rp16,7 triliun untuk Board of Peace hingga proyek makan bergizi gratis senilai Rp1,2 triliun yang dinilai tidak menyentuh akar ketimpangan pendidikan dan kemiskinan struktural.

Di bagian akhir surat, BEM UGM menyampaikan kritik tajam terhadap kepemimpinan Presiden. “Dengan tegas, pesan penting kami sampaikan kepada UNICEF: help us to tell Prabowo Subianto how stupid he is as president,” kata Tiyo dalam surat tersebut.

Artikel Lainnya