Nasional

Netanyahu Dorong Proyek Pipa Minyak ke Israel, Hindari Selat Hormuz di Tengah Eskalasi Perang

Oleh : Rikard Djegadut - Jum'at, 20/03/2026 09:39 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkap ambisinya membangun jaringan pipa minyak dan gas dari Timur Tengah menuju pelabuhan Israel. Proyek tersebut dinilai penting untuk menghindari ketergantungan pada jalur strategis Selat Hormuz yang rawan ancaman.

Gagasan itu disampaikan Netanyahu sehari setelah Israel melancarkan serangan ke ladang gas utama Iran, yang memicu eskalasi tajam konflik di kawasan. Ia menilai jalur alternatif perlu disiapkan guna mengantisipasi potensi penutupan Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur utama distribusi energi global.

“Cukup buat pipa minyak dan gas yang mengarah ke barat melalui Semenanjung Arab langsung ke Israel dan pelabuhan Mediterania kami. Ini akan menghilangkan titik-titik penyumbat jalur laut,” ujar Netanyahu, seperti dikutip Reuters, Jumat (20/3/2026).

Menurutnya, pembangunan infrastruktur tersebut dapat menjadi “perubahan nyata” dalam peta energi kawasan pascaperang.

Dalam kesempatan yang sama, Netanyahu juga menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas gas South Pars di Iran dilakukan oleh Israel tanpa keterlibatan Amerika Serikat. Ia menyebut Presiden AS Donald Trump bahkan meminta Israel menahan diri dari serangan lanjutan.

Di sisi lain, Trump dikabarkan menghadapi tekanan politik domestik terkait potensi kenaikan harga energi, sehingga mendorong sekutu untuk turut menjaga keamanan jalur Selat Hormuz yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Netanyahu turut membela operasi militer Israel dengan menyatakan bahwa serangan tersebut bertujuan menghancurkan kemampuan Iran dalam memproduksi rudal balistik dan mengembangkan program nuklir.

Ia bahkan mengklaim Teheran kini tidak lagi memiliki kapasitas untuk memperkaya uranium maupun memproduksi rudal. Namun, Netanyahu tidak menyertakan bukti atas pernyataan tersebut.

Klaim itu langsung dibantah oleh Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi. Dalam pernyataannya kepada media, Grossi menegaskan bahwa Iran masih memiliki kemampuan teknis dan industri untuk melanjutkan program nuklirnya.

“Mereka memiliki kemampuan, pengetahuan, dan kapasitas industri untuk melakukannya,” ujar Grossi.

Sejak awal konflik, Israel dan sejumlah negara Teluk dilaporkan menghadapi serangan balasan berupa rudal dan drone dari Iran. Serangan tersebut turut menyasar fasilitas energi di kawasan, sehingga memicu lonjakan harga minyak dan gas global.

Rencana pembangunan pipa alternatif yang diusulkan Netanyahu pun dinilai sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mengamankan jalur distribusi energi sekaligus memperkuat posisi Israel dalam geopolitik kawasan.

Artikel Lainnya