Jakarta, INDONEWS.ID – Amerika Serikat dilaporkan tengah menyusun rencana militer untuk menghancurkan kemampuan militer Iran di kawasan Selat Hormuz jika upaya gencatan senjata antara kedua pihak gagal tercapai.
Menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, militer AS telah menyiapkan sejumlah opsi serangan. Salah satunya adalah operasi dengan fokus “penargetan dinamis” terhadap aset militer Iran di sekitar Selat Hormuz, wilayah selatan Teluk Arab, hingga Teluk Oman.
Rencana itu mencakup serangan terhadap kapal serang cepat, kapal penebar ranjau, serta berbagai aset asimetris Iran yang dinilai mampu mengganggu jalur perdagangan minyak global. Selain itu, opsi lain adalah kampanye pemboman yang lebih terfokus di sekitar Selat Hormuz.
Meski demikian, sumber lain menyebut bahwa membuka kembali jalur pelayaran di kawasan tersebut bukan perkara mudah. Iran disebut masih memiliki kemampuan militer yang signifikan, termasuk sistem rudal pertahanan serta armada kapal kecil yang dapat digunakan untuk menyerang kapal-kapal di laut.
“Kecuali Anda bisa memastikan hampir seluruh kemampuan militer Iran hancur, risiko tetap tinggi,” ujar salah satu sumber kepada CNN, Jumat (24/4).
Sumber tersebut menambahkan bahwa keputusan akhir akan sangat bergantung pada sikap Presiden AS, Donald Trump, terutama terkait sejauh mana ia bersedia mengambil risiko dalam membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Selain menargetkan aset militer, opsi lain yang dipertimbangkan adalah menyerang infrastruktur strategis Iran, termasuk fasilitas energi. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk menekan Teheran agar kembali ke meja perundingan.
AS juga disebut mempertimbangkan penargetan terhadap tokoh militer Iran yang dianggap berperan penting dalam strategi pertahanan negara tersebut, termasuk pejabat tinggi di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) seperti Ahmad Vahidi.
Seorang pejabat di Kementerian Pertahanan AS menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membahas detail operasi secara terbuka. Namun, ia memastikan bahwa berbagai opsi militer telah disiapkan dan tetap terbuka.
“Militer AS terus memberikan opsi kepada Presiden, dan semua opsi tetap tersedia,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya juga memperingatkan bahwa Washington siap melanjutkan serangan terhadap target militer Iran jika tidak tercapai kesepakatan.
Meski demikian, Trump disebut masih mengedepankan jalur diplomasi untuk menyelesaikan konflik. Namun, sejumlah sumber menegaskan bahwa perpanjangan gencatan senjata yang ada saat ini tidak bersifat tanpa batas waktu, dan operasi militer dapat kembali dilanjutkan sewaktu-waktu jika diperlukan.