Jakarta, INDONEWS.ID – Korps Garda Revolusi Iran mengumumkan peluncuran serangan besar-besaran ke Israel yang disebut sebagai salah satu yang terbesar sejak awal eskalasi konflik. Operasi yang merupakan kelanjutan dari “Janji Sejati 4” gelombang ke-89 itu digelar sepanjang Rabu, dengan mengerahkan kombinasi rudal berat dan presisi.
Dalam pernyataannya, IRGC menyebut rudal jenis Qiam, Emad, serta Qadr multi-hulu ledak digunakan untuk menciptakan “sabuk api” yang membentang dari kawasan Ramat Gan hingga Holon, Palmachim, dan Bnei Brak di timur Tel Aviv. Serangan ini didedikasikan bagi tewasnya Laksamana Alireza Tangsiri.
Media Israel melaporkan kerusakan parah di sejumlah wilayah terdampak serta korban jiwa. Situasi mencekam membuat jutaan warga berlarian menuju tempat perlindungan, memicu kemacetan besar dan gangguan luas di berbagai kota.
Serangan terbaru ini juga berdampak signifikan di Petah Tikva, di mana sebuah bangunan dilaporkan runtuh dan kendaraan terbakar. Kerusakan berat turut dilaporkan di Rosh Haayin. Sirene peringatan berbunyi di seluruh wilayah Tel Aviv, bahkan siaran langsung televisi sempat terhenti karena awak media harus mencari perlindungan.
Juru bicara militer Israel dari Israel Defense Forces, Brigjen Effie Defrin, memperingatkan potensi serangan terkoordinasi selama periode libur Paskah Yahudi. Ia menilai intensitas serangan yang meningkat menjadi tantangan serius bagi sistem pertahanan udara Israel.
Data dari Magen David Adom menunjukkan dalam 24 jam terakhir sedikitnya 72 orang dirawat, termasuk korban luka fisik dan gangguan kecemasan. Sejak konflik meningkat lebih dari sebulan lalu, lebih dari 2.000 orang telah menjadi korban, dengan puluhan di antaranya meninggal dunia.
Situasi semakin kompleks karena serangan ini disebut berlangsung secara terkoordinasi dengan kelompok sekutu Iran di kawasan, termasuk Hezbollah di Lebanon selatan dan Ansarallah. Hezbollah dilaporkan meluncurkan roket ke posisi militer Israel di perbatasan, sementara serangan drone dari Yaman turut menargetkan aset terkait Israel.
Menurut analisis media, fase terbaru konflik menunjukkan adanya koordinasi lintas wilayah yang lebih solid dibanding sebelumnya, menciptakan tekanan simultan terhadap Israel dari berbagai arah.
Di sisi lain, pemerintah Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei, menuduh Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan sistematis terhadap infrastruktur sipil di Iran, termasuk sekolah. Ia bahkan menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk genosida.
Konflik yang dimulai sejak 28 Februari 2026 ini telah menewaskan lebih dari 1.300 orang di Iran, termasuk pemimpin tertinggi Ali Khamenei. Sebagai balasan, Iran terus melancarkan serangan ke berbagai target militer dan diplomatik AS di Timur Tengah.
Selain eskalasi militer, dampak global juga mulai terasa. Iran memperketat lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui lebih dari 20 persen pasokan minyak dunia, sehingga memicu gejolak harga energi global.
Eskalasi konflik ini meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya perang regional yang melibatkan lebih banyak negara dan aktor non-negara di kawasan Timur Tengah.*