Jakarta, INDONEWS.ID – Pentagon berencana mengerahkan pasukan tambahan ke kawasan Timur Tengah guna memperkuat operasi militer Amerika Serikat (AS) yang masih berlangsung melawan Iran.
Laporan media AS, termasuk The Wall Street Journal dan Reuters, menyebut satu brigade tempur dari 82nd Airborne Division akan segera dikirim. Brigade elite ini diperkirakan berjumlah sekitar 3.000 personel dan dikenal memiliki kemampuan pengerahan cepat serta spesialisasi serangan parasut.
Mengutip sumber pejabat pemerintah AS, perintah resmi pengerahan disebutkan akan dirilis dalam waktu dekat. Sementara itu, laporan lain menyebut total pasukan tambahan yang disiapkan berkisar antara 3.000 hingga 4.000 personel.
Langkah ini berpotensi semakin meningkatkan kehadiran militer AS di Timur Tengah, di tengah upaya Presiden Donald Trump yang juga tengah membuka peluang kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu.
Meski demikian, hingga kini belum ada kejelasan mengenai lokasi penempatan pasukan tambahan tersebut maupun waktu kedatangannya. Pihak militer AS juga enggan memberikan rincian lebih lanjut.
“Karena alasan keamanan operasional, kami tidak membahas pergerakan di masa depan atau yang bersifat hipotetis,” demikian pernyataan Pentagon.
Seorang pejabat AS yang dikutip Reuters menegaskan belum ada keputusan untuk mengirim pasukan darat langsung ke wilayah Iran. Namun, pengerahan ini dinilai sebagai upaya membangun kapasitas untuk kemungkinan operasi militer di masa depan.
Dalam berbagai opsi yang tengah dipertimbangkan, militer AS disebut mengkaji pengamanan Selat Hormuz hingga kemungkinan pengerahan pasukan ke Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran.
Sejak konflik meningkat pada akhir Februari, militer AS dilaporkan telah menyerang lebih dari 9.000 target di wilayah Iran. Serangan tersebut memicu aksi balasan dari Teheran yang menargetkan aset militer AS di negara-negara Teluk.
Akibatnya, sedikitnya 13 tentara AS dilaporkan tewas dan sekitar 290 lainnya mengalami luka-luka, termasuk 10 personel dengan cedera serius.
Situasi ini menandai eskalasi ketegangan yang masih terus berkembang di kawasan Timur Tengah, dengan risiko konflik yang semakin meluas jika tidak segera mereda.*